Cerita ini semakin klise saja. Mahfud menang lagi. Setelah menghajar Sayembara Novel DKJ 2014 dengan novel Kambing dan Hujan, sekarang lewat novel Dawuk dia mengangkangi Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Mahfud kehujanan tepuk tangan dan decak kagum dari beribu-ribu orang tanpa henti. Dipuja gadis-gadis lagi, ditatap oleh sesama sastrawan dengan pandangan ngiler dan ngiri.

Dalam segenap kemegahan itu, pasti tak ada yang menduga bahwa 19 tahun silam anak itu nyaris nggak punya teman. Waktu itu dia seorang pemuda menjelang usia 20 yang pendiam, penyendiri, minder, dan selalu tampak kebingungan seolah tak tahu jalan pulang.

Pasti tak ada juga yang mengerti bahwa dia datang ke Jogja dengan begitu heroiknya. Naik bis dengan tiket termurah dari Lamongan, turun di Terminal Jombor, masuk bis kota, pindah sana-sini, lalu turun lagi. Nyasarlah dia di pos satpam kampus UNY.

“Pak, punya koran kemarin, Pak?” dia bertanya dengan sedikit pekewuh. Pak Satpam ternyata masih menyimpan koran yang diminta Mahfud.

Pelan-pelan Mahfud membuka lembar demi lembar koran di tangannya. Keterima ya syukur, enggak ya rapopo, nanti aku cari LPK, ikut kursus menjahit atau apalah, begitu dia membatin.

Puji Tuhan, ternyata namanya termuat di koran dua hari lalu itu. Mahfud lolos UMPTN. Mahfud Ikhwan. Sastra Indonesia. Universitas Gadjah Mada.

Hasil dari pengumuman di koran basi itulah yang akhirnya mengantarkan Mahfud untuk berjumpa dengan salah seorang sahabat yang kemudian ngintil ke mana pun dia pergi. Maka mereka pun bareng meski cuma setahun di Jurusan Sastra Indonesia, lalu lima tahun di rumah tua Bulaksumur B21 sembari pura-pura jadi aktivis pers mahasiswa, empat tahun di sebuah pabrik buku untuk anak-anak madrasah nun di Klaten sana, ditambah bareng sehari-harinya karena kontrakan mereka di Maguwo juga bersebelahan saja.

Si sahabat tukang ngintil itu adalah saya.

***

Kisah tentang seorang Mahfud adalah rentetan epos tentang kesombongan, skeptisisme, dan sinisme menahun. Rasanya tak ada sebiji makhluk pun di muka bumi yang tidak menerima komentar sinisnya kecuali dua orang saja: Aamir Khan dan Rhoma Irama. Saking sinisnya, bahkan Mahfud pun sinis kepada dirinya sendiri!

Coba simak status fesbuknya untuk merayakan kemenangan Dawuk di Kusala Sastra. Di saat semua kawan gegap gempita memberikan ucapan selamat atasnya, kalimat Mahfud malah tengik sekali:

“Selamat untuk teman-teman yang keinginan dan harapannya berkait Dawuk terkabul. Sebagai teman Warto Kemplung, saya ikut senang untuk kalian. Tapi dia ingin mengingatkan, bahwa ‘kebahagiaan itu seperti secangkir kopi. Semakin nikmat, ia semakin cepat habis,’ begitu Warto pernah bilang.”

Nah, bangsat bener, kan? Seolah kegembiraan itu milik teman-temannya, sedangkan Mahfud sendiri cuma turut bersuka! Betapa bikin gondoknya. Jadi saran saya, kelak kalau Mahfud dapat Nobel, mending sampeyan pura-pura nggak tahu saja. Nggak usah buang-buang waktu buat ngucapi selamat segala rupa.

Gaya kampret level kaffah begitu mengingatkan saya pada dialog dua tahun silam. Saat itu seorang kawan yang penuh semangat bertanya kepada Mahfud tentang posisi para penulis bagi peradaban manusia. Itu pertanyaan serius berlumur segudang pengharapan. Sebagai penulis sejati, tentu saja Mahfud menjawab begini:

“Penulis adalah koentji! Tanpa penulis, dunia akan semakin cepat dikuasai kekuatan hitam Dajjal! Maka menulislah! Niscaya namamu akan tercatat abadi dalam sejarah, dunia-akhirat!”

Malang, itu tadi cuma lamunan saya, dan sama sekali tidak keluar dari mulut Mahfud Ikhwan. Sebab jawaban Mahfud yang sebenarnya sungguh lain. Bukannya memberi semangat kepada si kawan, suara Mahfud justru terdengar loyo sembari sengak tak terperi kepada profesinya sendiri.

“Hmmm, gimana ya? Mungkin penulis tak beda dengan profesi lainnya. Seperti petani, nelayan, pemilik warung kopi. Ia hanya mengisi salah satu ceruk saja dari berbagai kebutuhan manusia.”

Saya duga, si kawan yang tadi bertanya itu langsung mengurungkan niatnya untuk ikut belajar menulis. Ia putus asa, pindah haluan menjadi pedagang pakaian islami, atau bunuh diri.

Begitulah. Mahfud Ikhwan tanpa sinisme ibarat Luhut Binsar tanpa Jokowi, atau Anies Baswedan tanpa Buni Yani. Keduanya memang diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi.

***

Saya tidak tahu dari mana lahirnya sikap-sikap ngehek Mahfud. Yang jelas itu tidak saya jumpai pada dirinya di fase satu tahun pertama waktu kami masih kuliah di jurusan yang sama. Boleh jadi semuanya berawal sejak ia mulai diam-diam bersaing dengan seorang kawan sesama penghuni rumah tua Bulaksumur B21.

