Membagi pos keuangan sesuai tanggung jawab
Buat saya, perjuangan untuk beli rumah dimulai dari membagi tanggung jawab keuangan dengan suami. Proses ini sangat penting. Kami juga membicarakannya dengan jelas.
Sebelum menikah, saya sudah menjelaskan bahwa saya harus tetap bekerja karena harus membantu pendidikan adik-adik. Selain itu, suami juga menyerahkan semua urusan keuangan pada saya.
Mungkin suami saya yakin kalau saya tidak akan memakai uang itu untuk beli skincare mahal atau gonta ganti tas. Lagipula, mana cukup? Orang buat kebutuhan sehari-hari saja ngepres. Hahaha.
Setiap bulan, saya membagi sumber penghasilan sesuai pos-pos yang saya tentukan. Semua gaji suami untuk menghidupi keluarga. Misalnya, untuk uang makan, transportasi, dan kebutuhan pokok lainnya.
Sementara itu, uang saya fokus untuk menabung, modal usaha, kirim uang ke orang tua dan biaya pendidikan adik-adik sampai mereka lulus. Selain itu, uang saya juga disiapkan untuk menutup lubang kecil kalau misalnya uang kontrakan kurang dan kebutuhan mendesak lainnya.
Semuanya fleksibel kecuali uang usaha yang harus benar-benar saya jaga. Bagi saya, usaha kecil itu ibarat tanaman. Saya harus merawatnya sampai berbuah dan kelak kami menikmati hasilnya. Salah satunya menjadi sumber mewujudkan impian beli rumah.
Frugal living bukan hal yang memalukan kalau kamu punya cita-cita beli rumah
Selain memberanikan diri mencoba bisnis kecil-kecilan, kemampuan mengendalikan diri dari godaan belanja barang sekunder juga penting. Itu kalau kami mau punya tabungan demi beli rumah.
Nyatanya, punya kantor yg berdiri di dekat TP (Tunjungan Plaza) sering mengguncang iman untuk berbelanja barang branded dan njajan estetik di restoran Instagramable.
Oleh sebab itu, saya nggak masalah kalau harus mendapatkan cap terlalu ngirit sampai masuk “circle mendang-mending”. Lebih baik mendapat cibiran gara-gara hemat daripada diganggu notifikasi pinjol.
Untuk urusan domestik seperti mencuci baju dan memasak, saya bahu membahu sama suami. Sebelum punya mesin cuci, kami rela kerja sama cuci baju malam hari sepulang kerja. Tujuannya biar baju tetap bersih tanpa harus menambah budget ke laundry.
Untuk urusan makan, saya mengusahakan masak sendiri agar tetap bisa ekonomis. Pengorbanan tentu saja ada di tenaga dan waktu. Khususnya untuk belanja ke pasar, memasak, hingga mencuci piring setelahnya.
Semua itu saya lakukan agar tidak sampai terjadi “besar pasak daripada tiang”. Jika pengeluaran lebih besar, kamu tidak akan bisa menabung. Kondisi ini pasti membunuh kemungkinan untuk mewujudkan banyak impian. Salah satunya adalah beli rumah.
Setiap akan membeli sesuatu, saya selalu bertanya dulu pada diri sendiri. In beneran penting nggak? Kalau belinya nggak sekarang gimana? Semua itu saya lakukan agar saya benar-benar membeli barang sesuai dengan value-nya, bukan karena pengin apalagi sekedar fomo.
Quality time dengan anak juga demikian. Ukurannya adalah bentuk kegiatan yang berkualitas. Contohnya, daripada membeli tiket Timezone yang lenyap dalam hitungan menit, lebih baik saya mengajak anak saya ke taman kota. Kami bisa mengobrol, berlatih motorik, dan lainnya. Tentu saja pilihan ini sangat subjektif, dan saya memilihnya dengan sadar.
Ancang-ancang resign ketika utang sudah nol
Buat pasangan yang sama-sama modal dengkul seperti kami, membeli barang mewah seperti hape dan motor secara tunai masih menjadi sesuatu yang sulit. Apalagi beli rumah. Lek gak utang yo gak duwe, kira-kira begitu.
Tapi, saya upgrade hape bukan untuk gaya-gayaan. Hape baru itu saya pakai untuk media jualan online. Biar foto produknya bagus dan saya lebih gampang berkomunikasi dengan pelanggan.
Setelah dua tahun bergelut dengan cicilan hape dan tiga tahun dengan motor, kami sepakat untuk menyudahi drama cicilan ini. Setelah itu, saya hanya membeli barang jika benar-benar ada uangnya. Semua demi menguatkan tabungan beli rumah.
Bukan sok kuat, tapi saya ingin hidup lebih tenang dan minim risiko. Sudah pusing dengan banyak beban, masa iya harus tambah gila gara-gara cicilan. Dan terbukti, lepas dari utang itu membuat saya jadi hidup dengan ritme yang lebih pelan. Saya jadi makin fokus kerja tanpa dihantui notifikasi tagihan bulanan.
