Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Karambol, Olahraga Paling Merakyat dan Indonesia Banget

Karambol jadi olahraga paling banyak dikuasai sekaligus disukai rakyat Indonesia. Sayang, nggak ada asosiasinya.

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
18 September 2015
A A
Karambol, Olahraga yang Paling Merakyat dan Indonesia Banget

Karambol, Olahraga yang Paling Merakyat dan Indonesia Banget

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sarana olahraga yang paling lumrah dan banyak disediakan di pos-pos ronda di seluruh lingkungan RT di Indonesia adalah papan karambol.

Di artikel sebelumnya, Mas Kokok Dirgantoro berusaha membantah pandangan masyarakat yang menganggap bahwa sepakbola adalah olahraga rakyat. Sebagai seorang Kokok-ers yang kaffah, tentu saya sangat setuju dengan bantahan Mas Kokok.

Tapi sayang, sikap setuju saya terpaksa harus berdurasi singkat, mung sak udutan, karena ternyata, dalil bantahan yang diajukan oleh Mas Kokok ternyata sangat dhoif, Mas Kokok justru menganggap bahwa olahraga yang paling merakyat adalah Tinju. Merakyat dengkulmu mlocot, Mas. Merakyat kok kalau mau tanding harus pakai promotor.

Nah, menurut saya, harusnya bukan tinju, melainkan karambol.

Karena karambol bukan olahraga biasa, ia olahraga yang membuat banyak pria menjadi makhluk yang lebih cekatan, fokus, jago menyentil, dan yang lebih penting: peka terhadap “lubang”.

Lebih dari itu, olahraga ini juga rasanya pantas diangkat menjadi olahraga nasional, setidaknya ada beberapa alasan, di antaranya:

Karambol adalah olahraga yang komunal

Tinju, sepakbola, catur, bulutangkis… olahraga macam apa itu? Olahraga kok cuma dua pemain, dua tim, dua kubu. Serangannya juga cuma dua arah. Kalau nggak si A nyerang si B, paling yo sebaliknya, Si B nyerang si A. Persis kayak pertarungan Partai Demokrat melawan Partai Republik di Amerika Serikat sana. Sangat tidak ngindonesia. Sangat tidak partisipasif.

Padahal kita semua tahu, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung persatuan dan kebersamaan. Terutama dalam aspek pembangunan. Semakin banyak yang terlibat, semakin baik.

Nah, karambol sadar benar akal hal itu, itulah mengapa olahraga didesain sedemikian rupa agar bisa dimainkan oleh empat pemain, empat kubu (bukan hanya dua). Serangannya pun bukan cuma serangan dua arah, melainkan serangan ke empat penjuru mata angin.

Dalam karambol, prinsip kebersamaan dijaga sebegitu eratnya. Kalah-menang itu nomor sekian, yang terpenting semuanya bisa ikut berpartisipasi dalam permainan.

Karambol berani menggebrak pakem

Dalam satu set, lapangan tenis berkali-kali dipel agar lantainya tidak licin. Dalam sepakbola sepatu yang dipakai para pemain sengaja didesain dilengkapi dengan pul agar tidak licin saat berlari di rumput. Di ajang balapan, para rider selalu memakai ban khusus saat hujan agar tidak licin.

Ya, licin seakan-akan menjadi musuh bagi banyak cabang olahraga. Tapi tidak bagi karambol. Karena dalam olahraga ini, licin adalah teman, slick are friends.

Maka jangan heran jika dalam permainan karambol, kristal dan tepung perlu sesekali ditaburkan di atas papan. Tujuannya apa? Ya biar licin.

Bisa dibayangkan, betapa hebatnya karambol karena berani menggebrak pakem olahraga yang biasanya sangat anti-kelicinan. Dalam olahraga ini, aspek tak baik seperti kelicinan bukannya dilawan, tapi justru dirangkul.

