• 29
    Shares

MOJOK.COMV “Adu Rayu” sukses bikin para perempuan berimajinasi merasa hidup seperti film. Tepatnya, merasa seperti Velove yang terjebak dalam kemelut cinta memilih Nicholas atau Chicco.

Yovie Widianto dan kawan-kawannya, seperti tak puas bikin orang baper. Setelah sekitar sebulan yang lalu menanyangkan duet lagu “Adu Rayu” bikinan Tulus, Glenn Fredly, dan Yovie. Eh, ternyata, dari akun Youtube Yovie, tayanglah sebuah video dari lagu tersebut. Dengan memunculkan Nicholas Saputra, Chicco Jerikho, sama Velove Vexia sebagai cast-nya. Langsung bikin ambyar.

Di kolom komentar MV “Adu Rayu” ini, tidak sedikit para perempuan yang menajamkan imajinasinya: membayangkan dirinya berkesempatan yang sama seperti Velove. Membayangkan dirinyalah yang ditatap sama Nicholas dan Chicco dengan sebegitu dalamnya. Bahkan merasa seolah-olah betul-betul diperebutkan oleh mereka berdua.

Walah, rasa galaunya mungkin udah mirip-mirip sama Maudy Ayunda yang sebelumnya bingung milih Harvard atau Stanford. Nggak percaya? Ini, rasain sendiri videonya.

Udah? Udah? Gimana dampaknya? Ada rasa nyut-nyut nya, nggak? Kalau nggak ada, juga nggak apa-apa, sih.

Sebuah cerita drama yang kita tonton—jika garapannya berhasil—memang sering meninggalkan dampak emosional dalam kehidupan kita. Kita pasti pernah menonton film. Lalu mengkhayati sungguh-sungguh sesuatu yang kita tonton. Lantas di akhir, kita merasa, “Sumpah, ini aku banget!” Seolah-olah yang terjadi di layar tersebut khusus dibuat untuk menyentil diri kita saja. Ya, filmnya dibikin cuma buat kita. Seakan kita adalah pusat semesta. Halah.

Lalu membayangkan tentang kisahnya sendiri. Membayangkan, membayangkan, dan membayangkan. Sambil sesekali memutar memori perihal segala yang terjadi. Kalau perlu, berimajinasinya pakai adegan slow motion. Biar apa? Biar efek dramatikal dari memori kehidupan kita sendiri, jadi lebih mantap.

Baca juga:  Lima Film Reza Rahadian yang Tak Boleh Dilewatkan

Tapi kita melupakan satu hal. Bukan cuma kita doang yang merasakan semua itu, Zaenab! Mohon maaf, nih, banyak juga orang-orang di luar sana yang juga merasakan hal yang sama. Kenapa? Ya, soalnya yang bikin filmnya pasti udah riset lah. Akan menjadi percuma kalau garapannya dibikin ujug-ujug. Lantaran udah riset, jadinya banyak yang merasa related atau bahkan jadi baper betulan.

Lebih jauh lagi, karena keseringan nonton film atau drama. Kita malah jadi mengkhayalkan dan membayangkan kalau kita hidup seperti film. Setiap gerak-gerik kita. Setiap aktivitas yang kita lakukan, kita merasa ada kamera yang diam-diam menyorot. Bahkan, kita dengan pedenya ngobrol sendiri, seperti sedang bermonolog dan membayangkan ada orang yang menonton. Seakan mereka menonton melalui kamera, meski tanpa perlu efek zoom in zoom out.

Supaya efek dramatis dalam pikiran kita lebih kuat. Supaya betul-betul hidup seperti film, kita tambahkan backsound. Padahal mah, backsound-nya cuma di telinga kita doang. Iya, soalnya cuma pakai headset sambil ndengerin Spotify yang belum—mampu beli—premium. Hmmm, lengkap sudah. Perlengkapan untuk fokus dengan imajinasi liar diri sendiri.

Mungkin kita memang menyadari, bahwa kehidupan yang sebenarnya tidak seindah cerita yang dibikin sutradara. Ada hal-hal yang dengan sengaja memang dilebih-lebihkan untuk memunculkan efek lebih dramatis dari kisah dan peristiwa. Meski lagi-lagi, tidak sedikit pula situasi dan kondisi yang terjadi di film, terasa begitu nyata seperti dalam kehidupan kita.

Jika sebuah cerita film yang kita tonton berhasil membuat kita ikutan menangis, baper, hingga berimajinasi bahwa kita adalah si tokoh dalam cerita tersebut. Maka teori disposisi dapat menjelaskan mengenai hal ini. Pasalnya, teori disposisi sendiri menjelaskan tentang kekuatan karakter dalam cerita tersebut, yang kemudian akan memengaruhi respon emosional dari penonton.

Baca juga:  Ke Mana Nicholas Saputra Pergi, ke Situ Cewek-cewek Halu Mengikuti

Nah, jika ternyata sisi emosional kita ikutan tercabik-cabik, ikutan ngilu-ngilu sendiri. Itu artinya, cerita yang digarap ini bisa dikatakan cukup sukses. Nah, si MV “Adu Rayu”, cukup sukses memberikan efek ini meski hanya dengan 5 menit 57 detiknya.

Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang wajar setelah kita menonton sebuah film. Kita merasa kehidupan nyata kita tercampur-campur dengan imajinasi dari cerita yang telah kita tonton. Sampai-sampai, kita merasa kesulitan untuk membedakan keduanya. Kehidupan nyata kita seolah terasuki oleh setiap detail kejadian dari tontotan kita. Bahkan, kita dengan tidak tahu dirinya, bermimpi merasa menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Ya, seperti membayangkan jika seandainya hidup kita menjadi si Velove dalam MV “Adu Rayu” tersebut. Menjadi sosok yang rupawan, dicintai dua lelaki yang tatapannya saja bikin klepek-klepek nggak karuan. Meski galau nggak ketulungan, tapi tetap teramat sangat menyenangkan. (Halah, malah rimanya sok disama-samain).

Lalu kita membayangkan alur dari kisah kita sendiri. Apa yang bakal kita lakukan untuk menghadapi kegalauan tersebut—kalau jadi Velove. Lebih jauh lagi, siapa yang nantinya bakal kita pilih. Padahal, kalau pikiran kita kembali ke dunia nyata. Kalau kaki kita bersedia menginjak bumi lagi. Mohon maaf nih, kita ini siapa? Kok dengan begitu percaya dirinya, merasa menjadi sosok yang dicintai oleh orang-orang yang sebetulnya adalah people we can’t have?