Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Jatuh Cinta Sama Murid Sendiri

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
10 Desember 2016
A A
Jatuh Cinta Sama Murid Sendiri

Jatuh Cinta Sama Murid Sendiri

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Curhat

Assalamualaikum wr.wb.

Iklan

Mas Agus Mulyadi yang mulia. Sekaligus dimuliakan Allah SWT. Sebelum saya curhat, kita kenalan dulu ya Mas, biar kita mengamalkan apa yang sudah dikatakan oleh pepatah, bahwa tak kenal maka tak sayang. Tapi, kita cukup kenal saja ya Mas, jangan sampai sayang-sayangan.

Saya Zuhri, jomblo asal Jombang. Langsung saja ya Mas.

Begini, saya kenal seorang perempuan. Perempuan itu sungguh memikat hati saya. Setiap hari saya itu diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menyaksikan keindahan yang Dia titipkan pada perempuan itu. Mungkin jalaran soko kulino ya Mas, saya lantas merasakan ada getaran dalam hati ini. Dan saya dengan cepat bisa menyimpulkan bahwa perasaan itu tak lain adalah cinta.

Sialnya, perempuan itu murid saya sendiri, Mas. Murid di pesantren yang notabene sangat melarang keras untuk yang-yangan. Kalau ada santri kepergok menjalin hubungan asmara dengan lain jenis, bisa terjadi kiamat kecil bagi mereka. Mereka bisa dihukum. Kadang digundul, kadang pula disiram air comberan bahkan ada pula yang langsung di-DO.

Sehubungan saya sudah terlanjur disebut sebagai guru, maka saya mau tidak mau harus menahan perihnya rasa cinta ini Mas. Masak saya harus berterus terang kepadanya? Saya itu gurunya mas, masak mau ngajak pacaran?

Sebagai sosok yang dijadikan panutan, tak mungkin saya berbuat seperti itu. Tapi di sisi lain, saya benar-benar tidak betah kalau lama-lama memendam cinta ini. Mau mengubur dalam-dalam sepertinya sulit. Sesulit membakar kayu yang basah—kata Mas Puthut EA.

Tolong ya Mas Agus… saya minta solusi terkait Cinta Yang Tak Tepat Waktu ini—tidak memakai ‘Pernah’.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Jawab

Waalaikumussalam wr wb

Dear mas Zuhri yang fangkeh

Membaca curhatan sampeyan ini, saya kok ya langsung teringat sama kisah asmaranya Bung Karno, yang dulu jatuh cinta sama Fatmawati, muridnya sendiri sewaktu putra sang Fajar mengajar di salah satu sekolah Muhammadiyah di Bengkulu. Kisah asmara yang boleh dibilang cukup mulus, sebab kelak, Fatmawati akhirnya menjadi istri bung Karno.

Iklan

Yah, kisah asmara antara guru dan murid memang kisah yang cukup umum. Banyak murid yang kemudian jatuh hati sama gurunya, pun sebaliknya, tak sedikit guru yang tertarik kepada muridnya.

Kisah yang umum itulah yang mungkin menjadi salah satu sebab kenapa saya dulu tak pernah mau menjadi guru –saya cenderung lebih memilih profesi tukang gesut sablon atau tukang jaga distro, selain tanggung jawab moralnya terlalu besar, saya juga merasa guru bukan profesi yang cocok untuk saya, sebab, kalau jadi guru, saya bawaanya kok pengin jatuh cinta melulu sama murid sendiri, kadang kalau sudah kebablasan, biasanya merembet sampai ke wali murid-nya juga.

Walau begitu, saya pernah lho, jadi guru les selama beberapa waktu. Dan seperti yang sampeyan alami, saya juga pernah jatuh hati sama murid-murid saya.

Lantas apa yang saya lakukan? Yang saya lakukan adalah apa yang juga dilakukan oleh Bung Karno dulu: mencoba memperjuangkan perasaan.

Saya berusaha mendekati si murid. Saya bribik, saya sepik. Tentu dengan bribik-an sebisanya, semampunya. Kadang saya ajak ketemuan juga, saya ajak makan, saya ajak nonton. Selebihnya tidak usah saya ceritakan lah ya. Ini kan curhatan sampeyan, bukan curhatan saya.

Nah, mas Zuhri, tentu saya tak bisa menyamakan lingkup kegiatan belajar-mengajar yang saya alami dengan lingkup kegiatan belajar-mengajar sampeyan. Sebab sampeyan mengajar di pesantren, lingkungan yang mungkin menjadikan hubungan asmara sebagai salah satu “pantangan”, terlebih jika itu antara guru dan murid (Lagian kenapa harus suka sama murid sih? Kenapa nggak sama sesama guru saja? Jadi biar gampang ngurusnya.)

Menurut saya, sampeyan berada di posisi yang sangat-sangat menguntungkan. Saya tak punya banyak saran kecuali satu: “Ungkapkan perasaan sampeyan kepada si murid, secepat mungkin, sesegera mungkin”

Ya, itu. Tak ada saran lain.

Kenapa saya menyarankan hal itu? Sebab insting saya mengatakan, sampeyan bakal langsung ditolak sama si murid.

Kenapa ditolak? Sebab insting saya mengatakan, sampeyan adalah lelaki yang kurang menarik untuk dijadikan kekasih (saya bisa melihat itu dari gaya tulisan sampeyan di surat curhat ini).

Kenapa menurut saya sampeyan bukan lelaki yang menarik dijadikan kekasih? Sebab insting saya mengatakan, sampeyan tidak punya aura seperti yang dimiliki oleh Bung Karno ataupun Agus Mulyadi.

Nah, kalau sampeyan sudah ditolak, maka otomatis, sampeyan bakal bisa langsung terbebas dari perasaan sampeyan. Sampeyan bakal plong, tidak bimbang, tidak gundah, dan yang terpenting, tidak perlu memendam cinta dalam-dalam (Lha wong sudah ditolak, mau diapakan lagi?)

Saya pikir, ini solusi yang bagus. Sampeyan terbebas dari beban perasaan cinta yang terpendam. Si murid terselamatkan masa depannya karena nggak jadi kekasih sampeyan. Dan pesantren pun tak perlu menyiram salah satu santriwatinya dengan air comberan.

Semua senang, semua happy.

Ya Tuhan, saya kok baru sadar kalau saya ternyata sebijak ini.

Disclaimer: #CurhatMojok menerima kiriman curhat asmara pembaca yang akan dijawab oleh dua redaktur Mojok, Agus Mulyadi dan Cik Prim. Tayang tiap malam Minggu pukul 19.00, setiap curhat yang dimuat akan mendapat bingkisan menarik. Kirimkan curhatmu ke [email protected] dengan subject “Curhat Mojok”.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2021 oleh

Tags: gurujatuh cintamuridPesantrensantri
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO
Pendidikan

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.