Jika sampai hari ini, anda masih doyan sama Reality Show ala-ala Katakan Putus (yang jalan ceritanya bulat utuh, dialognya serba teratur, dan blocking pemainnya nyaris sempurna), maka ada beberapa kesimpulan: anda terlalu lelah untuk sekedar mengangkat remote tivi, tak punya opsi hiburan lain sebaik yang sedang anda tonton, di luar sedang hujan deras dan banjir bandang, atau memang, anda menemukan diri anda yang sebenarnya lewat dramaturgi semacam itu.

Selama anda punya alasan untuk menonton Reality Show tersebut, tak masalah. Tapi kalau ternyata anda tidak punya alasan, segeralah tentukan sikap, beri acara itu alasan untuk ditonton agar anda tidak apolitis. Apalagi Presiden Amerika ke-30, Calvin Coolidge, pernah mengatakan, “Hal yang benar untuk dilakukan tidak pernah membutuhkan alasan apa pun; ia akan selalu sederhana dan langsung”.

Jika berangkat dari perkataan Calvin Coolidge itu, jangan diartikan bahwa hal yang sedang anda tonton adalah acara tidak benar. Itu gegabah namanya. Karena secara sekilas, tak ada yang salah dengan acara itu, terlebih menurut pepatah Antartika kuno, pada dasarnya semua acara televisi adalah baik selama kita bisa mengambil hikmah setelahnya. Iya, Hikmah, seseorang yang selalu dipaksakan untuk muncul di akhir cerita di setiap wajah kehidupan.

Pada episode yang saya tonton seminggu yang lalu, Realilty Show Katakan Putus mengambil latar di Semarang, kota tempat saya tumbuh besar dan berproses. Ini menjadi semacam beban moral bagi saya untuk memaksakan diri menonton episode ini.

Pada acara itu, tim Reality Show menemani pelapor, sebut saja namanya Rahayu, untuk memata-matai pacar Rahayu yang kebetulan berprofesi sebagai penjual lumpia, sebut saja Rebung. Si Rebung ini sedang dicurigai selingkuh oleh Rahayu karena urusan sepele, Rebung tak pernah mengangkat telepon dari Rahayu.

Rahayu seperti umumnya cewek-cewek yang pernah tampil dalam acara ini sebelumnya. Ia cewek nelangsa yang tak suka pada kehadiran cewek lain dalam hubungannya dengan Rebung. Ia tak suka pada keberadaan pihak ketiga, tapi ketika ia memata-matai Rebung, ia mengharapkan dukungan dan kerjasama dari semua pihak. Sungguh, wisata perasaan yang menarik.

Namanya juga mengambil setting di Semarang, maka tak heran jika episode menceritakan berulang-ulang tentang lumpia, makanan favorit saya. Rasanya saya jadi punya lebih banyak alasan untuk menonton episode ini sampai selesai, apalagi, beberapa nomor Sheila On 7 kesukaan saya pun diputar di saat-saat kritis, seperti Berhenti Berharap dan Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Jadi, episode kali itu adalah episode terbaik sepanjang yang saya ikuti.

Baca juga:  Betah di Kampus atau Lulus tapi Nganggur?

Dan bajangkrek setan alas, semakin saya mengikuti, kok jebul semakin menarik saja.

Dan betapa saya baru ngeh, bahwa acara yang ternyata menarik ini rupanya tak luput dari teguran KPI. Menurut KPI, program dengan muatan konflik pribadi ini tidak layak untuk ditayangkan karena berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak dan remaja. Ada pelanggaran atas norma kesopanan, penghormatan terhadap hak privasi, dan perlindungan anak dan remaja.

Memang agaknya wajar kalau KPI mengirim teguran. Karena sering kali, acara Katakan Putus ini memainkan mental banyak orang dengan kelewat batas. Tentu banyak masyarakat yang melaporkan keluhan pada KPI sebelum teguran itu dilayangkan. Masyarakat memang punya hak untuk itu, dan hak itu dilindungi oleh konstitusi. Hak memelihara kewarasan namanya.

Atau barangkali anda memang tak peduli dengan teguran KPI dan kekhawatiran banyak orang tua, sehingga anda memutuskan untuk tetap menonton acara ini apapun yang terjadi. Ya boleh saja, asalkan hati-hati dengan cara anda menonton. bisa-bisa, acara ini malah jadi acuan cara berpikir anda perihal cinta, itu bahayanya.

Nah, untuk alasan itulah, Saya menyusun beberapa saran yang mungkin bisa anda terapkan agar Reality Show semacam Katakan Putus bisa menjadi penuh makna di mata anda.