Sebut saja kawan kami itu namanya Sa’i. Nama yang sangat berpahala, memang. Dia kuliah di Fisipol, tapi sangat mencintai sastra. Hafal banyak sekali puisi hebat, pintar menulis cerpen pula.

Ini tentu potensial mencabik-cabik eksistensi Mahfud. Sebab Mahfud kuliah sastra, cerpennya beberapa kali nongol juga di majalah Annida.

Semua mencapai titik kulminasi ketika Sa’i dibaiat menjadi murid kesayangan salah satu sastrawan Jogja paling masyhur kala itu: Puthut EA, penulis novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Dari segala ilmu kanuragan yang diturunkan Ki Puthut EA, Sa’i pun bisa mencetak prestasi terbesarnya. Ia memenangi satu lomba cerpen remaja tingkat nasional!

Maka betapa gelisah hati Mahfud. “Juri kan punya subjektivitas masing-masing,” begitu komentarnya menanggapi kemenangan Sa’i. Satu debut komentar skeptis campur sinis yang langsung di-huuu oleh beberapa kawan (salah satu kawan dekat Mahfud yang meng-huuu itu belakangan menjadi istri saya wkwkwk).

Ujungnya, Sa’i membuat sebuah keputusan yang menggemparkan. Ia keluar dari Bulaksumur B21. Namun yang paling menghantam bukanlah keputusan politiknya itu, melainkan misi yang dia sunggi. Dua hari sebelum Sa’i keluar, saya sendiri yang dia dekati.

“Bal, tempat ini tidak membuatku produktif. Aku mau keluar. Aku ingin … mengabdikan hidupku untuk sastra.”

Jeng jeeeeeeng!

Angin yang berembus di atap-atap perumahan dosen tiba-tiba berhenti. Beburung yang tadinya mengoceh di pangkal sulur beringin depan rumah tua seketika menutup rapat-rapat paruh mereka, terpaku dengan takzimnya. Kecoak-kecoak di WC rumah berlumut itu bernasib sama, mereka mendadak lupa cara menggetarkan sungut-sungut mereka.

Dan dentuman yang keras di kepala Mahfud membuatnya tak tahu harus berkomentar apa. Hmmm … mengabdikan hidup untuk sastra. Mengabdikan hidup untuk sastra. Betapa mulia.

“Ketahuilah, Sa’i,” akhirnya ini yang dikatakan Mahfud, “kalau acuanmu adalah Eka Kurniawan (penulis Cantik Itu Luka), maka kau tak boleh lupa bahwa Eka memang sudah kenyang menulis di majalah kita.”

Tapi nasihat itu tak terlalu digubris. Sa’i melangkah pergi, menjemput cita-cita sucinya, mengabdikan hidup untuk sastra.

***

Lama menghilang dari peredaran ternyata tak membuat dua tokoh kita itu kencang berproduksi. Satu dua kali cerpen Mahfud memang nangkring di Jawa Pos. Entah bagaimana kabar Sa’i.

Bertahun sesudahnya mulai muncul kabar bahwa Sa’i akan menerbitkan kumpulan cerpennya. Sialnya, ini terjadi di kala Mahfud juga tengah sibuk sebagai penulis di segmen kehidupan lain. Ya, Mahfud Ikhwan menjadi penulis buku pelajaran untuk anak-anak madrasah. Buku pertamanya pun hampir terbit, berjudul Bertualang bersama Tarikh: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas III.

Saya sendiri sudah lupa persaingan diam-diam itu hingga suatu sore, ketika ngopi bersama, Mahfud berucap dengan tersenyum, “Sa’i menerbitkan kumpulan cerpennya. Dan aku menerbitkan buku pelajaran untuk bocah madrasah ….”

Memang wajahnya tersenyum. Tapi, aroma getir menguar, menyusup bergerilya di sela-sela kepulan asap rokok saya.

Saya tak tahu, apakah peristiwa itu juga yang akhirnya membuat Mahfud memutuskan keluar dari pabrik buku Klaten cabang Maguwo itu. Saya dan beberapa teman lainnya memang resign pada akhir 2009 itu. Ada yang memang diberhentikan, ada yang sudah kelelahan. Namun, untuk Mahfud, saya tahu alasan dia: Mahfud ingin … mengabdikan hidupnya untuk sastra.

***

Tiba pada paragraf ini saya ingin mengakui, sesungguhnya saya tidak yakin apakah persaingan antara Mahfud dan Sa’i itu benar-benar ada. Itu semua toh cuma tafsir suka-suka dari saya. Namun, benar tidaknya tafsir tersebut tak lagi relevan untuk diperdebatkan sebab Mahfud sudah menegaskan kemenangan demi kemenangannya. (Apalagi ketika kemudian si Sa’i malah menerbitkan buku tentang tips dan trik menangkal bahaya laten Komunisme alih-alih mewujudkan penerbitan kumpulan cerpennya yang tertunda.)

Tanpa banyak obral janji dan kata-kata, Mahfud telah membuktikan diri mengabdikan hidupnya untuk sastra. Pertanyaannya, lantas untuk apa segala pengabdian itu? Untuk sekadar mengisi salah satu ceruk kebutuhan manusia, seperti petani, seperti nelayan, seperti pemilik warung kopi?

Bisa jadi. Namun, sebenarnya saya sangat berharap, setidaknya di antara ribuan orang yang memuja-muja Mahfud hari ini, ada satu gadis yang akan ia hampiri untuk kemudian disapanya dengan manis hati.

“Halo, Mbak, kamu cantik sekali. Maukah barang dua jam saya ajak ngopi?”

Komentar
Baca juga:  Fesyen Mahasiswa Paling Ulala ada di ISI Yogyakarta
Add Friend
No more articles