Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
19 Maret 2026
A A
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Ilustrasi Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mendapat gaji yang nanggung Rp8 juta di Jakarta itu nggak sepadan dengan deritanya. Namun, pulang ke kampung ya tetap miskin. Stres! 

Hampir tiga tahun sudah saya meninggalkan Jakarta. Namun, riak-riak kehidupan di sana masih terbayang. Cerita dari saudara dan teman yang masih bertahan di sana membuat bayangan saya tentang Jakarta sulit hilang. Terlebih soal para pekerja yang menghadapi realita di sana.

Satu kesamaan yang saya sadari ketika di Jakarta adalah setiap pekerja selalu memulai hari dengan cara yang sama, yaitu tergesa-gesa. Pagi belum datang, tapi ribuan orang sudah penuh di jalanan, bergerak menuju halte, stasiun, dan di pinggir jalan. Antrean manusia begitu padat terlihat di peron KRL salah satu yang terpadat di Jakarta yaitu Tebet.

Begitu kereta datang, mereka masuk bersamaan. Di dalamnya, manusia dengan mimik wajah tegang saling berdempetan satu sama lain. Tas di dada menekan orang lain, bahu dan lengan saling bersenggolan tanpa sengaja. Di situasi seperti ini, ruang pribadi telah lenyap. Yang ada hanyalah ruang untuk saling memahami.

Di halte bus, pemandangannya serupa terjadi. Mereka berimpitan satu sama lain, wajah mengantuk dengan tatapan menunduk ke arah hape yang isinya bisa jadi adalah to do list pekerjaan sehari-hari atau keributan di media sosial yang tak kunjung usai.

BACA JUGA: Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

Ekspektasi soal gaji ketika bekerja di Jakarta 

Saya kemudian berpikir. Semua kesulitan para pekerja di Jakarta akan sepadan apabila penghasilan mereka cukup besar. Masalahnya, yang sering terjadi, anggapan itu hanya berangkat dari ekspektasi. 

Realitanya, banyak pekerja di Jakarta yang mendapat gaji di bawah UMR. Bahkan, gaji kisaran Rp6 sampai Rp8 juta itu saja masih terhitung sangat nanggung. Terlalu mepet untuk melawan komposisi biaya hidup di ibu kota.

Saya coba membuat ilustrasi dengan mengacu dari data pengeluaran rumah tangga di DKI Jakarta. Jadi, Survei Biaya Hidup BPS tahun 2022 menyebutkan kalau rata-rata pengeluaran rumah tangga di DKI jakarta mencapai lebih dari Rp14 juta per bulan. Catat dulu.

Kita memang tidak bisa langsung mengartikan angka ini sebagai biaya hidup per orang. Karena pengeluaran tersebut tentu dihitung berdasarkan satu rumah tangga yang terdiri lebih dari dua orang hingga lebih.

Tapi, data tersebut memberikan gambaran bahwa Jakarta punya komposisi biaya hidup yang lebih tinggi daripada kota lainnya di Indonesia. Mungkin orang akan bilang, kalau sudah berpasangan dan sama-sama bekerja, bukankah akan terpenuhi apabila gajinya di atas Rp7 juta?

Terpenuhi jika perhitungannya untuk kebutuhan dasar agar tetap hidup. Tapi pertanyaannya, apakah cukup untuk hidup yang ideal?

Baca halaman selanjutnya: Gaji nanggung, siap-siap derita menggunung.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2026 oleh

Tags: cuandki jakartagaji 5 jutagaji 8 jutagaji jakartajakartamati di jalanstandar gaji jakartaUMR Jakartaurban wage premium
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Kaya dari Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

8 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.