Pengakuan Penjual Akun Netflix Ilegal, Cuan di Antara Celah Kemalasan

Bukan hanya perkara praktis dan murah, kecurangan dari kaum cerdik penjual akun-akun digital dan Netflix ilegal ini justru hadir karena sebagian kaum lain jauh dari kata “mengerti”.

Pertemuan saya dengan seorang penjual akun digital berlangsung awal Februari, selepas hujan di malam hari. Saya tercengang, di usianya yang masih begitu muda ia sudah punya mobil.

“Penghasilan kotor sehari sih, dua juta, Mbak,” ujar Mursidi, nama samaran cowok berusia 19 tahun yang saya temui malam itu. Mendengar angka yang disebutkan Mursidi, otomatis otak saya berhitung. Terkadang, mencari uang terlihat semudah itu.

Pembicaraan seputar film, serial, dan hiburan menonton lainnya kini tak pernah jauh dari platform penyedia streaming. Anak muda menyukai cara ini, saat kapan pun bebas memilih untuk menonton apa yang mereka inginkan. Bahkan bebas menonton di mana pun bersama siapa pun, asal ada koneksi internet.

Tentu untuk memfasilitasi pengalaman menonton tersebut, berlangganan Streaming Video On Demand (SVOD) harus dilakukan dan Netflix adalah salah satu platform yang paling populer. Mursidi adalah salah satu orang yang melihat kesempatan mendapatkan cuan dengan cara ilegal.

Mursidi merasa percaya diri telah menjalankan “gurita” bisnis di salah satu kawasan pinggir Jogja. Kini setidaknya Mursidi dibantu tiga karyawan purnawaktu yang siap menangani banjirnya pesanan. Mursidi menjelaskan tentang bagaimana cara mendapatkan cuan dari jualan akun Netflix.

Setidaknya ada tiga cara untuk menjual akun Netflix. Cara pertama, cara yang murni curang atau bisa saya sebut sebagai cara “pure evil”. Si penjual umumnya seorang hacker dan scammer, membobol data kartu kredit milik manusia-manusia tidak berdosa dari benua Eropa dan Amerika.

Melakukan scamming pada akun-akun email yang pemiliknya sulit membedakan yang mana modus tipu-tipu, yang mana peringatan resmi dari Netflix. Akun ilegal ini otomatis dijual sangat murah, bisa di bawah Rp10 ribu untuk satu bulan. Mengingat penjualnya bermodalkan skill tanpa sepeser pun rupiah keluar.

Cara kedua, memanfaatkan bugs atau sistem Netflix. Dulu, para penjual memanfaatkan akun trial Netflix untuk mencuri akses. Akun trial tidak berbayar, namun pengguna perlu mencantumkan nomor kartu kredit dan setidaknya memberikan simulasi pembayaran di awal untuk ditagihkan pada bulan selanjutnya. Celah inilah yang kemudian jadi rupiah. Lewat celah kedua inilah Mursidi mencari cuan.

Sekarang, entah karena pihak Netflix mengetahui akal-akalan ini atau tidak, sistem trial ditiadakan. Tapi, bukan masyarakat +62 namanya kalau tidak pandai cari celah. Memanfaatkan sistem upgrading yang langsung difasilitasi Netflix dan mangkir dari tarif bulan depan.

“Aku cukup langganan paket paling murah. Di hari yang sama aku menghubungi CS Netflix untuk meminta upgrade paket paling mahal. Nggak lama, paketan sudah ter-upgrade, pembayaran harga sesuai paket ditagihkan di bulan depan. Nah di bulan depan, aku sudah matikan. Beres,” Mursidi menjelaskan kepada saya dengan sabar.

Rentang waktu sebelum penagihan upgrade-lah yang dimanfaatkan Mursidi untuk disulap jadi produk. Mursidi bahkan memberi tahu saya seolah-olah dia tidak takut otoritas Netflix membaca kelemahan sistemnya ini.

