Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Bersiap Dengan Pertanyaan “Kapan nikah?” di Arisan Keluarga

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
1 September 2018
A A
kapan nikah
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Curhat

Dear, Gus Mul.

Perkenalkan, nama saya Nisa.

Langsung saja ya, Gus. Jadi begini, Gus. Di dalam keluarga besar saya ada satu kebiasaan yang  cukup unik, yakni arisan antara keluarga. Arisan ini diadakan sebulan dua kali. Pesertanya ya perwakilan masing-masing keluarga. Jumlah keluarga dalam keluarga besar saya cukup banyak. Dari pihak turunan kakek ada tujuh, sedangkan dari turunan nenek ada sepuluh. Ditambah dari keluarga dekat ada tiga. Jadi total ada sekitar dua puluh peserta lah.

Nah, di keluarga saya, yang biasanya jadi perwakilan adalah ibu saya. Maklum, namanya juga arisan, pasti yang lebih antusias adalah ibu-ibu. Di keluarga yang lain pun agaknya juga begitu.

Masalah bermula saat bapak saya mendapat panggilan tugas proyek dari kantornya selama dua bulan ke Jogja. Bapak saya ini kerjanya sebagai sound visualiser, emh, atau apalah saya kurang paham, pokoknya kerjaannya ngedit-ngedit suara di film-film gitu. Nah, kebetulan kantor tempatnya bekerja dapat semacam kerjaan proyek dari pemerintah daerah yang mengharusnya bapak untuk ikut ke Jogja.

Ternyata, Ibu ngebet memaksa untuk ikut ke Jogja. Katanya pengin menemani bapak. Dan bapak tak keberatan, malah senang, sebab bakal ada yang mengurus dirinya selama dua bulan saat di Jogja.

Nah, karena Ibu ikut Bapak ke Jogja, sebelum berangkat, ia menyuruh saya untuk menggantikan dia sebagai perwakilan arisan selama dua bulan.

Jujur, saya sangat malas dengan arisan ini. Bukan apa-apa, tapi saya muak karena saya pasti bakal ditanya sama budhe dan bulik-bulik saya soal kapan saya mau menikah.

Maklum sih, saya sudah 29 tahun, dan belum juga menikah. Boleh dibilang, saya adalah salah satu gadis tertua di keluarga besar saya yang belum juga menikah. Tentu bukan karena saya tak laku, saya hanya memang belum siap saja untuk menikah.

Saya sudah hafal akan hal ini, sebab setiap ada acara kumpul keluarga, pertanyaan yang hampir selalu mampir kepada saya adalah memang pertanyaan tersebut.

Lebaran kemarin, misalnya, entah berapa kali saya ditanya “Kapan nikah?” sama bulik-bulik dan budhe-budhe saya. Hih, rasanya emosi betul. Apa mereka nggak sadar kalau pertanyaan mereka cukup membuat saya sensi. Lagian, kalau saya nikah, yang nikah kan ya saya sendiri, bukan mereka. Ngapain mereka sibuk ngurusin urusan kapan saya nikah?

Nah, menurut Gus Mul, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus tetap mewakili arisan, atau menolak mentah-mentah permintaan ibu saya?

~Nisa

 

Iklan

Jawab

Dear Nisa

Maaf jika curhatanmu baru bisa saja jawab tiga minggu setelah kamu mengirimkannya. Mungkin jawaban ini telat, sebab saya yakin, ibumu sekarang mungkin sudah di Jogja.

Namun begitu, walau telat, semoga jawaban ini masih cukup berguna.

Beberapa waktu yang lalu, adik saya menikah. Ia mendahului saya. Dan dalam acara resepsi kemarin, bukan hanya keluarga besar saya yang memberondong bertanya kapan saya akan menikah, namun juga banyak orang di luar keluarga saya.

Dalam hal ini, saya merasa punya beban yang jauh lebih besar ketimbang beban yang kamu tanggung.

Namun begini, Nisa.

Dalam keluarga, pertanyaan soal nikah adalah pertanyan yang sebenarnya lumrah. Sayang, beberapa orang mungkin memang tidak terlalu terbiasa dengan hal tersebut. Biasanya ditanyakan oleh bulik atau budhe kepada keponakan-keponakan mereka.

Pertanyaan itu, di luar bahan basa-basi, bisa juga merupakan salah satu bentuk verbal kepedulian mereka pada keponakan-keponakannya.

Dengan bertanya kapan nikah, itu sudah menjadi bukti bahwa mereka ikut bersuka-cita kalau kita menikah.

Dalam keluarga, nikah adalah perkara komunal. Urusan nikah bukan urusanmu sendiri. Tantemu, bulikmu, paklikmu, budemu, embahmu, kerabat dekatmu, semua berhak punya urusan pada pernikahanmu. Mereka orang pertama yang bakal sambatan, yang bakal cawe-cawe, yang bakal menyumbang tenaga dan (mungkin) harta paling besar demi lancarnya acara resepsimu.

Orang-orang terdekatmu, keluargamu, kerabatmu, selalu punya andil yang besar pada hidupmu.

Beda soal kalau yang tanya itu bukan keluargamu. Kalau yg ini, kamu jawab dengan judes pun silakan. Bahkan kalau perlu, pas ditanya “Kapan nikah?” jawab sekalian, “Entar ah, masih pengin freesex!”

Dulu saya punya bulik yang sering sekali bertanya soal sekolah saya. Nilai saya bagus apa tidak, di sekolah dapat ranking berapa? Dsb dsb.

Pada titik tertentu, pertanyaan tersebut mungkin terlihat sangat mengganggu, utamanya jika saya ternyata murid yang goblok dengan banyak nilai di raport yang berwarna merah ketimbang biru.

Namun belakangan baru saya ketahui, bulik saya itulah yang, dulu saat orangtua saya kesulitan membayar uang sekolah, ikut membantu membayarkan uang sekolah saya. Dia bahkan pernah menjual ali-ali emas miliknya demi meminjami orangtua saya uang untuk saya masuk ke SMA.

Dengan fakta tersebut, kalau kemudian saya menganggap pertanyaan-pertanyaan bulik saya adalah pertanyaan yang tidak sepantasnya, maka betapa kurangajarnya saya.

Nah, Nisa. Saya tak tahu kamu sudah menentukan ikut arisan atau tidak. Tapi saran saya, ikutlah. Tak perlu anti dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Percayalah, bulik-bulik dan budhe-budhemu bukan sekadar bertanya kapan nikah, lebih dari itu, mereka juga berharap dan bahkan ikut mendoakanmu.

Terakhir diperbarui pada 1 September 2018 oleh

Tags: keluargaNikah
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO
Esai

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.