MOJOK.COSeorang perempuan menceritakan kisah—nggak rumit-rumit amat—cintanya, yang bermula dari match di Tinder.

 

TANYA

Halo Mojok yang baik budinya…

Perkenalkan saya Mirna di Kota X. Jadi gini, saya baru saja tamat SMA tahun kemarin. Ketika libur sebelum masuk kuliah, saya mengenal aplikasi bernama Tinder. Bermula dari rasa penasaran saya terhadap drama-drama yang dialami orang-orang yang kenal dari aplikasi ini, saya kosongkan memori HP saya beberapa MB hanya untuk bisa download aplikasi ini.

Sebenarnya dari SMP, saya sudah suka chatting sama orang di internet, tapi anonim. Nah pas di tinder ini kok ya harus login Facebook segala, upload foto lah. Meski saya orangnya insecure banget, namun rasa penasaran saya jauh lebih besar dibanding rasa ragu. Yasudah, saya upload foto saya. Sebenarnya, saya nggak muluk-muluk, swipe kanan lihatnya dari institusi saja. Kebetulan institusi pendidikan yang saya pasang ini cukup bergengsilah kalau dalam pandangan masyarakat.

Setelah itu, saya ternyata match sama kakak satu tingkat di atas saya. Kebetulan saya lagi pengin banget nonton dan ternyata dia juga. Akhirnya ketemu lah kita. Dengan muka saya yang jerawatan parah, dia menghampiri. Badannya tinggi, guanteng. Saya merasa minder. Setelah acara nonton itu, kami nggak pernah saling chat atau berhubungan lagi.

Kemudian saya kenal lagi, dengan kakak tingkat juga. Orang ini biasa aja dan jerawatan kaya saya waktu itu. Jadi, saya nggak minder lah. Tapi, pertama kenal dia malah komentar, “Itu jidatnya nggak gatel?”

Memang waktu itu saya lagi jerawatan tipe bruntusan jadi dia ngiranya gatel gitu kali ya, tapi ya tetep kalau udah bahas-bahas masalah jerawat, saya langsung tersinggung. Saya pikir, apa orang ini nggak nyadar, kalau dirinya sendiri juga jerawatan. Kok ya, ngomentarin jerawat orang lain.

Meski dia cukup menyebalkan, namun ternyata kami awet banget. Kami sudah dekat sekitar 7 bulan dengan frekuensi bertemu sebanyak 15 kali—dan saya inget kapan dan ngapain saja. Saya yang takut jatuh cinta karena nggak mau pacaran kalau memang belum serius mau menikah, dibuat nyaman terus-terusan.

Sebenarnya, Desember lalu saya sudah pengin udahin semua, karena saya nggak mau makin nyaman dan baper di saat kami masih kuliah gini, toh masih banyak juga yang mau dikejar. Akhirnya, saya bilang kalau saya suka dia dan saya malas ngerasain hal kayak begini saat ini. Lantas, tanpa menunggu respon darinya, saya block dia.

Namun, karena dia masih bingung, akhirnya dia menghubungi saya melalui media sosial yang lain, tanpa merespon soal pengakuan saya ketika itu. Saya tanya ke dia, kenapa dia mau jalan terus sama saya, padahal cuma ngabisin bensin, waktu, dan tenaga.

Dia bilang, dia bosen saja. Nangislah saya waktu itu. Saya bilang, kalau sekedar bosen cari aja cewek-cewek penghibur, saya nggak mau kalau ajdi friends with benefit aja. Lalu di jawab, “Namanya juga temen, ya pasti ada benefit-nya, kalau nggak ada, ya buat apa temenan.” Setelah dia bilang itu, langsung saya block.

Eh ternyata, block itu hanya bertahan 2 atau 3 hari. Setelah itu, saya chat dia lagi, kayak nggak ada apa-apa, lalu kami pun saling meminta maaf. Saya pikir, bener juga apa yang dia bilang, kalau temenan nggak ada manfaatnya mah ngapain temenan.

Saya pun bertekad untuk nggak baper-baper lagi. Namun makin ke sini, ternyata saya baper lagi. Kami masih sering jalan bareng dan saya makin nyaman. Saya bener-bener nggak ngerti perasaan dia yang sebenarnya. Saya cuma nggak pengin jatuh cinta pada orang yang salah. Saya harus gimana, Jok?

 

JAWAB

Hai Mirna, yang galau-galau basah dalam menjalani lika-liku cinta. Dari ulasan panjangmu itu, sebetulnya masalahmu sederhana: kamu baper pada orang yang belum tentu baper balik padamu. Eh, maaf, bukan maksud saya untuk menyepelekan masalahmu. Saya hanya berusaha untuk menyederhanakan apa yang mbulet di pikiranmu karena virus-virus cinta.