Iklan

Ini menjadi bukti sahih, bahwa karambol adalah permainan yang anti-mainstream. Tidak mengikuti arus pakem tertentu. Karena penggagas olahraga ini sadar, hanya tahi dan ikan mati yang selalu bergerak mengikuti arus.

Karambol mengajarkan filosofi syukur dan nilai-nilai sosial

Dalam karambol, ada aturan dimana para pemain hanya boleh memasukkan koin yang berada di luar kotak areanya sendiri. Kalau ia ingin menembak koin yang berada di areanya sendiri, ia tidak boleh menembaknya secara langsung, melainkan harus ngeban (memantulkan) gacuknya ke papan pantul milik lawan.

Aturan ini seakan menyindir kita para manusia, bahwa sejatinya, kita tak boleh kemaruk. Terkadang, segala sesuatu yang ada di hadapan kita tak selalu bakal menjadi milik kita. Karena sejatinya, semua sudah diatur jatah dan porsinya.

Aturan karambol ini juga mengajarkan kepada kita, bahwa di dunia ini kita tidak bisa mendapatkan segala sesuatunya sendiri, sebagai makhluk sosial, kita akan selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Pada titik ini, sudah sangat jelas, bahwa permainan ini bukan sekadar olahraga, namun juga bisa menjadi mentor sosial-spiritual yang baik dan filosofis.

Karambol itu sopan

Bisa dibilang, karambol adalah olahraga yang menjunjung tinggi kesopanan. Kenapa? Karena karambol adalah olahraga yang sunnahnya dilakukan sambil lesehan.

Seperti yang kita tahu, lesehan tak selamannya berarti lemah, tidak digdaya, marjinal, dan lain sebagainya. Ada kalanya, lesehan adalah pewujudan sikap sederhana dan sopan dalam bentuk yang paripurna. Dan sekali lagi, karambol sangat merepresentasikan hal itu.

Etapi Mas, bukankah selain karambol, catur juga bisa dimainkan sambil lesehan? Iya, memang bisa, tapi ya balik lagi ke poin pertama tadi, catur pemainnya cuma dua orang, padahal lesehan itu juga simbol ririungan, kesederhanaan yang dibalut kebersamaan. Lha kalau sudah lesehan tapi masih tetep egois, terus apa gunanya?

Karambol benar-benar merakyat

Ini poin yang paling penting, karambol adalah olahraga yang merakyat. Buktinya, sarana olahraga yang paling lumrah dan banyak disediakan di pos-pos ronda di seluruh lingkungan RT di Indonesia adalah papan karambol. Bukan meja biliar, lapangan futsal, ring tinju, apalagi lintasan sirkuit.

***

Nah, pembaca, itulah beberapa sebab mengapa karambol patut dipertimbangkan sebagai olahraga nasional yang merakyat dan patut untuk diberdayakan.

Wahai para praktisi karambol di seluruh tanah air, bersatulah! Perjuangkan tuntutan kalian agar olahraga ini kelak bisa dimasukkan dalam daftar olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional.

Salam karambol, salam bersahaja.

 

Agus Mulyadi,

Anggota tidak tetap PAKAR SENDI (Persatuan Karambol Seluruh Indonesia)

BACA JUGA Hansip Dibubarkan karena Banyak Sedot Anggaran Negara: Halo Mobil Dinas Pejabat, Halo? dan ESAI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2021 oleh

Tags: #PekanOlahragaKarambolPekan Olahraga Nasional
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Merasa Kualat Belajar Bahasa Prancis yang Mbulet dari Penutur Aslinya
Esai

Merasa Kualat Belajar Bahasa Prancis yang Mbulet dari Penutur Aslinya

1 April 2021
Penjaskes

Cara Supaya Stamina Saat Bermain Futsal tetap Awet Terjaga

29 Desember 2018
Pojokan

Aktivitas yang Bisa Dilakukan 4 Anggota DPRD Malang Tersisa yang Tidak Diciduk KPK

4 September 2018
Esai

Apa Hubungan Islam dengan Sepak Bola?

28 Juni 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.