Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame List

Jika Tokoh Non-Pahlawan Jadi Gambar di Uang Rupiah, dari Tukang Parkir hingga Prabowo

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
11 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apa jadinya, ya, kalau gambar di uang rupiah bukan gambar pahlawan? Gambar siapa yang bakal kita temui waktu menemukan uang lima ribuan di kantong celana?

Dari masa ke masa, sebagai budak kehidupan (hallaaah!), kita selalu menemukan gambar di uang rupiah kertas berupa wajah-wajah para pahlawan. Usut punya usut, pemilihan gambar pahlawan ini ditujukan agar masyarakat lebih mengenal pahlawan nasional Indonesia. Selain itu, wajah pahlawan pada uang kertas pun diharapkan membuat masyarakat teringat perjuangan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan negara.

Iklan

Hmm, jadi penasaran: para koruptor, waktu berhasil korupsi dan memandangi uang haramnya, merasa bersalah nggak, ya, melihat wajah cemerlang para pahlawan yang jadi gambar di uang rupiah? Ckck~

Meski telah menjadi kebiasaan sejak pertama kali uang rupiah diterbitkan, Mojok Institute—seperti biasa—ingin mengajak Anda-Anda semua untuk berimajinasi. Apa jadinya, ya, kalau gambar di uang rupiah bukan gambar pahlawan??? Gambar siapa kira-kira yang bakal kita temui waktu menemukan uang lima ribuan di kantong celana sebelah kanan???

1. Rp1.000: Tulus

Tulus, seorang penyanyi di Indonesia yang lagunya enak-enak semua sampai membuatku gemash, diketahui telah menyanyikan ulang lagu berjudul 1000 Tahun Lamanya. Lagu yang dulunya milik Jikustik ini mengandung angka 1.000 di dalamnya sehingga dapat menjadi nilai jual tinggi bagi Tulus. Pemilihan Tulus sebagai gambar di uang rupiah juga mengajarkan kita bahwa nominal Rp1.000 pun dapat kita terima dengan hati ikhlas dan tulus.

2. Rp2.000: Tukang Parkir

Meski di mana-mana tertulis pembayaran uang parkir dihargai sebesar Rp1.000 untuk motor, nyatanya banyak pengendara motor yang merasa lebih aman menyodorkan uang Rp2.000 kepada tukang parkir. Lambat laun, uang Rp2.000 memang identik dengan tukang parkir, seakan-akan mereka adalah kesatuan semesta yang ditakdirkan alam. Kalau sudah begitu, kenapa nggak sekalian aja tukang parkirnya dijadiin model agar lebih spesial?

3. Rp5.000: Angkringan

Dengan uang Rp5.000, perut kita ternyata menjadi pihak yang diuntungkan. Bagaimana tidak, ha wong uang Rp5.000 ternyata bisa dipakai untuk makan di angkringan, kok. Ambil saja dua porsi nasi kucing dan dua gorengan, plus segelas air putih biar sehat. Makan dengan penuh filosofislah Anda, niscaya kenyang akan dirasa. Sungguh murah, meriah, dan enak~

4. Rp10.000: Band Ungu

Uang kertas rupiah nominal Rp10.000 kini identik dengan warna ungu yang elegan. Saking elegannya, kita jelas tak bisa mengabaikan jasa warna ini begitu saja sehingga perlu kita apresiasi setinggi-tingginya. Untuk itulah, band-nya Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo Said alias Pasha, yaitu band Ungu, pantas kita abadikan sebagai gambar di uang rupiah. Apalagi, lagu-lagu Ungu memang penuh jasa menemani masa-masa galau kita di masa lampau dengan elegan pula, seperti lewat lagu Kekasih Gelapku, Cinta dalam Hati, atau Seperti yang Dulu. Iya, kan?!

5. Rp20.000: Habib Rizieq

Bertanya-tanyakah kamu kenapa kami memasukkan nama Habib Rizieq? Alasan yang mendasari pilihan ini, lagi-lagi, adalah soal warna dasar di pecahan uang kertas. Uang nominal Rp20.000 sendiri berwarna hijau, yang kemudian dapat mengingatkan kita pada…

…bendera Arab Saudi!!!11!!!

Ya, Saudara-saudara, bendera Arab Saudi berwarna hijau. Fakta bahwa kita mengingat bendera Arab Saudi pun bukannya tidak mungkin bakal membuat kita mengingat—tak lain dan tak bukan—Habib Rizieq itu sendiri

Yah, nanti kalau Prabowo jadi presiden dan benar-benar memulangkan Habib Rizieq, setidaknya bisalah uang ini menjadi monumen penghargaan bagi beliau~

6. Rp50.000: Jomlo Kondangan Lagi Ngisi Amplop Nikahan

Meski tidak ada ketentuan besarnya isi amplop sumbangan pernikahan, beberapa orang dengan sukarela memukul rata pemberian uang Rp50.000 setiap kali kondangan. Jadi, alangkah uniknya jika uang Rp50.000 ini diberi gambar orang sedang pergi kondangan, tapi harus sendirian. Kenapa sendirian? Ya tentu saja karena ia masih sendiri, baik sudah jomlo dari lahir atau memang baru putus dan diselingkuhin mantan pacarnya :(((

7. Rp100.000: Prabowo dan Jokowi

Jika uang Rp100.000 selama ini selalu dikuasai oleh gambar Soekarno-Hatta, sepertinya bakal menarik kalau Prabowo dan Jokowi gantian menjelma sebagai gambar di uang rupiah. Sebagaimana yang kita tahu, foto Prabowo dan Jokowi berpelukan (atas inisiatif cerdas Hanifan sang juara pencak silat) beredar viral di dunia maya dan disebut-sebut sebagai foto paling adem abad ini, walaupun kontestasi politik kian panas tak tentu arah.

Iklan

Yaaah, tapi itu sih dulu, sebelum keadaan kian hot lagi setelah muncul istilah politik sontoloyo dan politik genderuwo~

Terakhir diperbarui pada 11 November 2018 oleh

Tags: gambar di uang rupiahHabib Rizieqjokowipahlawan nasionalprabowo
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.