Di awal ceritamu, jujur saya agak menduga-duga apakah masalah utamamu adalah ketidakpercayaan diri karena memiliki jerawat? Oh, untungnya tidak. Meskipun kelihatannya rasa tidak percaya diri itu masih ada, sepertinya kamu berhasil melewatinya dengan kedekatanmu selama 7 bulan terakhir bersama—sebut saja—Mas Adam, yang bisa menerima muka berjerawatmu itu karena dia juga jerawatan.

Sesungguhnya, muka saya pun juga tipe yang mudah berjewarat dan sering membuat saya kehilangan kepercayaan diri. Fyi, mungkin ini juga bisa jadi tips buat kamu, saya mencoba mengatakan pada diri saya sendiri, bahwa perkara jerawat ini bukan hanya masalah nggak enak dilihat, namun juga ada yang kotor dalam darah kita. Tugas kita adalah berusaha untuk menjaga gaya hidup dengan sebaik mungkin. Bukan berusaha menutupinya menggunakan masker medis, foundation atau pupur yang tebal.

Mirna, sebetulnya saya gemes dengan ceritamu yang sok-sokan nggak pengin dekat dengan orang lain, karena nggak mau jatuh cinta ataupun baper ke orang lain ketika masih kuliah dan pengin fokus kuliah dan meraih cita-cita aja.

Namun, kamu justru semacam minta kejelasan hubungan ke Mas Adam. Lantas ketika Mas Adam memang—dengan jelas—menganggapmu sebagai teman dekat, kamu nangis dan pengin nge-block aja. Hadeeeh, Mirna… Mirna.

Kalau kamu memang baper sama dia, yaudah diakuin aja kalau baper. Nggak usahlah kamu sok-sokan cari-cari alasan lainnya yang hanya membohongi dirimu sendiri. Terus, pakai cara ngancem dengan nge-block dia lagi.

Sebenernya, kamu ini pengin diperhatiin sama Mas Adam, kan? Terus, ngetes dia—apakah kamu penting dihidupnya—pakai jurus pergi untuk dicari, kan? Dengan cara nge-block dia, biar si Mas Adam ini nyariin kamu, kan? Ah, dasar perempuan. Sama aja kayak saya.

Percayalah Mirna, membohongi diri sendiri, itu sama saja dengan menyakiti dirimu sendiri.

Lagian, kalau kamu memang pengin fokus kuliah dan mengejar mimpi terlebih dahulu, KENAPA KAMU DOWNLOAD TINDER, TRUS MAU-MAU AJA DIAJAK MEET UP?!!!11!!! Ah, jadi emosi aing.

Begini, Mirna, saya rasa kamu sudah cukup dewasa, dan harusnya kamu sadar sejak awal. Kalau kamu sudah memutuskan untuk download Tinder lantas mau diajak meet up sama orang yang match sama kamu, itu artinya kamu juga siap dengan segala konsekuensi di dalamnya, termasuk risiko dirundung perasaan terlalu nyaman dan baper yang tak berkesudahan.

Bukan sesuatu yang aneh dan salah, jika pada akhirnya kamu berharap padanya, setelah begitu banyak waktu kalian lewati bersama—tanpa status yang jelas. Mirna, jika kamu memang merasa gemes dengan ketidakjelasan hubungan ini, coba lakukan ini dan ambil sebuah risiko lagi.

Katakan pada dia bahwa, kamu merasa sangat nyaman bersamanya dan ingin hubungan kalian tidak sekedar pertemanan semata. Katakan bahwa, kamu ingin dianggap lebih dari teman. Kamu menuntut kenaikan status dalam hubungan kalian. Tentu saja, kamu harus siap dengan beberapa konsekuensi dari pernyataan ini.

Pertama, dia akan menyetujui proposalmu itu. Lalu kalian, live happily ever after. Sampai masalah lainnya muncul.

Kedua, dia tetep pengin kalian berteman baik seperti sekarang. Nggak kurang dan nggak lebih. Kalau kamu tidak setuju dengan hal ini, yaudah ambil risiko dengan mengancamnya, lebih baik kamu pergi jika hubungan kalian tanpa ada kenaikan status. Hal ini, bisa jadi dia memilih bersamamu atau memilih tak apa kamu pergi.

Ketiga, sebelum kamu mengancamnya, ternyata dia memilih kabur duluan dengan keagresifanmu.

Ya, kami hanya bisa memberikan kamu pertimbangan saja, Mirna. Perihal kepastian hubungan kalian, ya kami serahkan ke kamu sama Mas Adam lah. Nggak mungkin juga kan Mojok tiba-tiba mengkomodasi pernyataan cintamu seperti reality show semacam Katakan Cinta. Kalau memang itu keinginanmu, mohon maaf, Mirna, kamu kirim ke alamat email yang salah.

Loading...



No more articles