Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Kita Nggak Berhak Menyuruh Pasangan Kita Mengubah Passion dan Seleranya

Redaksi oleh Redaksi
30 Mei 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Dear, Mas Agus. Begini, Gus. Saya punya pacar, sebut saja namanya Yuni. Dia temen satu organisasi di kampus. Kami sudah pacaran sekitar dua tahun. Dia perempuan cerdas. Seorang penulis. Hanya butuh beberapa kali membaca tulisannya bagi saya untuk segera menyadari bahwa saya jatuh cinta kepadanya.

Dasar mujur, ternyata dia kok ya juga suka sama saya. Ya sudah. Jadiin lah.

Iklan

Rencananya, setelah saya lulus (semoga tahun ini), kami akan langsung menikah. Kebetulan saya sudah punya pekerjaan sebagai pengelola sebuah toko online onderdil sepeda, jadi setelah lulus nanti, Insya Allah saya sudah punya bekal buat membangun keluarga bersama Yuni.

Nah, kegelisahan yang saya rasakan ini terkait dengan kebersamaan kami selama ini.

Begini, saya punya kawan sepermainan, Wawan namanya. Saya dan Wawan ini sejak sudah berteman sejak SMP. Dan sejak SMP pula kami menjadi fans tim sepakbola kota kami. Hampir setiap dua minggu sekali saya dan Wawan pasti menyempatkan diri untuk datang ke stadion untuk menonton tim kesayangan kami.

Nah, Wawan ini punya pacar, namanya Indri. Ketika melihat hubungan antara Wawan dan Indri, saya merasa ada semacam kecemburuan. Bukan cemburu dalam arti saya suka sama Indri lho ya. Tapi cemburu karena Wawan dan Indri dalam pandangan saya selayaknya pasangan yang benar-benar sevisi. Hal yang selama ini entah kenapa tak bisa saya temukan dalam hubungan antara saya dan Yuni walau saya yakin kami saling mencintai.

Wawan dan Indri, misalnya, sama-sama suka bola. Jadi kalau nonton bola ke stadion, Wawan selalu mengajak Indri. Rasanya bahagia sekali bisa menonton bola bersama kesayangan. Hal yang tentu saja tak bisa saya rasakan sebab Yuni tak suka bola.

Wawan dan Indri juga satu nafas dalam dunia yang mereka geluti saat ini: seni. Baik Wawan maupun Indri sama-sama aktif dalam sanggar seni. Wawan aktif sebagai salah satu penulis naskah drama, sedangan Indri adalah pemainnya.

Nggak cukup di situ, dalam dunia bisnis pun, keduanya selaras. Sejauh yang saya tahu, mereka membikin semacam usaha bersama di bidang cetak offset, Kebetulan keduanya sama-sama bisa mendesain. Wawan ngelayout sedangkan Indri lebih dekat ke ilustrasi.

Rasanya enak betul melihat dua orang ini.

Nah, kecemburuan itu entah kenapa semakin membesar seiring dengan makin dekatnya tanggal pernikahan saya dan Yuni.

Saya ingin sekali bilang sama Yuni agar dia mau mencoba untuk menyukai sepakbola, atau setidaknya mencoba menyukai dunia sepeda agar bisa dekat dengan pekerjaan saya. Namun saya masih bingung bagaimana cara memulainya.

Barangkali Sampeyan ada saran, Gus.

~Indra.

Iklan

Jawab

Dear, Indra.

Langsung saja, ya. Saya nggak ingin berbasa-basi dengan curhatanmu ini.

Kamu bisa mendapatkan perempuan yang mau sama kamu saja itu sudah sangat beruntung. Nggak banyak lelaki yang bisa mendapatkan perempuan yang, setidaknya menurutmu, cerdas kayak Yuni. Jadi, kamu nggak perlu mencemburui hubungan “indah” antara kawanmu Wawan dengan Indri.

Kamu juga nggak punya hak untuk meminta Yuni agar menyukai sepakbola atau sepeda. Memangnya kamu ini siapa? Kamu itu secakep apa? Setajir apa? Sesaleh apa? Kok sampai berani-beraninya mengatur perempuan agar menyukai hal yang juga kamu sukai.

Begini. Sepasang kekasih itu nggak harus selalu punya selera yang sama. Justru adanya perbedaan itu menjadi bumbu yang bagus dalam hubungan. Apalagi kalau hubungannya level pernikahan.

Pernikahan seharusnya bisa menjadi ajang untuk saling membebaskan pasangan menyukai apa yang ingin diraih oleh pasangan. Bukannya malah saling memaksakan. Jangan egois. Bayangkan, Yuni nggak suka bola, trus kamu mengajaknya nonton bola. Betapa dia akan bosan dan tersiksa selama berada di stadion karena ia tak bisa menikmati apa pun. Apa ya kamu tega?

Wawan dan Indri boleh jadi memang punya beberapa kesamaan, namun saya yakin, ada titik-titik yang lain di mana mereka berdua punya perbedaan. Cuma kebetulan yang kamu lihat adalah yang melulu sama saja.

Jangan pernah mengatur selera kekasihmu. Kamu tidak berhak.

Biarkan perbedaan itu tetap ada dalam hubungan kalian. Justru dengan itulah kalian bisa belajar untuk mengatur toleransi, mengatur waktu, juga mengatur perasaan.

Ingat, kamu bukan siapa-siapanya Yuni. Kamu cuma pacar yang sebentar lagi menjadi suaminya. Tidak lebih. Camkan itu.

Kalau kamu ingin menikah dengan seseorang yang suka bola, suka nonton di stadion, suka sepeda dan menguasai banyak hal tentangnya, nggak usah nikah sama Yuni. Nikah saja sama dirimu sendiri. Nanti pas ijab kabul, biar kamu duduk sebelahan sama ari-arimu sendiri.

Ah, bedebah. Emosi sendiri saya jadinya.

~Agus Mulyadi

Terakhir diperbarui pada 30 Mei 2020 oleh

Tags: kekasihpasanganpassion
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Suara Bawah Tanah

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
pilot selingkuh.MOJOK.CO
Ragam

Memilih Selingkuh dengan Orang yang Lebih “Jelek” dari Pasangan Aslinya, Penyebabnya Impulsif hingga Butuh Variasi

8 Januari 2024
Uneg-uneg dari Perempuan yang Berkali-kali Menolak Dijodohkan: Bakal Jauh dari Jodoh?
Kilas

Uneg-uneg dari Perempuan yang Berkali-kali Menolak Dijodohkan: Bakal Jauh dari Jodoh?

29 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Wisata Plunyon Kalikuning Yogyakarta. MOJOK.CO

Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat

15 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Lahirkan Pembalap Kelas Dunia, Tapi Jogja Tak Punya Sirkuit Balap Permanen

15 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Tips Membuat Utang Tidak Lagi Menjadi Beban Kehidupan MOJOK.CO

Nggak Semua Utang Itu Buruk: Cara Mendeteksi Utang yang Baik dan Tidak Menjadi Beban

15 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.