MOJOK.COMendebat orang marah adalah perbuatan sia-sia setara mentraktir Jeff Bezos dan bukti pengendalian diri kalian yang buruk. Maka dari itu, menghadapi orang marah cuma mempan dengan ketrampilan khusus.

Sebelum membahas perkara orang marah dan cara menghadapinya, pagi ini saya tercengang dengan sebuah pernyataan seorang netizen di Twitter. Katanya, jika kita punya penghasilan sebesar 7000 dolar AS setiap jam dan setiap hari sejak tahun pertama masehi maka kekayaan kita masih belum meleibihi Jeff Bezos.

Bahkan kalau kalian kerja di Amazon pun, kalian harus bekerja 24 jam non-stop selama 68 tahun hanya untuk meyamai pendapatan Jeff Bezos selama satu jam. Ya Alloh, uang segitu bisa buat beli surga nggak ya?

Maka mentraktir bapak-bapak botak paling kaya sedunia itu adalah perbuatan sia-sia sejauh yang bisa saya pikirkan. Lha bayangkan saja kalian lagi butuh ditemani seseorang buat belanja, trus yang kalian lakukan adalah chat WhatsApp Jeff Bezos sambil bilang gini, “Pak Jeff ayo temenin saya, nanti pulangnya saya traktir donat J.Co.” Paling responnya Jeff Bezos cuma napas aja.

Jadi gini, kesia-siaan mentraktir Jeff Bezos menurut saya hampir sama dengan mendebat orang marah. Orang yang sedang diliputi amarah itu maunya menang, harga mati. Pokoknya menurut si orang marah, dialah yang benar, dialah yang berhak ngomong kasar, dialah pusat tata surya. Titik.

Mendebat orang marah akan bikin situasimu makin terjepit. Nggak ada orang marah itu sabar, semua orang yang lagi marah itu ya pemarah. Kalau ada orang marah didebat sedikit langsung luluh artinya dia tidak benar-benar marah dong. Makanya mengkonfrontasi orang-orang pada titik kemarahan luar biasa akan percuma. Ibarat api disiram bensin tambah nggak karuan menyala-nyala.

Situasi seperti ini biasanya gagal dibaca oleh lawan bicara. Kalian yang tiba-tiba kena marah pacar bisa ikutan marah karena memang di situasi ini orang-orang cenderung nggak bisa melihat permasalahan secara jelas. Alih-alih meredakan suasana sebagai orang terkahir yang kewarasannya masih ada, kalian malah ikutan edan karena dimaki-maki pacar dan tersinggung. Menghadapi orang marah selamanya nggak bisa pakai perasaan.

Situasi bakal makin memburuk ketika dua orang yang berdebat saling menyerang karakter masing-masing. Seperti:

“Kamu selalu aja begini!”
“Kapan sih, kamu berubah?”
“Kamu seneng ya aku kayak gini?”
“Kamu tuh anggap aku apa selama ini?”

Aduh, tinggalkanlah drama begitu. Menyerang karakter lawan bicara adalah jalan pintas peledakan bom nuklir kemarahan. Boleh dicoba jika nggak percaya.

Cara yang paling tepat untuk menghadapi orang marah adalah dengan bersikap kalem dan berpikir logis. Pikirkan apakah kemarahannya wajar, apakah kalian benar-benar salah, atau malah kemarahannya tidak berdasar dan dipicu berbagai faktor abstrak lainnya.

Bayangkan saja begini, seorang cewek marah-marah ke pacarnya. Sambil nangis dan teriak-teriak dia terisak-isak dan terlihat sangat tersiksa. Kalau cowoknya ikutan marah dan bentak-bentak lebih keras, berarti cowoknya tempramen dan punya pengendalian diri minim. Tanpa sadar, apa yang dilakukan setara dengan mentraktir Jeff Bezos.

Harusnya si cowok kalem dulu. Pelan-pelan mendengarkan tuduhan si cewek sambil menimbang-nimbang apakah itu logis atau tidak. Lalu, coba peluk. Lihat keajaiban apa yang akan terjadi. Ngomong-ngomong ini juga berlaku saat cowoknya yang marah ya. Peluk aja udah….

Jadi keseluruhan mendebat orang marah yang bakal sia-sia itu ternyata bisa dirangkum dengan satu adegan uwu berikut. Jangan sambil baper ya nontonnya, nanti refleks peluk guling.

BACA JUGA Mengkritik Orang yang Melanjutkan Kuliah Lagi Cuma buat Ngisi Waktu Luang atau artikel AJENG RIZKA lainnya.