“Tenang aja, Mbak. Selalu ada cara. Lagian, aku nggak cuma jual Netflix. Mbak laporkan ini ke Netflix pun saya nggak masalah. Malah bagus, bisa buat masukan buat sistem mereka,” kata Mursidi.

Akal-akalan ini jelas jauh lebih aman. Penjual berani pasang klaim bahwa akun yang mereka jual resmi dan legal. Dikatakan legal memang benar, walau cara yang digunakan cukup cerdik–untuk tidak mengatakannya licik dan curang.

Cara ketiga, sebuah cara yang bagi sebagian orang tidak mungkin laku. Cara paling jujur, legal 100%, tanpa pemanfaatan celah, tanpa tipu-tipu. Cara ini justru lebih mirip jasa login karena yang dilakukan penjual hanyalah membantu pembuatan akun dan membayarkan langganan setiap bulannya. Bahkan kalau perlu, penjual juga bisa mencarikan partner berbagi Paket Premium Netflix dengan maksimum 4 screen.

Kelemahannya jelas, keuntungan penjual tidak banyak sebab calon pengguna mungkin tahu harga sebenarnya paket-paket resmi Netflix. Persaingan pun tidak mudah, penjual harus berhadapan dengan orang lain yang menggunakan cara pertama, orang-orang yang berani menjual akun Netflix ilegal seharga gorengan.

Untungnya, kita tidak pernah kehabisan orang cerdik. Beberapa penjual memecah Paket Premium Netflix yang seharusnya maksimal digunakan oleh 4 orang menjadi lebih banyak lagi.

Mursidi mengatakan, ia pernah menemui orang yang menjual Paket Premium Netflix untuk 20 orang. Sebanyak 20 orang ini difasilitasi grup WhatsApp agar mereka saling berkomunikasi dan bergantian menonton. Harga per akun jadi jauh lebih murah, akun Netflix legal, dan kualitas yang didapatkan hingga Ultra HD. Solusi yang cukup membagongkan bahkan bagi saya.

Harga resmi yang dipatok Netflix cukup beragam. Paket Mobile Rp54.000/bulan, hanya bisa diakses 1 perangkat seluler. Paket Basic Rp120.000/bulan, hanya bisa diakses 1 perangkat. Paket Standard (HD) Rp 153.000/bulan, bisa diakses 2 perangkat secara bersamaan. Paket Premium (Ultra HD/HD) Rp 186.000/bulan, bisa diakses 4 perangkat secara bersamaan.

Photo by Mollie Sivaram on Unsplash

Photo by Mollie Sivaram on Unsplash

Sebagian pengguna akun Netflix yang telah mapan secara finansial justru heran saat mengetahui betapa basahnya bisnis jual beli akun digital.

“Loh apa susahnya sih langganan sendiri? Kan tinggal klik?! Alternatif pembayaran juga bisa disesuaikan dengan apa yang kita punya,” protes King (28) pengguna Netflix legal yang saya mintai pendapat perihal bisnis Mursidi.

Anggapan “tinggal klik” nyatanya bagi sebagian orang terasa begitu sulit. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana memulai berlangganan.

“Kebanyakan yang beli bocil-bocil yang udah pengin banget nonton film tertentu. Seringnya film yang lagi viral. Mereka suka nggak sabar, pesan jam 10 malam, maunya saat itu juga dapat akses,” ujar Mursidi sambil mendeskripsikan pelanggannya.

Bukan tanpa kendala Mursidi menjalankan bisnisnya. Ia mengklaim bahwa banyak pelanggannya adalah anak-anak. Mereka hanya tahu platform SVOD ini bisa dibeli melalui marketplace dan iklan-iklan di media sosial, tergiur dengan harganya yang murah, lalu membeli. Komplain adalah makanan sehari-hari.

Terlebih bagi penjual akun ilegal dengan tingkat risiko tinggi. Pelanggan pun merasa bahwa streaming ilegal selalu penuh kejutan tak menyenangkan.

