Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
19 Maret 2026
A A
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Ilustrasi Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Soal struktur pengeluaran pekerja

Mungkin ada yang berargumen, “Ah lebay, data BPS 2024 saja bilang pengeluaran rata-rata warga Jakarta hanya mencapai Rp2,79 juta per kapita per bulan. Itu sudah mencakup sekitar Rp1,10 juta untuk makanan dan Rp1,68 untuk kebutuhan non pangan seperti perumahan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan.”

Masalahnya, itu adalah data per kapita. Yang mana, perhitungannya soal pengeluaran rata-rata per orang dalam satu rumah tangga. Jadi, biaya tempat tinggal dan kebutuhan lain seperti listrik, air, sewa, dan lain-lain ditanggung bersama. 

Misalnya, total pengeluaran satu rumah tangga yang berisi 5 orang adalah Rp14 juta per bulan. Maka, total pengeluaran tersebut dibagi lima orang. Biaya yang ditanggung per orang itulah pengeluaran per kapita.

Bayangkan jika statusnya pekerja muda, lajang yang statusnya merantau di Jakarta, maka struktur pengeluarannya jauh berbeda. Sebab hampir seluruh pengeluaran dasar agar tetap hidup tentu ditanggung sendiri dan nominalnya bisa lebih dari separuh gaji yang diterimanya.

Mempelajari komponen pengeluaran ketika kamu menerima gaji di Jakarta

Coba kita lihat dan bedah untuk tiap komponennya. Pertama, soal tempat tinggal. 

Kos sederhana yang masih layak dengan akses transportasi public mudah biasanya biaya sewanya di kisaran Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per bulan. Di bawah angka itu, tentu saja ada.

Namun, lokasi bisa lebih jauh dari stasiun atau halte. Bahkan bisa di luar kota seperti area Bekasi, Depok, Tangsel, bahkan Bogor. Semua menelan biaya tambahan, baik dari segi biaya transportasi, tenaga, dan waktu.

Kedua adalah soal makanan. Umumnya, seseorang mengeluarkan biaya sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per sekali makan. Kalau tiga kali sehari, berarti sekitar Rp75 ribu hingga Rp90 ribu per hari. 

Dalam sebulan, pengeluaran untuk makan mencapai Rp1,8 juta hingga Rp2,5 juta. Bisa hemat dengan makan di warung murah atau memasak sendiri. Tapi, pengeluaran ini akan tetap sulit ditekan jauh lebih rendah.

Ketiga, biaya transportasi. Walau ada KRL dan bus yang tarifnya relatif murah, perjalanan di Jakarta tidak bisa hanya mengandalkan itu. Namun, kamu masih akan butuh naik ojek online. Misalnya untuk menjangkau stasiun atau halte.

Tentu opsi lain ketika menggunakan kendaraan pribadi sebetulnya relatif sama. Pengeluaran untuk bahan bakar dan perawatan bisa jadi malah lebih besar. Jika menghitung secara keseluruhan, pengeluarannya di kisaran Rp 500ribu hingga Rp1 juta per bulan.

Keempat, kebutuhan komunikasi. Biayanya antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu. Mengikuti itu, ada kebutuhan lain seperti biaya laundri, air galon, sabun, dan perlengkapan kecil sehari-hari bisa mencapai Rp300 ribu per bulan.

Total, perantau yang berstatus lajang mengeluarkan biaya minimal mencapai kisaran Rp4,5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Artinya, seseorang dengan gaji Rp7 juta sudah menghabiskan hampir seluruh penghasilannya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar di Jakarta.

Jakarta adalah ibu tiri yang galak

Jakarta adalah kota besar yang menuntut manusia di dalamnya tidak hanya berhenti untuk kebutuhan dasar saja. Pengeluaran lain yang mungkin dianggap tambahan tapi penting juga muncul. Misalnya biaya untuk menjaga kewarasan. Kondisi kota yang ramai, semrawut, padat, macet, panas, bikin kehidupan seseorang dihantam banyak tekanan hingga begitu melelahkan secara mental.

Iklan

Bayangkan perjalanan panjang yang kamu jalani tiap hari, target ekstrem di pekerjaan yang tak kunjung usai, dan tekanan sosial lainnya. Ini membuat seseorang butuh pelarian untuk merawat mental dan pikiran.

Yang terasa wajar dan sederhana adalah membeli kopi setelah pulang kerja, nongkrong di kafe secara berkala, menonton film di akhir pekan, atau makan di tempat yang sedikit lebih nyaman. 

Satu kali nongkrong di kafe menghabiskan biaya Rp50 hingga Rp80 ribu. Kamu melakukannya secara berkala dalam seminggu. Maka, sebulan saja pengeluaran bisa mencapai ratusan ribu.

