Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

Cara Bikin Gajah Geleng Kepala ala Halmahera

Adlun Fiqri oleh Adlun Fiqri
31 Juli 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemerintah Maluku Utara berencana membangun sebuah kebun binatang terbesar se-Indonesia timur di Halmahera. Kebun binatang itu akan menampung segala macam binatang-binatang endemik dari seluruh Nusantara.

Rencana tersebut disambut gembira oleh masyarakat. Pemerintah lalu melakukan survei minat. Hasilnya, gajah jadi binatang yang paling diminati. Tentu saja, karena gajah tidak ada di Indonesia timur.

Untuk kepentingan promosi dan sosialisasi, pemerintah lalu mengadakan berbagai perlombaan. Salah tiga jenis lombanya adalah menyuruh gajah berdiri, bikin gajah menggelengkan kepala, dan buat gajah menangis.

Seekor anak gajah didatangkan dari Sumatra. Peminat lombanya membeludak, mereka datang tak hanya dari Halmahera, tapi dari penjuru Indonesia lainnya. Namun, setelah seleksi, hanya dipilih tiga orang peserta lomba. Ada Safar yang datang dari Banggai, Geril dari Gorontalo dan Maruf asal Halmahera. Mereka bertiga akan berkompetisi memenangkan perlombaan ini.

Menyuruh Gajah Berdiri

Lomba pertama adalah membuat gajah berdiri. Si gajah duduk di tengah lapangan. Peserta lomba, apa pun caranya, jika berhasil membuat si gajah berdiri, ia pemenangnya.

Geril sebagai bekas pekerja di kebun binatang Ragunan Jakarta dengan sombongnya maju duluan. Ia lalu memberi berbagai macam instruksi kepada gajah. Sayang, gajahnya enggan berdiri. Saking kesalnya, ia menampar sang gajah. Geril menyerah.

Lalu si Safar, nelayan berbadan kekar ini maju setelah Geril. Ia mencoba mengangkat sang gajah, mendorongnya, bahkan meninju kaki si gajah. Tetap saja gajahnya enggan bergerak. Safar mengaku kalah.

Terakhir giliran Maruf. Pria kurus putus sekolah ini pun maju sembari berpikir. “Wah kita harus cari akal ini. Kita tra pengalaman deng gajah nih, Safar yang badan basar saja tra bisa angka nih gajah.”

“Ahaaa!” teriak Maruf menemukan ide.

Maruf lalu berjalan ke belakang si gajah, kemudian meraba lalu mencubit si gajah punya “perkakas” dengan kuku tajamnya. “Napa rasa ngana eee!”

Kaget, si gajah langsung meloncat berdiri berteriak.

Maruf pun memenangkan lomba ini.

Menyuruh Gajah Geleng Kepala

Iklan

Lomba selanjutnya adalah membuat gajah mengelengkan kepalanya. Peraturannya masih sama, semua bebas menggunakan cara apa pun.

“Ceh ini gampang saja,” kata Geril yang merasa berpengalaman sebagai instruktur kebun binatang sombong. Geril lalu maju ke depan dan memberi instruksi dan kode-kode. Sedikit pun si gajah enggan menggelengkan kepala. Bahkan walau sudah dirayu dengan kacang. Jangan harap.

“Memang e gajah pe anak ini kabaratang bagus lagi e,” ucap Geril sambil menyerah.

Lalu maju si Safar dan langsung menarik hidung si gajah kiri ke kanan. Tapi sama saja, cuma hidung, kepalanya tidak bergerak. Emosi, Safar meninju si gajah. Namun percuma, dengan kulit setebal itu gajah tidak merasa sakit. Akhirnya ia menyerah lagi.

Maruf masih duduk diam mencari akal.

Setelah beberapa saat, ia berdiri lalu berjalan menuju ke arah gajah, kemudian berbisik ke telinga gajah, “Woe, ngana mau kita cubit ngana pe gosi (“perkakas”) lagi?”

Si gajah dengan spontan menggelengkan kepalanya sambil berteriak, yang jika di-translate artinya, “Ampooong jangaaannnn!!!”

