• 72
    Shares

MOJOK.CO Partai Berkarya lahir dari keyakinan Tommy Soeharto bahwa rakyat merindukan ayahnya sebagai sosok pemimpin di masa Orde Baru. Eh, emangnya kita rindu?

Bergabungnya Titiek Soeharto ke partai besutan adik kandungnya, Tommy Soeharto, yaitu Partai Berkarya, telah kembali meningkatkan harapan dan keinginan keduanya untuk mengembalikan kejayaan politik pada trah Soeharto—alias Pak Harto. Tidak lagi terikat pada Golkar, mereka meyakini Partai Berkarya sebagai kendaraan terbaik, meski perlu diakui pula bahwa partai ini terasa “mirip-Golkar” di beberapa aspek.

Baik Titiek maupun Tommy, keduanya menyatakan siap membawa semangat Orde Baru dalam Partai Berkarya. Hal ini digambarkan pula dari pernyataan Titiek, “Agar Partai Berkarya dapat melanjutkan cita-cita Pak Harto untuk menyejahterakan bangsa ini, mencerdaskan bangsa ini, menciptakan kehidupan masyarakat yang adil makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”

Tak hanya itu, Titiek dan Tommy pun pada dasarnya sama-sama meyakini satu hal: rakyat Indonesia masih merindukan sosok Pak Harto. Apa pasal?

Pertama, lagi-lagi, Titiek menunjukkan ‘bukti’ dari pendapatnya ini saat muncul kabar viral sosok pria mirip Pak Harto di KRL tempo hari.

“Kalau orang nggak suka Pak Harto, begitu dapat (foto viral), ah, delete aja. Tapi ini kan di-forward ke seluruh Tanah Air. Jadi ini buat kami lihatnya, wah, banyak yang rindu Pak Harto sampai foto orang yang mirip beliau diviralkan,” tuturnya kala itu.

Yhaaa~

Kedua, data di Komisi Pemilihan Umum menunjukkan bahwa dari 34 provinsi di Indonesia, terdapat 409.022 anggota Partai Berkarya. Jumlah ini memang lebih sedikit dari Partai Golkar (675.088 orang), namun justru lebih banyak dari PDI-P (339.224 orang). Menurut Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso, hal ini terjadi karena Partai Berkarya menjadi “basecamp” bagi mereka yang terpesona dengan trah Soeharto.

Hmm, mungkin kalau trah Pak Harto diibaratkan dengan member JKT48, mereka termasuk member yang paling sering muncul di sampul album karena banyak yang nge-fans, ya?

Ketiga, banyak orang bernostalgia masa-masa SD, SMP, atau SMA, di mana mereka tiap hari Jumat harus berolahraga bersama-sama. Olahraga yang dilakukan ini dikenal dengan nama SKJ, alias Senam Kesegaran Jasmani.

Usut punya usut, SKJ merupakan program kerja sejak zaman Pak Harto. Konon, semboyan yang dulu berlaku adalah: Memasyaratkan olahrag, mengolahragakan masyarakat.

Keempat, konsumsi susu di Indonesia merupakan yang terendah di ASEAN, yaitu 17,2 kilogram per tahun. Jumlah ini masih kalah dengan Filipina (17,6), Malaysia (36,2), dan Singapura (48.6). Hal ini disebut-sebut terjadi karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi susu.

Tapi, apa hubungannya hal ini dengan kerinduan pada Soeharto? Ternyata, di era tahun 80-an, siswa sekolahan masih rutin mendapat jatah susu dari pemerintahan.  Fakta bahwa Indonesia menempati posisi rendah dalam konsumsi susu pun bisa jadi merupakan wujud kerinduan yang diam-diam menggerogoti sukma.

Halah~

Kelima, tidak ada tayangan acara musik joget-joget nggak jelas, atau acara komedi yang isinya cuma kegiatan membuka aib para pemain seperti di zaman sekarang.

Dulu, stasiun televisi nomor satu (tentu saja) adalah TVRI. Meski tim kreatif kala itu memang tak sekreatif stasiun televisi masa kini, setidaknya TVRI berbaik hati tidak memproduksi sinetron-sinetron yang bikin geleng-geleng kepala atau acara-acara lain yang mengundang komplain masyarakat Indonesia.

Meski banyak orang yang lantang bersuara soal perasaan kangennya pada Mantan Presiden Soeharto, tak sedikit pula yang lebih memilih mengubur rindu. Umumnya, mereka yang memilih opsi kedua kerap teringat masa pemerintahan Pak Harto selama 32 tahun yang tak luput dari kontroversi.

Tapi, yah, orang yang pacaran 3 bulan aja ada yang move on-nya setahun—apalagi ini yang 32 tahun?

  • 72
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles