Dalam sepak bola ada istilah supersub. Sebutan ini berlaku untuk pemain pengganti yang memainkan peranan penting dalam pertandingan genting. Dia memang pengganti, masuk di tengah maupun akhir pertandingan, tapi bisa mencetak gol penentu, misalnya.

Ole Gunnar Solskjær adalah supersub yang paling saya ingat. Masuk menggantikan Andy Cole di 10 menit akhir pertandingan final Liga Champions antara Bayern Muenchen vs Manchester United, 1999, pemain kerempeng bertampang bayi ini malah menjadi penentu kemenangan MU di menit 90+3.

Ada banyak pemain tipikal Solskjær di berbagai klub, tapi di dunia non bal-balan, hanya sedikit orangnya. Dari kelangkaan itu, tersebutlah nama Jenderal (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan.

Pak Luhut adalah prajurit Kopassus. Tentu saja dia orang spesial. Jadi, jangan heran jika beliau memainkan posisi penting di pemerintahan Jokowi. Selain Pak Luhut, ada Jenderal (Purn.) Sutiyoso yang memecahkan rekor sebagai Kepala BIN tergaek sepanjang sejarah. Baret merah lain, Jenderal (Purn.) A. M. Hendropriyono, juga punya peran penting pada kemenangan Jokowi di Pilpres 2014. You know dooong ….

Bahkan, di kemudian hari, menantu Pak Hendropriyono, Mayjen Andika Perkasa yang ganteng dan gagah itu menjabat sebagai kepala Paspampres. Adapun menantu Pak Luhut, Kolonel Maruli Simanjuntak, juga menjabat sebagai Komandan Grup A Paspampres. Seperti kedua mertuanya, dua prajurit pengawal presiden itu juga baret merah. Lengkap sudah.

Jokowi tampaknya punya selera khusus pada pasukan spesial kita, sebab lawan Jokowi di pilpres, kita tahu, juga menghabiskan karier keprajuritannya dengan memakai baret merah. Its okay, Mr. President!

Di antara semua baret merah di sekitar Jokowi, kelihatannya Pak Luhut yang paling disayang Jokowi. Demikian sayangnya Jokowi kepada Pak Luhut, ketika Kuntoro Mangkusubroto tak lagi menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan RI, Pak Luhutlah yang menggantikannya (31 Desember 2014—2 September 2015).

BACA JUGA:  Hanya di Era Jokowi, Prestasi Indonesia di Sea Games Melorot

Tatkala Tedjo Edhy Purdijatno tak lagi menjabat Menkopolhukam, Pak Luhut menjadi supersub-nya sejak 12 Agustus 2015 sampai 26 Juli 2016. Saat Rizal Ramli diberhentikan sebagai Menko Bidang Kemaritiman pada 26 Juli 2016, saat itu pula Pak Luhut nongol menggantikannya.

Dan, kita tahu, manakala Arcandra Tahar ketahuan berpaspor Amrik, tuan jenderal berkumis tipis itu juga yang ditunjuk Jokowi sebagai pelaksana tugas menteri ESDM. Luar biasa!

Semua fakta itu sampai bikin saya dag-dig-dug ketika detik-detik upacara agustusan di Istana Negara 2016 silam Gloria Natapradja Hamel yang manis itu gagal menjadi paskibraka karena berpaspor Prancis. Khawatir Jokowi akan menunjuk Pak Luhut juga sebagai pengganti Gloria. Untunglah prediksi ini tidak terjadi.

Melihat performa timnas Garuda U-22 yang memble setelah gagal lolos kualifikasi Piala Asia U-23 Juli silam dan saat ini juga kurang meyakinkan dalam ajang SEA Games 2017, jangan-jangan nanti Pak Luhut ditunjuk jadi pengganti Luis Milla? Pelatih berambut kriwil ini memang sukses membawa Spanyol U-21 menjadi kampiun Eropa, 2011 silam. Sukses menjinakkan banteng Spanyol rupanya belum menjadi jaminan bakal sukses merawat Garuda.

Kini, Pak Luhut si supersub yang sering gonta-ganti jabatan ini sudah anteng duduk manis sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia. Kalau ada yang bikin Jokowi mumet, bisa dijamin, di situ ada Pak Luhut yang bakal tampil.

Selain Pak Luhut, ada menteri Jokowi yang unik. Dia bekerja dalam diam. Namanya Puan Maharani binti Taufik Kiemas. Motonya persis mobil Panther, “Nyaris Tak Terdengar”. Tapi, sampai kapan pun bisa dipastikan posisinya tak akan diganti.

Dua kali kocok ulang kabinet, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Mbak Puan, selalu lolos. Dia tetap bertahan di posisinya. Jabatannya aman. The untouchable. Sama sekali tidak diotak-atik. Penyebabnya sepele: Jokowi lupa pernah membentuk pos kementerian ini. Lagi pula, selama menjabat, Mbak Puan kinerjanya tidak pernah buruk. Sebab beliau tidak tahu pekerjaannya.

BACA JUGA:  Lima Peristiwa Paling Kontroversial di Tahun 2015

Saya membayangkan, di awal mula Jokowi membentuk kabinet, Ibunda Megawati tercinta mendampinginya dengan sepenuh kasih sayang, sembari berkali-kali meliriknya tanpa kata-kata. Jokowilah yang justru salah tingkah. Dalam imajinasi saya, posisi Jokowi saat itu seperti manajer klub sepak bola yang mau membentuk tim impiannya. Lalu datanglah direktur klub yang tiba-tiba bertanya, “Anakku dikasih posisi apa, Jok?”

Gantian Jokowi yang mumet. Tepok jidat. Sebab, dia tahu tidak mungkin melawan kehendak direktur klub. Di sisi lain, dia tahu kemampuan sepak bola anak direktur klub itu payah. Akhirnya, Jokowi memutuskan ….

“Siap, Bu Direktur. Kami sudah siapkan skema tim impian yang josss ….”

“Oke. Apakah anakku termasuk di dalamnya?”

“Tentu, Bu! Tapi, karena anak Ibu sangat istimewa dan sepak bola adalah permainan keras dan brutal di lapangan hijau dan, ehem, saya tidak ingin melihat anak Ibu cedera digasak pemain lawan, sudah saya siapkan posisi yang spesial … hmmm.”

“Spesial? Wah, posisi apa itu, Jok?”

“Dia menjadi penyelamat bola.”

“Wow, tugasnya apa, Jok?”

“Dia berlari-lari kecil di luar lapangan, mengawasi para pemain dan pergerakan bola, serta menyelamatkan bola jika bola tersebut keluar lapangan dan langsung memberikannya kepada pemain. Lalu menyemangati mereka. Demikian seterusnya. Luar biasa, bukan? Penyelamat bola adalah posisi baru yang sangat strategis, punya tugas mulia, dan punya kinerja yang sangat penting, Bu ….”

Direktur klub manggut-manggut. Puas. Lalu memutuskan menaikkan gaji Jokowi sebagai manajer klub.

HIDUP PENYELAMAT BOLA!

Komentar
Add Friend
No more articles