Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Setelah Bikin Istilah Politik Sontoloyo, Kini Jokowi Bikin Istilah Politik Genderuwo

Redaksi oleh Redaksi
10 November 2018
A A
politik genderuwo
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rasanya belum usai kehebohan tentang pernyataan Jokowi tentang “Politik Sontoloyo”, kini sang Presiden kembali membikin pernyataan yang tak kalah seru, kali ini dengan membawa embel-embel salah satu makhluk dari bangsa demit: “Politik genderuwo”.

Pernyataannya tentang politik genderuwo itu ia katakan saat ia berpidato dalam acara pembagian sertifikat tanah di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Jumat, 9 November 2018 lalu.

Iklan

“Jangan sampai karena pilihan bupati, gubernur, presiden, ada yang tidak saling sapa dengan tetangga. Ada yang tidak saling sapa antarkampung, antardesa, tidak rukun antarkampung,” ujar Jokowi.

“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat menjadi, memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga menjadi ragu-ragu masyarakat,” kata Jokowi. “Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya ‘politik genderuwo’, nakut-nakuti.”

Pernyataannya tentang Politik Genderuwo itu tak pelak langsung memicu kehebohan tersendiri. Di twitter, tagar #PolitikGenderuwo bahkan sempat dalam beberapa waktu menjadi trending topic. Maklum saja, istilah politik genderuwo yang dikatakan oleh Jokowi memang kemudian tampak seperti sebuah sindiran bagi para intelektual politik, utamanya yang berada di kubu yang berlawanan dengan Jokowi.

Banyak yang kemudian mempertanyakan, siapa yang dimaksud oleh Jokowi sebagai pihak yang menggunakan cara “politik genderuwo” seperti yang katakan.

Bola liar seputar politik genderuwo ini semakin panas ketika banyak pihak mulai angkat bicara dan memberikan penafsirannya masing-masing.

Wakil sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Raja Juli Antoni, misalnya. Ia mengatakan: “Politik genderuwo itu seperti menebar pesimisme bahwa Indonesia akan hancur ketika kita sama-sama sedang berjuang bangsa.”

Penafsirannya tersebut tentu saja membuat banyak orang merujuk pada sosok Prabowo yang beberapa waktu yang lewat memang sempat membuat pernyataan tentang kemungkinan Indonesia akan bubar tahun 2030.

Tafsiran Raja Juli Antoni itu kemudian semakin diperkuat dengan pernyataan Wakil ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding yang mengatakan ada kemungkinan bahwa Prabowo memang menjadi salah satu pihak yang dimaksud oleh Jokowi.

“Kalau Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang propaganda terkait hal yang menakutkan, mungkin yang dimaksud salah satunya Pak Prabowo, tapi menurut saya seluruh politisi atau dan siapa saja yang sering menakut nakuti rakyat itu yang dimaksud pak Jokowi,” ujar Kadir.

Atas pernyataan beberapa tokoh dari kubu Jokowi tersebut, kubu Prabowo pun langsung angkat suara.

“Bagaimana mungkin Pak Prabowo dituduh genderuwo. Nggak mungkin. Pak Prabowo itu didukung ulama, habib, kiai. Makanya ada Ijtimak Ulama I dan Ijtimak Ulama II yang mendukung Pak Prabowo,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade.

Andre bahkan justru memberikan serangan balik. “Rakyat bisa tahu kan siapa yang selama ini takut sama habib? Nah itu yang genderuwo.”

Pernyataan Andre kemudian didukung oleh kompatriotnya satu kubu, Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.

Suhud mengatakan bahwa sebutan genderuwo justru lebih pantas disematkan pada pemerintah.

“Politik genderuwo lebih tepat disematkan ke penguasa. Karena banyak janji-janji kampanye yang tak mampu ditepati sehingga perlu membuat semacam apologi,” ujar Suhud. “Salah satu sifat genderuwo itu manipulatif. Genderuwo suka menipu mangsanya untuk menutupi wujud aslinya yang buruk dengan berubah wujud. Karena konon genderuwo bisa menyamar menjadi wujud pihak yang ingin dimangsanya.”

Lantas, siapakah sebenarnya yang genderuwo?

Iklan

Entahlah, tapi yang jelas, baik kubu Jokowi maupun kubu Prabowo keduanya sama-sama sering menebarkan pemusuhan yang tentu saja bermuara pada ketakutan. Bahkan kita sendiri sebagai rakyat juga kerap menebarkan permusuhan pada yang lain yang tidak satu kubu dengan kita.

Diakui atau tidak, dua kubu sama-saja. Mungkin memang inilah saatnya bagi kita untuk lantang mengatakan: Genderuwo adalah kita.

Genderuwo itu bukan Jokowi, bukan pula Prabowo, tapi kita.

politik gendruwo

Terakhir diperbarui pada 10 November 2018 oleh

Tags: jokowipolitik genderuwoprabowo
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak-Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu MOJOK.CO

Karhutla Kalimantan: Permohonan Maaf kepada Anak Cucu Sebab Warisan Satu-satunya adalah Asap dan Abu

24 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.