Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Memangnya Ada Kiai yang Mendatangi Santri untuk Minta Ngajar?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
28 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Semua orang tidak punya keahlian di segala bidang keilmuan. Ahli di bidang agama, belum tentu ahli di bidang lain—termasuk seorang kiai kepada santri yang pernah jadi anak didiknya.

Fanshuri terkejut ketika tahu Kiai Kholil berencana akan mendatangi rumahnya. Senang tapi juga sedikit panik. Kedatangan Kiai Kholil ke rumah tentu jadi hal menyenangkan bagi Fanshuri, meski di sisi lain juga jadi kekhawatiran. Bagaimana kalau Kiai Kholil tidak berkenan dengan kondisi rumahnya?

Fanshuri pun jadi repot, membersihkan segala sudut ruangan di rumahnya sebelum Kiai Kholil datang. Membeli berbagai makanan dan minuman terbaik. Sampai kemudian Kiai Kholil datang betulan ke rumah Fanshuri.

“Assalamu’alaikum, Fan,” kata Kiai Kholil.

“Wa’alaikumsalam, Pak Kiai,” sambut Fanshuri sembari mencium tangan kiainya itu.

“Ada apa ya ini tumben-tumbenan Pak Kiai mau datang ke gubuk saya?” tanya Fanshuri lagi.

“Begini, Fan. Aku ini mau minta diajari untuk belajar pakai hape layar sentuh yang ukurannya gede. Apa itu namanya? Itu lho yang kayak nama obat.”

“Tablet, Pak Kiai.”

“Nah iya, tablet. Nah, kebetulan kemarin aku dibelikan sama anakku, si Mut. Katanya kalau pakai ini, aku bisa baca-baca kitab klasik juga dari sini. Nggak perlu repot-repot bawa kitab banyak-banyak kalau mau baca-baca,” kata Kiai Kholil.

Fanshuri yang mendengar itu setengah tak percaya. Jadi gonjang-ganjing soal kedatangan Kiai Kholil itu cuma perkara sepele, Kiai Kholil cuma mau belajar caranya pakai tablet.

“Waduh, Pak Kiai ini. Kenapa tidak memanggil saya saja ke rumah Pak Kiai? Kenapa malah repot-repot mendatangi rumah saya. Saya pikir Pak Kiai ada urusan penting apa, ternyata cuma mau minta diajarin cara pakai tablet,” kata Fanshuri.

Kiai Kholil terkekeh mendengar penjelasan Fanshuri.

“Loh, ya kan saya ini seorang santri yang lagi membujuk kiai-nya agar mau mengajari sesuatu. Masa iya ada seorang kiai mendatangi santrinya untuk minta ngajar. Itu kan tidak elok namanya,” kata Kiai Kholil.

Fanshuri bingung sejenak.

Iklan

“Loh, Pak Kiai ini bagaimana. Ya ini barusan seorang kiai mendatangi santrinya,” kata Fanshuri.

“Ya tidak to, Fan,” kata Kiai Kholil.

“Tidak bagaimana Pak Kiai? Jelas-jelas Kiai Kholil datang ke rumah saya. Ke rumah santrinya,” kata Fanshuri semakin bingung.

Kiai Kholil semakin terkekeh melihat ketidakpahaman Fanshuri.

“Dalam hal pakai tablet ini, saya ini orang bodoh. Sampeyan jauh lebih ahli, jauh lebih ‘alim ketimbang saya. Dalam soal keilmuan ini saya cuma calon santri sampeyan, Fan,” kata Kiai Kholil. “Ingat lho, masih calon santri,” tambah Kiai Kholil.

“Maksudnya, Pak Kiai?” tanya Fanshuri lagi.

“Ya sampeyan kan belum tentu mau mengajari saya,” kata Kiai Kholil.

“Loh, mana mungkin saya menolak Pak Kiai. Orang gila macam apa saya sampai menolak permintaan Kiai Kholil,” kata Fanshuri.

Kiai Kholil lega mendengar, “Alhamdulillah,” kata Kiai Kholil.

“Kalau begitu saya resmi jadi murid sampeyan ini, Fan. Terus sampeyan ada waktunya kapan? Biar saya menyesuaikan,” lanjut Kiai Kholil.

Fanshuri yang mendengar itu semakin kaget. Tak diduga sebelumnya jika Kiai Kholil sampai segitu bersemangatnya belajar hal sepele seperti itu sampai-sampai mau menyesuaikan jadwalnya demi Fanshuri.

“Kebalik dong Pak Kiai. Justru saya yang menyesuaikan waktunya sama Pak Kiai. Kiai Kholil bisanya kapan, biar saya yang ngikut,” kata Fanshuri.

“Waduh, kok begitu. Saya kan yang minta diajari, masa iya saya yang menentukan,” kata Kiai Kholil.

