Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ini Dia Rahasia Indomie Burjo Lebih Enak dari Bikinan Sendiri

Badrul Arifin oleh Badrul Arifin
27 November 2017
A A
Ini Dia Rahasia Indomie Burjo Lebih Enak dari Bikinan Sendiri

Indomie_Aa_Burjo_Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Indomie burjo konon lebih enak dibandingkan dengan balikan sama mantan sekalipun.

Sebagai mahasiswa kere yang sering nongki di burjo, saya kok tertarik menulis tentang seluk beluk perburjoan. Apalagi redaksi Mojok kerap menerbitkan pelbagai artikel yang berkaitan dengan burjo, seperti artikel “Ada Nunuk Nuraini dalam Setiap Porsi Indomiemu” atau artikel “Kolonialisasi Warung Burjo di Tanah Mataram: Sebuah Teori Konspirasi”.

Setelah membacanya, saya merasa kedua artikel tersebut terlalu meromantisir burjo sebagai fenomena unik. Berbekal observasi, saya mencoba mengangkat fakta-fakta terselubung di balik gurita bisnis waralaba perburjoan (warmindo) di Jogja.

Hampir semua burjo di Jogja buka 24 jam nonstop. Di sini kita tak akan sulit menemukan burjo, bisa ditemui hamper di setiap gang dengan orang-orang Sunda ini yang biasa dipanggil aa’ dan teteh sebagai penjaganya.

Burjo alias warmindo bisa dibilang salah satu tempat makan dan nongkrong favorit mahasiswa dari pelbagai kalangan, dari yang hedon sampai kalangan kere seperti saya. Popularitas burjo konon disebabkan oleh rasa Indomie bikinan aa’ dan teteh yang entah mengapa jauh lebih enak disbanding bikinan kita sendiri. Beberapa orang juga percaya, burjo hadir di Jogja bersamaan dengan datangnya Kiai Faizi ke kota ini.

Mengapa Indomie buatan burjo bisa begitu enak dan berbeda dari buatan kita?

Jawabannya penuh spekulasi. Ada yang percaya bahwa tangan-tangan aa’ dan teteh burjo memiliki daya magis. Ada pula yang percaya, Indomie yang dijual berbeda dengan Indomie kebanyakan. Sebagian lain percaya Indomie burjo dimasak dengan rasa cinta.

Mari kita coba bongkar masalah ini dengan mengurai sosok aa’ dan teteh di balik kelezatan olahan Indomie burjo.

Banyak yang mengira aa’ dan teteh yang melayani pelanggan burjo adalah pemilik burjo itu sendiri. Ternyata itu salah besar. Relasi kerja di burjo adalah relasi burjoasi-proletar. Burjo bukan milik aa’ dan teteh yang menjaga warung, mereka hanyalah kaum proletar yang bekerja kepada bos mereka yang tinggal di Kuningan sono. Memang masih ada burjo yang dimiliki penjaganya sendiri, tetapi jumlahnya hanya hitungan jari.

Rasa Indomie yang enak konon diracik dari eksploitasi relasi ini. Keringat dan air mata aa’ dan teteh burjo ketika memasak mi adalah resep kunci yang tak bisa kita hadirkan di dapur kita sendiri.

Ketika sudah menyinggung relasi borjuasi-proletar, wajar jika ada pertanyaan, berapa sih gaji aa’ dan teteh itu sebagai buruh burjo?

Setelah bertanya langsung, saya mendapat info bahwa gaji mereka berkisar dari Rp8—10 juta. Wow, fantastis!

Eits, tunggu dulu. Itu bukan gaji per bulan lho ya, tapi per tahun. iya, per tahun! Dan gaji tersebut hanya bisa dicairkan sebelum musik mudik Lebaran tiba. Ya, lumayalah buat beli baju baru meski harus nunggu belasan bulan dulu baru bisa megang duit cash.

Jika gajinya hanya cair setahun sekali, lantas dari mana mereka bisa memenuhi kebutuhan makan tiap harinya?

Iklan

Tak usah khawatir, bos mereka masih baik kok. Tiap hari mereka dibebaskan makan, minum, dan ambil rokok di burjo. Gratis, tis, tis. Baik banget kan bosnya… sudah dikasih gaji puluhan juta, dikasih romantis (rokok-makan gratis) pula.

