Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Apa Hubungan Islam dengan Sepak Bola?

Muhammad Zaid Sudi oleh Muhammad Zaid Sudi
28 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Label olahraga islami selalu lekat dengan berkuda dan memanah. Sepak bola jelas tidak masuk hitungan. Olahraga yang banyak mengumbar aurat seperti itu, mana ada hubungannya dengan Islam?

Di tengah hingar-bingar Piala Dunia 2018 seperti sekarang ini, pertanyaan yang menyoal hubungan Islam dan sepak bola tentu menarik. Kebetulan saya menemukannya dari grup teman-teman yang menamakan diri kelompok jihadis. Saya bahkan yakin, pertanyaan-pertanyaan di grup saya ini belum tentu bisa dijawab oleh penulis bola sekaliber Mahfud Ikhwan atau Zen RS.

Saat itu saya ingin menjawab bahwa; “Hubungan keduanya baik-baik saja. Tapi melihat bahwa pertanyaan itu tampaknya dilontarkan bukan untuk bermain-main, saya urung ikut memberi tanggapan.”

Berbagai respons bermunculan dari pertanyaan yang sekaligus menjadi penyataan di grup tersebut. Ada yang bersyukur karena telah berhasil meninggalkan kebiasaan nonton bola. Beberapa ada yang menggerutu, bahkan menyebut permainan tersebut telah menjadi “tuhan baru” bagi banyak umat Islam.

Poinnya adalah sepak bola itu thagut. Selain sebagai hiburan yang buang-buang waktu, sepak bola dipandang mengandung banyak kerusakan. Dari aurat para pemain yang diumbar, penonton yang bercampur antara laki-laki dan perempuan, fanatisme berlebihan yang bukan pada tempatnya, juga praktik perjudian yang merebak di kanan dan kirinya.

Tak heran, ada yang kemudian meratapi kenyataan banyaknya umat Islam yang tergila-gila pada bola, sampai-sampai rela begadang padahal qiyamullail jelas-jelas lebih utama. “Malah, ada yang sudah berjenggot tapi masih nonton bola,” begitu komentar sebuah akun.

Saya tak habis pikir, apa pula hubungan antara jenggot dengan sepak bola? Satu hal yang pasti, kemeriahan terhadap sepak bola di kalangan muslim dilihat oleh orang-orang ini sebagai sebuah fenomena ganjil.

Lalu adakah olahraga yang memiliki kaitan dengan Islam? Oh, ada. Mereka menyebut memanah dan berkuda sebagai contoh. Keduanya adalah olahraga yang islami. Melakukannya adalah tindakan sunah dan berpahala karena telah direkomendasikan oleh Nabi Saw.

Sebagai usaha untuk mengorientasikan hidup secara penuh di jalan agama, saya kira itu adalah hal baik. Bahkan mulia kalau saya pikir, sepanjang cara pikir itu tidak sampai mencela pandangan lain yang berbeda. Meski saya sendiri membayangkan kedua olahraga tersebut tidak semudah kalau main sepak bola.

Tapi persoalannya, benarkah memanah dan berkuda memang islami?

Tiba-tiba saya jadi ingat Yusuf Qardhawi. Ulama yang tinggal di Qatar ini pernah menyebut tentang krisis yang melanda kaum muda muslim dewasa ini. Krisis tersebut berupa rendahnya pemahaman terhadap hadis. Gairah untuk menonjolkan-nonjolkan identitas keislaman sedang meluap-luap. Di mana-mana orang berupaya menampilkan diri dalam citra yang dianggap islami. Mulai dari cara berpakaian, bertegur sapa, sampai berolahraga. Tidak lupa, mereka juga rajin mengutip ayat atau hadis. Sayangnya, gairah tersebut tidak disertai pendalaman berkelanjutan tentang sumber-sumber keislaman.

Qardhawi juga menyodorkan contoh mengenai tren olahraga berkuda dan memanah yang sedang menggeliat belakangan ini. Minat tersebut tumbuh dan meluas tanpa dibarengi upaya untuk memahami motivasi, konteks, dan faktor-faktor lain yang menyebabkan lahirnya hadis tersebut. Hadis-hadis itu beberapa ada yang sekadar dicomot tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan situasi dan kondisi kekinian.

Ada delapan formula yang ditawarkan Qardhawi untuk memahami hadis dengan baik. Salah satunya, adalah dengan mengenali perbedaan antara sarana dan sasaran. Memanah dan berkuda amat vital pada masa Nabi Muhammad. Skill itu amat dibutuhkan untuk melindungi diri dan berperang. Karena itu sangat wajar Nabi menyarankan agar masyarakat Islam menguasai keterampilan tersebut. Relevansinya benar-benar sesuai konteks pada situasi dan masa itu.

Akan tetapi bukan berarti jenis olahraga tersebut otomatis menjadi islami. Memanah dan berkuda adalah sarana sedang sasarannya adalah agar umat memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk mempertahankan diri dari ancaman musuh. Dalam konteks sekarang, sarana itu bisa jadi berupa aktivitas yang lain.

Iklan

Seperti memanah misalnya, kalau olahraga ini dimaksudkan sebagai upaya untuk melatih fokus, maka karambol pun jadi tak jauh beda. Bahkan pada konteks yang lebih dekat, karambol lebih punya manfaat lebih luas dari segi manfaat, seperti misalnya jadi makin akrab dengan tetangga-tetangga. Pada akhirnya, selain mengikut sunah Nabi, jalinan silaturahmi pun bisa terjalin di lingkungan sendiri. Enak kan?

Nah, persoalan kemudian muncul karena sering tidak ditemukan pembeda konteks dalam memahami teks hadis, sehingga membuat semua yang disebut dalam hadis seolah-olah menjadi islami. Memanah atau berkuda lalu mengalami mistifikasi, seperti halnya bekam, madu, atau habbatussauda dalam pengobatan. Bahkan tak jarang beberapa produk semacam ini diiklankan dengan label-label agama. Di kemasan produk-produk kesehatan itu lalu disematkan hadis-hadis untuk meyakinkan calon pembeli, bahwa memakai produk tersebut bernilai ganda: penyakit sembuh plus dapat pahala.

Pun dengan olahraga memanah dan berkuda yang diiklankan sebagai sesuatu yang sesuai dengan ajaran Islam. Sepak bola yang tidak pernah disebut-sebut dalam hadis, jelas tidak memiliki kualifikasi ini. Kesimpulan premisnya kemudian: sepak bola sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan Islam.

Yang menarik, karena dianggap tidak ada kaitan dengan Islam, obrolan tentang sepak bola kemudian beralih pula ke soal poligami. “Daripada menonton bola mending nonton bola di dada yang halal,” komentar salah satu anggota yang lantas disambut dengan tawa bahagia oleh banyak akun lainnya. Lalu mendadak topik berlanjut dengan kiat berburu akhwat.

Ya, sepertinya Yusuf Qardhawi memang tidak berlebihan ketika menyebut bahwa kendala umat saat ini adalah krisis pemikiran.

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2018 oleh

Tags: bekamBerkudahabbatussaudahadisIslamKarambolmadumemanahpoligamiQatarSepak BolaYusuf Qardhawi
Muhammad Zaid Sudi

Muhammad Zaid Sudi

Kadang penulis, kadang penerjemah, kadang guru ngaji. Tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO
Eksplor

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO
Catatan

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.