Kuch Kuch Hota Hai, Mengenang 21 Tahun Film soal Bucin yang Diem-Diem Bae

MOJOK.CO Dua puluh satu tahun lalu, film Kuch Kuch Hota Hai rilis dan booming di banyak negara. Apa yang paling kamu ingat dari film ini?

Waktu masih jadi bucin level mahasiswi semester tiga, saya pernah melakukan sesuatu yang saya rasa cukup romantis: menulis 9 surat untuk pacar saya karena saya harus pergi ke luar negeri selama 9 hari penuh. Setiap surat saya masukkan ke dalam amplop, dan masing-masing amplopnya saya tuliskan angka 1 sampai 9.

Pesan saya kala itu, si pacar harus membuka surat nomor 1 di hari pertama saya pergi, surat kedua di hari kedua, begitu seterusnya, sampai surat terakhir di tepat satu hari sebelum saya kembali ke Indonesia. Kenapa saya menulis surat, saya punya alasannya.

Pertama, saya nggak bisa menjamin komunikasi kami bakal berjalan lancar karena belum tentu di luar negeri saya menemukan SIM Card atau WiFi. Kedua, saya penggemarnya film Kuch Kuch Hota Hai (KKHH).


Iya, saya ulang sekali lagi: Saya. Penggemarnya. Kuch. Kuch. Hota. Hai.

Film India yang dibintangi bapak-bapak kelewat ganteng Shahrukh Khan ini sempat jadi hits di Planet Bumi. Taruhlah saya berlebihan, tapi nyatanya memang film ini se-hype itu, kok. Penjual VCD yang suka keliling depan rumah bakal berbusa mempromosikan VCD film ini dan selaluuuu saja ada yang beli, lagi dan lagi.

Hari ini bukan hari perayaan ulang tahun rilisnya KKHH, tapi—saya pikir—apa salahnya mengenang memori bahwa kita semua (hah, kita???) pada 21 tahun yang lalu pernah sama-sama hafal bernyanyi dengan lirik “Tum paas aye yun muskaraye, tumne na jaane kya sapne dikhaye”?

Kuch Kuch Hota Hai telah mengajarkan banyak hal, mulai dari persahabatan, hubungan ayah dan anak, hingga cara terbaik melepaskan seseorang yang paling kita sayang. Lebih detail, tulisan ini saya persembahkan seutuhnya sebagai media mengenang film berdurasi 3 jam 5 menit tersebut.

Baca juga:  Irrfan, Khan yang Berbeda

Pertama, terima kasih KKHH, saya—dan kamu-kamu sekalian—jadi agak ngerti bahasa India dan koreografi dalam lagu.

Yah, mau gimana lagi, di film ini, ada delapan lagu yang diputar, masing-masing dengan koreografi yang berbeda. Coba putar satu saja di YouTube sekarang, saya jamin kamu bakal ikut bernyanyi dan bisa menebak gerakan seperti apa yang bakal ditampilkan, minimal bergumam mengikuti nadanya!

Waktu SD, saya pernah melakukan hal yang berkesan: mencoba menari Koi Mil Gaya di perpustakaan. Dari luar ruangan, saya sedikit berlari masuk ke dalam perpus yang kala itu sepi Niat saya, saya ingin mendarat dengan dengkul, persis seperti yang Rahul lakukan di atas panggung.

Tapi, apa yang terjadi?

Saya nabrak meja dan menimbulkan bunyi “Geludak!” yang cukup keras. Dengkul saya lecet dan berdarah. Pantat saya sakit. Bapak Penjaga Perpustakaan panik, “Kamu ngapain, Li?”

“Nggak apa-apa, Pak, lagi ngetes gaya gravitasi Bumi,” jawab saya, asal.

Kedua, kemampuan akting penonton Kuch Kuch Hota Hai jadi terasah. Pasalnya, sebagai penggemar KKHH, kita tentu bakal mengalami setidaknya satu kali akting-aktingan tokoh KKHH, baik sebaga Rahul, Anjali, maupun Tina.