Saat usaha jilbab mulai berjalan dan bisa menggaji saya sendiri setara dengan gaji kantor, saya memutuskan resign. Rasa bersalah yang kerap muncul ketika meninggalkan anak balita untuk bekerja di luar sering mengusik pikiran.
Kadang sepulang kerja, di tengah macet, dengan kepala terbungkus helm dan muka tertutup masker, air mata saya tumpah. Membayangkan begitu sedikit waktu yang saya berikan untuk anak karena tersita dengan ritme kerja pagi sampai malam. Karena alasan ini juga saya akhirnya memutuskan pindah dari orang gajian menjadi ibu rumah tangga yang tetap berpenghasilan dari rumah.
Beli rumah dengan masa kredit pendek
Saya bukan anti KPR dan sejenisnya. Rumah itu bahkan saya beli juga secara kredit selama empat tahun.
Namun, ada pertimbangan yang harus dipikirkan matang-matang karena beli rumah termasuk transaksi paling besar yang pernah saya lakukan. Kalau salah langkah, bisa-bisa kami semua malah tenggelam.
Saya harus hitung dulu, apakah sekiranya tabungan mampu untuk menutup cicilan jika ternyata usaha saya sepi. Memaksa diri untuk membeli secara tunai juga tidak mungkin karena akan menguras semua tabungan.
Oleh sebab itu, saya memilih ambil kredit pendek. Saya tidak ingin cicilan terlalu lama malah menghantui. Kalau ambil KPR puluhan tahun, bisa-bisa rumah itu baru lunas setelah anak saya lulus SMA.
Belum lagi drama renovasi dan perawatan rumah yang pasti akan muncul di perjalanan. Dengan cicilan pendek, saya lebih cepat terbebas dari utang dan fokus pada pencapaian lain seperti menyiapkan dana pendidikan anak, menaikkan skala bisnis, atau renovasi rumah.
Beli rumah itu: Bidik lokasi dulu, estetika belakangan
Banyak yang buru-buru beli rumah tapi ternyata kondisi tanahnya kurang bagus. Dampaknya mulai dari tembok yang lembab, lantai mudah retak, dan masalah konstruksi lainnya. Belum lagi drama punya tetangga usil dan intoleran.
Untungnya, lokasi yang saya pilih ini pas. Tidak terlalu jauh dari rumah ibu, dekat sawah, dan jalan depan rumah sudah lebar plus berpaving. Jarak dari jalan raya hanya 200 meter saja. Lingkungan sekitar juga kebanyakan orang-orang yang sudah saya kenal baik sebelumnya.
Bagi saya, memilih lokasi rumah itu penting apalagi saya bukan crazy rich yang punya banyak rumah dan bebas ganti tempat tinggal. Bukan hanya soal kondisi tanah dan lingkungan sekitar tapi juga rencana ekonomi ke depan.
Saya memilih lokasi karena memang ke depannya saya dan keluarga ingin tinggal di desa. Sehingga begitu ada lokasi bagus dan dengan perhitungan keuangan yang matang, saya akhirnya memberanikan diri membelinya.
Bagi saya, itu sudah cukup. Perkara renovasi dan menunggu pujian tetangga hanyalah soal waktu. Setidaknya, saya sudah berusaha mengamankan rasa tenang untuk hari tua dan masa depan anak saya.
BACA JUGA: Orang Tua Kita Bisa Beli Rumah karena Negara Belum Bobrok (Banget), Bukan karena Tidak Foya-Foya!
Berjuang demi impian beli rumah itu memang berat, tapi bukan berarti tidak bisa
Menjadi generasi sandwich itu memang bukan prestasi kasat mata, layaknya pelari maraton yang berhasil menyabet juara. Tidak ada orang yang akan mengalungi kita medali emas. Tidak ada riuh tepuk tangan yang mengantar kita naik panggung penghargaan.
Jalan ini begitu sunyi dan hanya dilalui oleh manusia yang tidak haus validasi. Tapi, bukan berarti kita tidak boleh punya harapan pada diri sendiri.
Merancang masa depan juga harus menjadi prioritas agar hidup ini tidak berat sebelah. Wujud self-reward bagi generasi sandwich mungkin bisa berbeda satu sama lain, tapi intinya menuju pada satu hal: ruang untuk diri sendiri.
Dengan semua perjuangan beli rumah ini, saya bersyukur masih bisa waras dan tetap bisa mengejar impikan. Mungkin kalau nggak jadi generasi sandwich, saya nggak akan segigih ini.
Dukungan dari suami juga menjadi salah satu hal yang membuat saya jadi perempuan bebas. Bebas memilih peran, menentukan arah, dan mengejar apa yang saya impikan.
Penulis: Mega Hutagama
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba? Dan kisah inspiratif lainnya di rubrik CUAN.