Selain biaya di atas, ada hal lain yang menurut saya menjadikan seseorang bergaji di bawah Rp8 juta terasa begitu nanggung. Faktor lain yang saya maksud adalah tentang waktu, keamanan, dan dukungan sosial yang sangat mempengaruhi kualitas hidup.

Ungkapan “mati” di jalan

Banyak studi yang mengungkapkan bahwa banyak pekerja di Jakarta bisa menghabiskan waktu hingga sekitar tiga jam setiap harinya untuk berangkat dan pulang kerja. Rata-rata perjalanan satu arah di Jakarta bisa menghabiskan waktu lebih dari 50 menit. 

Ini menjadikan Jakarta jadi salah satu kota dengan waktu komuter terlama di Asia. Waktu yang habis di jalan tentu adalah biaya yang harus ditanggung ketika seseorang memilih hidup di Jakarta.

Kalau mengakumulasinya selama setahun, waktu perjalanan untuk bekerja setara dengan ratusan jam. Sebetulnya, kamu bisa memanfaatkannya untuk istirahat, mengasah keterampilan dan hobi, atau sekadar bernafas tenang menikmati hidup.

Aspek keamanan juga harus menjadi pertimbangan. Banyak pekerja harus rela pulang larut malam selepas lembur atau dari luar kota. Rasa cemas karena harus melewati jalan-jalan rawan kriminal pasti ada. Belum lagi harus menghadapi lingkungan tempat tinggal yang kumuh dan padat. Tentu ini jadi ironi tersendiri.

Krusialnya dukungan sosial 

Status perantau di Jakarta membuat seseorang hidup jauh dari keluarga, saudara, atau teman. Ketika sakit melanda atau menghadapi tekanan pekerjaan, bantuan tidak bisa selalu ada. 

Hal seperti itu harus masuk dalam perhitungan dan pertimbangan ekonomi. Saat sakit ya ke rumah sakit sendiri. Ketika depresi menekan, pergi ke psikolog atau psikiater sendiri. Kemandirian, pada akhirnya, menuntut biaya yang tidak hanya materi, tapi juga emosi dan pikiran.

Setelah menjumlahkan berbagai biaya dan kesulitan di atas, muncul sebuah pertanyaan. Apakah semua itu setimpal dengan gajimu yang nanggung itu?

Inilah fenomena yang dalam teori urban economics disebut urban wage premium. Upahnya memang terlihat tinggi daripada daerah lainnya. Tapi, kamu harus membayar itu semua dengan konsekuensi bahwa seluruh gaji yang diterima bisa jadi dimakan habis oleh biaya hidup yang begitu tinggi.

BACA JUGA: Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

Jakarta akan tetap jadi magnet

Saya tak menafikan bahwa sampai kiamat, Jakarta akan selalu menjadi magnet bagi siapa saja yang ingin mencari peluang kerja yang lebih besar. Namun, untuk pekerja dengan gaji di bawah Rp8 juta, meski sudah di atas UMR, kenyataannya kehidupan di Jakarta tetap memposisikan mereka seperti berjalan di atas jembatan gantung yang lapuk. Mereka hanya bisa berjalan pelan, tanpa tahu apakah akan benar-benar sampai tujuan.

Nyatanya, mereka mengalami dilema karena tidak bisa begitu saja memutuskan untuk pulang ke daerah asal. Sebab, di sana, mereka menghadapi masalah lain yaitu keterbatasan lapangan kerja dan upah yang lebih rendah.

Dalam ekonomi, manusia rasional tentu memilih opsi yang paling aman dan menguntungkan. Tapi hidup di negara ini membuat saya belajar bahwa banyak orang harus hidup dalam pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan.

Sebab, mau bertahan berarti siap harus hidup pas-pasan di kota dengan biaya mahal. Di sisi lain, kalau pulang, berarti harus siap menghadapi sempitnya peluang kerja di daerah. Dalam kondisi ini, tentu yang terjadi bukanlah pilihan tapi keterpaksaan.

Dan mungkin benar apa yang dikatakan Thomas Piketty, seorang ekonom dari Prancis. Ketimpangan di kota besar bukan hanya tentang mereka yang kaya dan miskin, tapi tentang mereka yang punya pilihan dan yang tidak memilikinya.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu dan analisis finansial lainnya di rubrik CUAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2026 oleh

Tags: cuandki jakartagaji 5 jutagaji 8 jutagaji jakartajakartamati di jalanstandar gaji jakartaUMR Jakartaurban wage premium
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Artikel Terkait

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
anak kos ketakutan pasang gas di jogja. MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.