“Tapi kan Pak Kiai lebih sibuk ketimbang saya. Urusan Pak Kiai juga lebih banyak dari saya. Pengajian ke mana-mana, belum jadwal ngaji di pesantren, dan lain sebagainya. Nggak lucu dong Pak Kiai, kalau gara-gara ngikut jadwal saya, santri-santri Pak Kiai jadi terbengkalai karena urusan sepele kayak begini,” kata Fanshuri.

Kiai Kholil cuma tersenyum tipis mendengar penuturan Fanshuri.

“Fan, yang begini ini memang jadi perkara sepele bagi orang yang tahu seperti kamu, tapi jadi perkara yang sangat berharga buat orang bodoh seperti aku ini. Ini seperti aku ngajari nahwu atau shorof untuk santri-santriku. Buatku, bisa jadi yang kuajarkan hanya secuil dari yang aku tahu, tapi bagi santri-santriku itu adalah hal baru dan begitu luas buat mereka. Itu nggak ada bedanya dengan cara pakai tablet begini. Bagimu mungkin itu sepele, karena sebagai ahli di bidang teknologi macam kamu, pakai tablet itu seperti seorang ustaz diminta ngajarin baca bismillah saja. Sepele banget. Tapi bagi aku yang nggak tahu sama sekali, ini perkara yang sangat penting. Makanya itu aku minta kerelaanmu untuk menjadikan aku sebagai muridmu, Fan. Nah, salah satunya dengan mengikuti jadwal kamu ada waktu saja, jadi kamu ngajarnya bisa lebih ikhlas ke aku, jadi Insya Allah lebih manfaat nanti ilmunya,” kata Kiai Kholil.

Mendengar penjelasan itu, Fanshuri cuma bisa garuk-garuk kepala karena merasa tidak enak hati. Mana mungkin seorang kiai malah memohon-mohon diajari sesuatu orang seperti dirinya lalu dia jadi merasa berhak mengatur-atur?

“Tapi Pak Kiai…” kata Fanshuri.

“Kalau soal agama, mungkin kamu ini santriku. Namun di bidang kayak begini, aku ini yang sekarang santri. Dan sebagaimana lumrahnya santri, ya aku harus manut sama perintahmu, Fan,” kata Kiai Kholil.

“Baiklah, Pak Kiai. Nanti saya bisanya hari Ahad sekitar jam 8 malam bagaimana?” kata Fanshuri.

Bukan tanpa alasan Fanshuri menentukan jadwal itu. Ahad jam 8 malam adalah waktu kosong milik Kiai Kholil yang diketahui betul oleh Fanshuri. Karena tahu bahwa Kiai Kholil punya waktu senggang pada waktu tersebut sehingga Fanshuri yakin jadwal Kiai Kholil tidak akan terganggu sama sekali.

Kiai Kholil yang mendengarnya pun senang.

“Tapi Pak Kiai, soal tempatnya. Biar di kediaman Pak Kiai saja. Biar saya yang datang ke rumah. Pak Kiai tidak perlu repot-repot datang ke sini,” kata Fanshuri.

Mendengar itu, Kiai Kholil menolak.

“Wah, maaf ini, Fan. Saya kan yang mau minta diajari, masa iya saya merepotkan guru saya?” kata Kiai Kholil.

Fanshuri semakin tidak enak hati mendengarnya. Meski begitu Fanshrui terus memikirkan cara agar Kiai Kholil tidak semakin direpotkan.

“Baiklah, Pak Kiai,” kata Fanshuri pakai nada yang sengaja dibikin tegas, “Benar tidak kalau saya sekarang dianggap Pak Kiai sebagai guru?”

“Loh, iya benar dong, Fan. Sampeyan sekarang jadi guru saya,” kata Kiai Kholil.

“Lalu benar tidak kalau Pak Kiai akan ikut dengan semua perintah saya?” tanya Fanshuri.

“Benar, karena sampeyan guru saya, saya akan ngikut sama perintah sampeyan,” kata Kiai Kholil.

“Kalau begitu saya ada perintah. Kiai Kholil saya perintahkan untuk tidak perlu datang ke rumah saya kalau mau belajar. Biar saya saja yang datang ke kediaman Pak Kiai. Jadi bagaimana? Masih mau membantah perintah saya ini?” kata Fanshuri dengan suara tegas, tapi dengan mulut tersenyum.

Kiai Kholil terpana bingung, lalu mengangguk menuruti perintah gurunya. Keduanya pun tertawa bersama.

 

*) Diinspirasi dari kisah Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari dengan Kiai Kholil Bangkalan.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2018 oleh

Tags: ahadbangkalanguruHasyim Asy’ariilmukeilmuankiaiKiai KholilmuridnahwungajarpengajiansantrishorofTablet
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO
Pendidikan

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Aktual

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO
Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
lulusan unesa dapat beasiswa dan langsung kerja. MOJOK.CO

Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa

11 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
AstraPay berupaya memperkuat kontribusinya melalui inovasi layanan, edukasi ekosistem, serta pengembangan akses keuangan digital bagi UMKM di tengah pertumbuhan pembayaran atau transaksi digital (QRIS) MOJOK.CO

Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM

9 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.