Maruf kembali memenangkan ini lomba kedua.

Membuat Gajah Menangis

Pada kompetisi terakhir ini tersisa dua peserta, yakni Maruf dan Safar. Geril memilih pulang Gorontalo karena merasa sia-sia dengan pengalamannya itu.

“Pulang jo kita, napa pe gampang-gampang tadi saja tara mempan. Apalagi mo bikin ni binatang manangis. Keode !” ucapnya pada panitia.

Safar berpikir, pada perlombaan terakhir ini ia harus memenangkannya. Dengan kekuatan yang telah disiapkan, Safar memilih akan menghajar habis-habisan si gajah sampai menangis.

Ia kemudian maju dan langsung fight. Berjurus-jurus tendangan dan pukulan ia hantamkan tanpa jeda. Rentetan pukulan pokoknya. Namun, si gajah diam saja. Jangankan menangis, bergerak pun tidak.

Sekitar 20 menit menghajar si gajah, kelelahan bermandi keringat, Safar akhirnya menyerah.

Tiba giliran Maruf. Maruf kurus lalu maju ke depan. Mendekati telinga gajah, ia lalu berbisik, “Woe, gajah. Kasiang, ngana pe nene so meninggal ….”

Mendengar kabar itu, si gajah langsung menangis tersedu-sedu ingat neneknya.

“Mampos, ngana e dapa tipu turus,” gumam Maruf sambil tertawa.

Maruf akhirnya menjadi pemenang lomba. Sejak saat itu Maruf jadi populer. Ia menjadi perbincangan hingga ke pelosok Halmahera dan diberi julukan “Si Kurus Penakluk Gajah.”

***

Antusias masyarakat menyambut pembangunan kebun binatang masuk hingga sekolah-sekolah. Salah satu sekolah di Halmahera Selatan bahkan menerapkan aturan bermain tebak-tebakan nama binatang sebelum pulang sekolah.

“Oke, anak-anak, sebelum pulang torang bermain tebak-tebakan nama binatang e.”

“Iyooo, Ibu Guru!” jawab anak-anak serentak.

“Kalo bagitu, coba tebak nama binatang dengan huruf pertama G?”

Ungke dengan cepat mengangkat tangan dan teriak, “Gajah! Gajah! Gajah, Ibu!”

“Iya, Ungke benaar. Seratus. Sekarang, sapa bisa tebak nama binatang dengan huruf pertama M?”

Semua anak diam mencari jawaban. Dua menit berlalu, anak-anak masih saja diam.

“Mungkin gajah, Ibu! Mungkin gajah, ibu!” jawab Ungke memecah keheningan, disambut tertawa oleh anak-anak.

“Ungke, ngana kaluar! Bikin tamang-tamang baribut saja,” perintah Ibu Guru sambil menenangkan anak-anak lainnya.

“Oke, anak-anak, ini yang terakhir sebelum torang samua bubar. Sapa bisa tebak nama binatang dengan huruf pertama J?”

“Jangan-jangan gajah, Ibu! jangan-jangan gajah, Ibu! Jangan-jangan gajah, Ibu!” teriak Ungke dari jendela.

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2017 oleh

Tags: gajahhalmaheramop maluku
Adlun Fiqri

Adlun Fiqri

Artikel Terkait

Cerita Pekerja Jakarta yang Dulu Jadi Pengawas Gajah di Jambi, Harus Siap Ketemu Kuntilanak dan Siaga Menahan Nafas karena Harimau
Ragam

Cerita Pekerja Jakarta yang Dulu Jadi Pengawas Gajah di Jambi, Harus Siap Ketemu Kuntilanak dan Siaga Menahan Nafas karena Harimau

16 Mei 2024
patung gajah di sleman mojok.co
Kilas

Alasan Banyak Patung Gajah di Sleman

25 Januari 2023
gajah bunting mojok.co
Kilas

Tragis! Gajah Bunting yang Mati di Bengkalis Ternyata Diracun

24 Agustus 2022
Pojokan

Mirip Permainan Suit, Gajah Ternyata Takut Lebah

28 Juli 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.