Nah, karena nyaris setiap hari makan Indomie, mereka bisa melakukan eksplorasi dan mengembangkan cita rasa mi dengan maksimal. Sama seperti jika kamu makan nasi setiap hari, kamu akan tahu, nasi akan enak dimakan dengan apa. Aa’ burjo akan menemukan jalan keluar untuk bisa membuat makanan mereka lebih enak.

Dengan demikian, mi yang Anda makan itu merupakan produk survival of the fittest dari aa’ dan teteh burjo.

Bagi yang kerap makan di burjo tentu ngeh jika ada waktu-waktu tertentu kita bertemu dengan aa’ yang ini dan ada waktu tertentu kita bertemu dengan teteh yang itu. Ya, mereka memang bekerja dengan sistem sif.

Di burjo ada dua sif, pagi dan malam. Sif pagi dimulai dari terbitnya fajar (sekitar pukul 5.00) hingga fajar terbenam (sekitar pukul 17.00), sedangkan sif malam berlaku sebaliknya. Artinya, tiap sif bekerja sepanjang 12 jam. Durasi jam kerja tersebut jauh di atas jam kerja normal (8 jam/hari).

Lalu, liburnya kapan?

Tidak ada kata libur dalam kamus perburjoan. Dan justru jam kerja yang panjang membuat totalitas mereka untuk menyempurnakan keahlian memasak Indomie makin paripurna. Ya iyalah, kerja terus. Aa’ dan teteh burjo gitu loh, kan terkenal pekerja keras nan setrong. Nggak kayak buruh-buruh pabrik sono yang dikit-dikit minta jam kerja dikurangin, dikit-dikit minta uang lembur. Buruh lemah!

Lagian libur juga buat apa sih. Mereka kan jauh dari rumah. Rata-rata penjaga burjo datang dari Kuningan, dengan latar belakang keluarga tidak mampu dan pendidikan SD atau SMP (beberapa lulusan SMA). Makin terasa betapa mulia hati bos burjo yang ikhlas mempekerjakan orang-orang tanpa perlu syarat CV lah, pengalaman kerja lah, ijazah lah, atau SKCK.

Ya, memang sih aa’ dan teteh burjo bisa aja jalan-jalan sama teman seburjonya ke Amplaz atau nyari baju bekas di Sekaten atau nyoba odong-odong di Alkid atau menonton anak-anak alay di titik 0 km yang parkirnya 5 ribu per motor itu.

Tapi, jangankan jalan-jalan, sebenarnya bersilaturahmi ke burjo tetangga saja sulit bagi mereka karena tak ada libur. Hanya saja lihat sisi positifnya: aa’ dan teteh jadi bisa tetap fokus berkompetisi mengembangkan mi terbaik antarburjo kan?

Poin terakhir yang memberi sumbangsih pada kelezatan Indomie burjo adalah fasilitas hidup aa’ dan teteh di burjo tersebut. Dalam warung yang berukuran tidak besar, mereka hanya disediakan satu kamar ukuran mini nan ekonomis: 2 x 3 meter saja. Dan dalam satu kamar itu, mereka harus berbagi dengan kawan-kawan mereka sesama buruh burjo.

Bagi kelas menengah, fasilitas seperti ini dianggap tidak manusiawi. Bagaimana mungkin kamar sesempit itu ditempati lebih dari satu orang? Tapi inilah jalan ninja mereka. Sebab, cara terbaik memperoleh kemampuan tertinggi adalah dengan melewati jalan penderitaan.

Itulah sejumlah rahasia mengapa Indomie burjo enak sekali.

Emang SJW (social justice warrior) di mana-mana cuma bisa ngomong doang (hih!), sementara aa’ dan teteh burjo akan tetap memasang raut happy kala melayani kita, tetap asyik kala diajak bercanda, kadang sotoy kala diajak bercerita, dan pastinya tetap satu suara untuk urusan Persib nu aing!

Terakhir diperbarui pada 25 Juli 2018 oleh

Tags: Aa' BurjoburjoIndomieIndomie GorengJogjaYogyakarta
Badrul Arifin

Badrul Arifin

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co
Pojokan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Campus Leagu: kompetisi olahraga kampus untuk masa depan atlet mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial

22 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.