• 117
    Shares

MOJOK.CO Bergambar pohon beringin dengan latar belakang warna kuning, logo Partai Berkarya ini mengundang jiwa othak-athik gathuk dalam diri Mojok Institute.

Sebagai salah satu partai yang paling disorot di tahun politik ini, Partai Berkarya hadir dengan cukup fenomenal. Gimana nggak, lah wong orang yang ada di belakangnya saja anak-anaknya Presiden Indonesia ke-2, Pak Soeharto.

Bersama Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang merupakan pendiri Partai Berkarya, keturunan Pak Harto seluruhnya, yaitu Sigit Harjojudanto, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek), telah bergabung bersama partai bernomor urut 7 tersebut. Kekompakan ini patut mencuri perhatian, soalnya memang ngalah-ngalahi film Keluarga Cemara Reborn—ini adalah fenomena Keluarga Cendana Reborn!

Tapi, tapi, tapi, selain solidaritas luar biasa anak-anak Soeharto, ada satu lagi yang menonjol dari Partai Berkarya: logonya.

Bergambar pohon beringin dengan latar belakang warna kuning, logo Partai Berkarya ini mengundang jiwa othak-athik gathuk dalam diri Mojok Institute. Setelah melalui riset dan pemikiran mendalam, berikut adalah analisis kamu, eh kami:

1. Mengingatkan Bahwa Hidup Itu Keras

Dalam banyak logo di Indonesia, baik simbol partai ataupun logo OSIS, padi dan kapas biasanya muncul di sisi kanan dan kiri sebagai pelengkap. Bukan hal yang remeh, padi dan kapas memang punya makna mendalam, yaitu melambangkan sandang dan pangan—kebutuhan primer manusia—untuk mencapai kemakmuran.

Lantas, kenapa Partai Berkarya kok nggak menyertakan padi dan kapas??? Kenapa ia malah menyertakan rantai di sekelilingnya???

Rantai di logo Partai Berkarya ternyata tidak dihadirkan tanpa arti. Justru, rantai ini membawa makna penting yang bakal membuat kita (hah, kita???) terkaget-kaget, yaitu: hidup memang tidak melulu bisa sehalus kapas dan semakmur padi.

Baca juga:  Akhirnya, Sosok Soeharto KW di Commuter Line itu Terkuak Juga

Ya, ia juga bisa menjelma sekeras rantai….

2. Partai Berkarya = Milenial

Jangan dikira cuma PSI saja yang berusaha merangkul kaum milenial; Partai Berkarya juga. Nggak percaya? Mari kita perhatikan logonya kembali secara saksama.

Perhatikan warna yang menyelimuti rantai yang mengelilingi logo, sekaligus pita bernamakan Partai Berkarya. Nah, warna apa yang kamu lihat? Bukan merah, kuning, biru, ungu, atau hijau, kan?

Tentu saja bukan. Partai Berkarya, dengan cerdasnya, memilih warna oranye. Padahal, seperti yang kita tahu, oranye adalah warna kekuning-kuningan, alias jingga. Lantas, apa yang jingga dan dekat dengan kaum milenial?

Tepat sekali: senja. Alih-alih bersusah payah menarik perhatian milenial dengan tokoh-tokoh muda dan segar, Partai Berkarya dengan jelas menampilkan visinya melalui pemilihan warna. Targetnya, tentu saja, kamu-kamu yang mengaku indie, berdikari, pencinta senja, pemburu senja, pengoleksi senja, dan hobi bikin caption pakai kata-kata “jingga”, “kopi”, dan—jelas—“senja” itu sendiri.

3. Bukan Beringin, Itu Bonsai!

Penasaran sama fungsi rantai di logo Partai Berkarya, selain warnanya yang ternyata ditujukan untuk kaum milenial? Simak baik-baik bagian ini.

Sekilas, logo Partai Berkarya tampak mirip dengan Partai Golkar, dengan wujud pohon beringin. Tapi tunggu sebentar—benarkah ini merupakan pohon beringin yang sesungguhnya???

Di alun-alun, warna hijau pohon beringin umumnya lebih gelap dibandingkan dengan beringin versi Partai Berkarya. Alih-alih pohon beringin, siapa tahu tanaman yang muncul di tengah logo ini adalah…

…bonsai!!!

FYI, bonsai adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan. Dengan kata lain, bisa jadi logo Partai Berkarya ini sesungguhnya adalah miniatur dari pohon beringin itu sendiri. Hal ini juga menunjukkan bahwa tokoh-tokoh penting di baliknya—anak-anak Soeharto—ibarat miniatur dari Pak Harto.

Masih nggak percaya? Ingat hal ini: rantai-rantai di sekeliling pohon beringin bonsai ini bisa saja memang dipasang untuk mengekang si tanaman agar tetap kerdil dan mini. Mashoook!

4. Rantai Berjumlah 68

Disebutkan, ada 34 lingkaran rantai yang mengelilingi logo Partai Berkarya dan melambangkan jumlah provinsi. Padahal, jika kita hitung lebih teliti, jumlah rantai beserta pengaitnya adalah sebanyak 68 buah, yang lantas membuat kita bertanya-tanya: apa maksudnya???

Baca juga:  Rasanya Jadi Petugas Badan Pusat Statistik yang Dituduh Pro Jokowi

Entah ada hubungannya atau tidak, tapi angka 68, jika dibalik, adalah usia Soeharto di tahun di mana ia meninggal dunia, yakni 86 tahun. Kalau angka 6-nya diputar menjadi 9, angkanya pun berubah ke 98, yang tentu saja membuat kita teringat akan apa yang terjadi pada tahun ’98: Soeharto lengser.

Angka 6 dan 8 memang berkaitan dengan Soeharto: Jumlah anaknya adalah 6 orang, sementara nama Soeharto sendiri terdiri dari 8 huruf. Wow wow wow, ini seperti sebuah kebetulan yang mencengangkan, Pemirsa!!!

5. Warna Kuning yang Jawa-sentris

Warna kuning memang milik kita semua (hah, kita???) dan bukan milik golongan tertentu, apalagi milik Laa-Laa di Teletubbies. Tapi, mengingat Soeharto saja berdarah Jawa dan kerap berbicara dengan aksen Jawa yang kenta—yang juga bisa diperhatikan dari Tommy Soeharto—rasa-rasanya kita bisa mencurigai warna kuning pada logo ini adalah kuning yang Jawa-sentris.

Kalau nggak percaya, coba tatap warna kuning tersebut baik-baik. Pelan-pelan. Pahami. Ingat-ingat, maka kamu akan sadar bahwa ia serupa dengan kuning pada…

Toko Cat WaWaWa!!!

Ya, ya, ya, mungkin kamu tidak asing dengan nama toko cat ini. Didirikan sejak tahun 1992, toko cat yang terkenal dengan warna kuning dan maskot balonnya ini telah memiliki lebih dari 45 toko yang tersebar di seluruh Pulau Jawa.

Tenang, ini bukan iklan. Iklan, mah, adanya di laut, bukan di Mojok.

  • 117
    Shares


Loading...



No more articles