Setel dan Dengarkan, Tak Usah Ditonton

Walau tak sehat ditonton, Reality Show ini adalah sarana yang tepat untuk melatih kepekaan. Cobalah, keraskan volume televisi anda, ikuti acara tersebut sambil lalu. Anda bisa menyetelnya sambil menyapu rumah, atau ngelempiti pakaian, atau apa saja. Ibu saya sering mengiris-iris bumbu masak di dapur sambil mendengarkan televisi, acara Katakan Putus ini beberapa kali beliau ikuti dengan cara tersebut.

Sering saya mendengar Ibu menggumam dari dapur, “Yaa Allah, anak muda!!”, atau andalannya, “Astagfirullah, cewek kok teriak-teriak gitu yaa?”. Sering juga beliau lari dari dapur menuju ke depan televisi sembari berteriak penuh tanya, “Yongalah Gusti, cowoknya tadi dikampleng toh??”, dan banyak lagi.

Memang di acara itu, banyak hal nggegirisi yang memaksa penonton untuk menaruh iba dan rasa jengkel. Tapi untuk alasan melatih olah rasa, beberapa kali saya mengikuti spontanitas ibu saya. Sambil menyapu, saya kadang mengeluarkan, “Emmh, modar kowe konangan!!”, atau, “Nyohh kowe, panganen kuwi!!”, ketika si cowok sudah jadi munyuk ketulup di akhir acara. Puas saja rasanya bisa misuh di waktu yang tepat dan pada tempatnya. Its all about timing, and precision….

Setel, Ikuti, Tulis Quote yang Ada

Pada episode Rebung dan Rahayu kemarin, kebetulan saja cerita cinta mereka tidak happy ending. Di akhir acara sang host perempuan berkata sesuatu sambil memeluk Rahayu yang sedang tersedu. Kurang lebih ia berkata, “Udah, dia udah bukan sapa sapa Loe, dia sekarang menjadi bagian yang tidak penting dari hidup Loe”. Sungguh dewasa, bukan!!.

Baca juga:  Memahami Brexit untuk Orang Awam

Host laki-lakinya juga tak kalah bijak, ia mengambil sebuah kesimpulan dari kisah Rahayu untuk kemudian memberi kita nasehat, “Kalau Tuhan mengambil seseorang dari Loe, bukan berarti Tuhan tidak sayang sama Loe. Tuhan hanya sedang berencana memberi seseorang yang lebih baik buat Loe guys!!”.

Ya, seperti kebanyakan acara tentang cinta, Reality Show ini juga selalu menyelipkan quote-quote menarik. Meski tak pernah menyentuh kedalaman makna sedalam quote cinta milik Cu Pat Kai, quote dari acara ini masih elegan dipakai sebagai pemanis beranda media sosial kita. Tapi kalau anda sudah lama mengikuti status-status Tere Liye, opsi ini bisa ditinggal.

Setel, kemudian Mute Televisi

Ini sedikit berbeda dari saran-saran sebelumnya, cukup dengan nge-mute televisi, Reality Show ini telah menjadi sarana anda melatih diri, kalau-kalau anda punya niat untuk menjadi talent pada acara cinta ini. Anda bisa mengajak adek, kakak, sokhabat karib, atau pacar untuk menciptakan dialokh-dialokh dengan versi yang lebih variatif. Kalau tak ada yang bisa diajak, ya sana, dialog sama piring kotor. Hehehew…

Dialog sendiri juga tak apa kok (untuk kemudian, untuk alasan kepantasan, kita sebut saja monolog), tak ada jua yang melarang anda untuk one man show. Itung-itung, latihan basa-basi biar esok tidak mati garing pas anda cukuran di babershop, atau kalau anda berkesempatan duduk bersebelahan dengan tipe cowok/cewek ideal di commuter line. Lumayan kan, anda bisa ikut disebut sebagai pejuang kemanusiaan dengan mulai melatih diri untuk mencintai obrolan ringan, di saat banyak manusia bersikap robotik seperti sekarang.

Dengan mute, anda bisa membahas apa saja yang tak melulu perkara cinta. Anda bisa selipkan diskusi-diskusi kecil tentang filsafat ketuhanan, transfer pemain liga Inggris, kiat-kiat merawat kelinci, rasan-rasan teman lengkap dengan fitnah keji kepadanya, atau apapun agar percakapan menjadi lebih hidup dan manusiawi.

Sekurang-kurangnya, hal-hal tersebut mungkin bisa anda praktekan di rumah.

Tapi yang paling penting, jangan pernah lupa berdoa kepada Gusti Allah sebelumnya, kalau anda memang masih nekat mau nonton acara ndobol nan mengerikan ini. Berdoalah, semoga akal budi kita tidak lecet dan luka ringan karenanya, min awwalihi ila akhirihi….

Komentar
Kirim Artikel
No more articles