Bersama teman-teman satu kompleks, saya pernah memerankan adegan di mana Anjali pergi ke luar kota naik kereta api, yang kemudian dikejar oleh Rahul. Bukan adegan ciuman perpisahan ala Cinta dan Rangga, Anjali membuat adegan ini berkesan dengan melemparkan selendang merahnya untuk Tina yang menemani Rahul.

Baca juga:  Seperti Kasus Jonru, Dukungan Heroik Medsos itu Semu di Muka Hukum

Saya, sebagai penggemar Anjali garis keras, berdiri di kursi, menatap sahabat laki-laki saya dan kakaknya (yang tentu saja saya paksa untuk ikutan main drama-dramaan), lalu melemparinya kerudung paris warna merah milik ibu saya. Dada saya naik turun, berakting menahan tangis. Biar lebih maksimal, saya sempat pula membayangkan bahwa sayalah yang akan pindah rumah dan berpisah dengan sahabat saya, tapi dampaknya kelewatan: saya malah nangis beneran dan drama-dramaan tadi langsung bubar.

Ketiga, film KKHH memberikan referensi fashion bagi para penggemarnya.


Saya dan teman-teman yang berambut pendek, misalnya. Mendadak, saya melihat banyak sekali kawan yang menggunakan bandana ke sekolah. Warnanya pun berwarna-warni. Jelas, penjual bandana langsung untung besar. Kurang lebih, fenomena ini mirip dengan fenomena topi “Tersayang” setelah sinetron Tersayang jadi booming.

Bukan cuma itu, pose-pose dengan bola basket pun menjamur. Bahkan, olahraga basket langsung jadi favorit banyak orang. Khusus bagi perempuan yang ingin mem-branding dirinya sebagai orang tomboy, basket seolah jadi standarnya.

Keempat, film Kuch Kuch Hota Hai, bagaimanapun, mengajari kita betapa pentingnya melepaskan sesuatu, meskipun itu adalah hal yang paling kita inginkan.

Poin ini tidak saya pahami saat kecil. Di mata saya kala itu, Rahul jahat sekali karena membuat Anjali menangis, dan kenapa sih Anjali harus pergi??? Kenapa Anjali nggak tetap saja ada di situ, lalu bikin perhitungan dengan Tina???

Baca juga:  Cara NU Dikompori Amerika supaya Benci Cina

Tapi nyatanya, hidup memang nggak bisa sesembarangan itu. Rahul perlu waktu dan jarak untuk menyadari bahwa Anjali adalah orang yang paling ia rindukan. Anjali juga perlu waktu dan jarak untuk merelakan Rahul mencintai Tina, lalu akhirnya merasakan bahwa dirinya berhak dicintai dengan sepenuh hati oleh orang yang lebih bisa bersikap tegas: Aman.

Maksud saya, lewat plot ini, saya yakin kita semua bisa sepakat bahwa duka dibuat untuk suka di kemudian hari. Iya, kan?

Kelima, hidup terkadang kelewat tidak adil, tapi sekaligus adil—setidaknya bagi KKHH.

Adegan terakhir film Kuch Kuch Hota Hai mungkin adalah hal yang paling melukai hati Aman. Gimana nggak; ha wong dia udah mau nikah sama Anjali, tapi Anjalinya malah sedih dan masih sayang sama Rahul!

Yang dilakukan Aman berikutnya adalah hal terbesar, mungkin dalam hidupnya, yaitu melepaskan Anjali dan mengizinkannya menikah dengan Rahul.

Iya, saya ulangi lagi: Pria ini mengizinkan tunangannya menikah dengan cinta masa lalunya di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya!

Sayangnya, Kuch Kuch Hota Hai ini rilisnya bertahun-tahun lalu. Coba kalau rilis tahun 2019, mungkin Aman bakal diam-diam menangis sambil bergumam “Layak untuk cantikmu, itu aku” setelah menyenandungkan lagu Adu Rayu, khususnya bagian yang dinyanyikan Tulus.

BACA JUGA Drama Korea Lebih dari Pria Tampan Mencintai Gadis Miskin atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.