• 73
    Shares

Rasanya belum usai kehebohan tentang pernyataan Jokowi tentang “Politik Sontoloyo”, kini sang Presiden kembali membikin pernyataan yang tak kalah seru, kali ini dengan membawa embel-embel salah satu makhluk dari bangsa demit: “Politik genderuwo”.

Pernyataannya tentang politik genderuwo itu ia katakan saat ia berpidato dalam acara pembagian sertifikat tanah di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Jumat, 9 November 2018 lalu.

“Jangan sampai karena pilihan bupati, gubernur, presiden, ada yang tidak saling sapa dengan tetangga. Ada yang tidak saling sapa antarkampung, antardesa, tidak rukun antarkampung,” ujar Jokowi.

“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat menjadi, memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga menjadi ragu-ragu masyarakat,” kata Jokowi. “Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya ‘politik genderuwo’, nakut-nakuti.”

Pernyataannya tentang Politik Genderuwo itu tak pelak langsung memicu kehebohan tersendiri. Di twitter, tagar #PolitikGenderuwo bahkan sempat dalam beberapa waktu menjadi trending topic. Maklum saja, istilah politik genderuwo yang dikatakan oleh Jokowi memang kemudian tampak seperti sebuah sindiran bagi para intelektual politik, utamanya yang berada di kubu yang berlawanan dengan Jokowi.

Banyak yang kemudian mempertanyakan, siapa yang dimaksud oleh Jokowi sebagai pihak yang menggunakan cara “politik genderuwo” seperti yang katakan.

Bola liar seputar politik genderuwo ini semakin panas ketika banyak pihak mulai angkat bicara dan memberikan penafsirannya masing-masing.

Wakil sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Raja Juli Antoni, misalnya. Ia mengatakan: “Politik genderuwo itu seperti menebar pesimisme bahwa Indonesia akan hancur ketika kita sama-sama sedang berjuang bangsa.”

Penafsirannya tersebut tentu saja membuat banyak orang merujuk pada sosok Prabowo yang beberapa waktu yang lewat memang sempat membuat pernyataan tentang kemungkinan Indonesia akan bubar tahun 2030.

Tafsiran Raja Juli Antoni itu kemudian semakin diperkuat dengan pernyataan Wakil ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding yang mengatakan ada kemungkinan bahwa Prabowo memang menjadi salah satu pihak yang dimaksud oleh Jokowi.

“Kalau Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang propaganda terkait hal yang menakutkan, mungkin yang dimaksud salah satunya Pak Prabowo, tapi menurut saya seluruh politisi atau dan siapa saja yang sering menakut nakuti rakyat itu yang dimaksud pak Jokowi,” ujar Kadir.

Atas pernyataan beberapa tokoh dari kubu Jokowi tersebut, kubu Prabowo pun langsung angkat suara.

“Bagaimana mungkin Pak Prabowo dituduh genderuwo. Nggak mungkin. Pak Prabowo itu didukung ulama, habib, kiai. Makanya ada Ijtimak Ulama I dan Ijtimak Ulama II yang mendukung Pak Prabowo,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade.

Andre bahkan justru memberikan serangan balik. “Rakyat bisa tahu kan siapa yang selama ini takut sama habib? Nah itu yang genderuwo.”

Pernyataan Andre kemudian didukung oleh kompatriotnya satu kubu, Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.

Suhud mengatakan bahwa sebutan genderuwo justru lebih pantas disematkan pada pemerintah.

“Politik genderuwo lebih tepat disematkan ke penguasa. Karena banyak janji-janji kampanye yang tak mampu ditepati sehingga perlu membuat semacam apologi,” ujar Suhud. “Salah satu sifat genderuwo itu manipulatif. Genderuwo suka menipu mangsanya untuk menutupi wujud aslinya yang buruk dengan berubah wujud. Karena konon genderuwo bisa menyamar menjadi wujud pihak yang ingin dimangsanya.”

Lantas, siapakah sebenarnya yang genderuwo?

Entahlah, tapi yang jelas, baik kubu Jokowi maupun kubu Prabowo keduanya sama-sama sering menebarkan pemusuhan yang tentu saja bermuara pada ketakutan. Bahkan kita sendiri sebagai rakyat juga kerap menebarkan permusuhan pada yang lain yang tidak satu kubu dengan kita.

Diakui atau tidak, dua kubu sama-saja. Mungkin memang inilah saatnya bagi kita untuk lantang mengatakan: Genderuwo adalah kita.

Genderuwo itu bukan Jokowi, bukan pula Prabowo, tapi kita.

politik gendruwo