“Gue dan temen suka pinjem-pinjeman akun Netflix yang ilegal. Kadang tiba-tiba nggak bisa dibuka, mungkin kebanyakan yang akses atau entah apa. Kalau udah begini harus lapor ke penjual sementara doi nggak aktif 24/7. Ya kali nonton tengah malam doi standby. Enaknya kalau udah protes dan dijawab, kita dikasih akses akun baru,” ungkap Andin DC (30) yang pernah menggunakan akun ilegal.

Tentu saja, apa yang kita harapkan dari pembelian akun ilegal? Risiko menghantui saat seru-serunya menonton. Bahkan ketika penjual mengaku bahwa apa yang mereka jual resmi dan aman, tidak ada indikator apa pun yang bisa memastikannya. Berlangganan mandiri jauh lebih memuaskan.

Praktik jual beli akun digital (tak hanya Netflix), awam ditemui di negara seperti Indonesia, India, dan Pakistan, negara berkembang dengan nilai mata rupiah cukup rendah. Sayangnya, saya belum berhasil berbincang dengan otoritas Netflix terkait fenomena ini.

Perkembangan dan demografi pengguna akun Netflix mungkin akan berguna untuk memetakan seberapa jauh jual beli akun digital melakukan take over pada Netflix. Atau jangan-jangan Netflix hanyalah perusahaan “Windows” yang lain. Perusahaan dengan pendapatan luar biasa meski nilai pembajakannya juga gila.

Berlangganan akun Netflix bukan perkara mudah bagi yang menganggapnya tidak mudah. Petunjuk dengan bahasa Indonesia tersedia. Harga sudah dikonversikan ke rupiah. Pengguna cukup mengikuti petunjuk, mengisi kelengkapan informasi, dan meneruskannya ke pembayaran.

Saya sendiri memprosesnya kurang dari lima menit. Menit selanjutnya langsung bisa menonton. Waktu yang dibutuhkan bahkan tidak lebih lama dibanding membeli tiket di bioskop. Membeli akun Netflix melalui pihak ketiga justru menurut saya jauh lebih merepotkan.

Sayangnya semua orang memang tidak selalu setuju dengan saya. Mursidi kembali bercerita bahwa jual beli akun digital tidak sesempit Netflix ilegal. Jika “mengakali” jualan akun Netflix punya tiga cara spesifik, berjualan akun digital lain punya cara yang jauh lebih mudah. Kepiawaian Mursidi mencari bugs dan jeli memanfaatkan celah benar-benar mendongkrak nilai penjualannya.

Selain Netflix, ada ratusan akun digital yang dipasarkan Mursidi. Suatu saat pengembang mungkin akan menemukan bugs dan memperbaikinya, Mursidi menyadari hal ini sebagai ancaman, namun mengatasinya dengan melebarkan sayap. Tidak cuma jualan Netflix ilegal.

Cerdiknya penjual akun digital, kemalasan masyarakat dalam mencari tahu, dan minimnya tingkat literasi digital, semua serupa puzzle yang mudah dirangkai. Layaknya kesempatan yang menjemput tanpa dicari.

Saya teringat pada sebuah adegan di film The Wolf of Wallstreet. Jordan Belfort menyuruh kawannya Brad untuk menjual pena. “Sell me this pen.” Brad justru tidak menawarkan pena itu layaknya sales keliling.

Brad mengambil kertas dan menyuruh Jordan menuliskan namanya di sana. Jordan menolak, mengatakan bahwa ia tidak bisa menuliskan apa pun karena Brad hanya memberinya secarik kertas. “Oke, beli saja penaku ini,” sambung Brad. Betapa untuk menjual sesuatu, kita perlu menciptakan kebutuhan. Menciptakan sebuah celah yang selalu siap diisi.

BACA JUGA Menggugat Netflix sebagai Tersangka Racun Drakor dan tulisan Ajeng Rizka lainnya.