Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Teruntuk Orang Tua yang Suka Melaporkan Guru Anaknya ke Polisi

Arief Balla oleh Arief Balla
15 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak orang tua yang memutuskan melaporkan guru anaknya ke polisi, hanya karena langsung percaya pada aduan cengeng anaknya.

Kesabaran Nur Kalim dalam menghadapi perundungan siswanya menyebar di sosial media. Ia mendapat perhatian luas, mengundang dan menarik simpati. Ia mendapat tawaran umrah, yang kemudian ditolaknya. Hadiah pun berdatangan, termasuk dari Hotman Paris yang mengirimkan uang padanya. Entah karena memang berniat memberikannya atau diam-diam sedang menyinggung pemerintah soal gaji honorer.

Tapi apa iya Nur Kalim benar-benar tidak meladeni perbuatan kurang ajar siswanya itu karena sabar belaka? Ternyata tidak juga. Ia mengaku sempat emosi. Namun, katanya ia ingat dengan video-video tentang guru dan murid yang pernah viral sebelumnya.

Mungkin maksudnya video atau berita viral tentang guru-guru yang sering dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa—syukur kalau tidak dijebloskan ke penjara—padahal niatnya ingin mendidik. Selain dilaporkan ke polisi, ada pula berita tetang guru yang menegur siswanya lalu malah dibalas dengan tonjokan oleh orang tua siswa.

Sementara itu, perhatian besar kepada Nur Kalim ini mungkin karena ia bertindak sebagai korban—sehingga media berpihak padanya dan memviralkannya. Seandainya jika ia tidak menerima perlakuan tersebut dan membalas perlakuan siswanya dengan cara yang tegas, mungkin media akan bersikap sebaliknya.

Apalagi jika ada keluarga siswa yang sengaja mengangkat dan mem-framing berita tersebut ke media seolah-olah ia adalah korban. Lalu media yang memberitakannya adalah media abal-abal yang hanya untuk membedakan penggunaan tanda koma saja tidak becus. Ataupun media yang tidak mengikuti kaidah dan kode jurnalistik seperti cover both sides: hanya melihat dari sisi murid misalnya. Maka, habis sudah kariernya.

Sampai hari ini, mungkin kita masih prihatin jika ada siswa dan keluarganya yang menghajar gurunya sendiri. Mungkin kita masih prihatin sembari diikuti sumpah serapah jika ada guru yang dilaporkan oleh orang tua siswanya, meski sering kali hanya karena persoalan sepele. Tapi yang biasanya terjadi, justru semua ini pelan-pelan menjadi biasa saja—dan malah terjadi berulang.

Ketika guru-guru semakin mudah dikriminalisasi, maka yang ditakutkan, guru tak mau lagi tegas pada siswanya karena khawatir dipolisikan. Inilah salah satu hal yang membuat Nur Kalim harus berpikir berulang-ulang untuk melawan—apalagi kalau ingat tentang video yang pernah viral sebelumnya.

Video dan berita guru yang dipolisikan telah menjadi sebuah ketakutan dan ancaman bagi guru. Lagi pula, siapa, sih, yang mau dipenjara hanya karena mengurus satu anak bandel yang kemudian berlagak seolah-olah adalah korban?

Saya sebetulnya setuju jika guru harus mengubah pendekatan mengajarnya. Tantangan sudah berubah dan pendekatan pedagogi mestinya juga menyesuaikan persoalan zaman.

Tapi, bukan berarti orang tua juga ikut-ikutan mengubah sikapnya dengan gampang sekali melaporkan guru anaknya ke polisi. Jewer dikit melapor, dicubit dikit angkat ke media sambil melebih-lebihkan. Biasanya mereka sambil teriak-teriak bahwa sekolah seharusnya adalah tempat untuk mendidik. Padahal kan, sekolah pertama untuk mendidik adalah keluarga. Sudah jelas bahwa waktu yang dihabiskan siswa di sekolah tidak sebanyak dengan waktunya saat berada di rumah.

Orang tua harusnya juga dapat menjadi teladan. Kalau sedikit-sedikit melapor, kemungkinan besar anaknya tentu bakal mudah mengadu jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Alih-alih guru membentuk karakter siswa, lama-lama karakter guru malah dibentuk oleh orang tua siswa. Ya, bagaimana  tidak? Kalau siswa kena masalah sedikit di sekolah, dia lapor orang tua, lalu orang tua—yang katanya sayang pada anaknya ini—hanya mendengarkan pengakuan anaknya dan langsung main lapor ke polisi saja.

Yang terjadi kemudian, guru menjadi takut, dan tidak berani menindak siswanya yang melanggar. Mereka tidak berani menegakkan aturan. Padahal kita tahu, salah satu kunci keberhasilan adalah tegaknya aturan. Ya, tapi mau bagaimana. Kalau anaknya ditegur karena bawa hape ke sekolah, merokok, atau berkelahi, eh, malah nanti gurunya yang dihajar.

Iklan

Sementara itu, siswa justru semakin berleha-leha karena merasa semua keinginannya bisa terpenuhi. Bisa merokok di sekolah suka-suka, nonton film porno di kelas, membolos dan menganggu temannya yang lain, membully temannya yang lemah. Lantas ketika ditegasi dan dihukum sesuai ganjarannya, si anak yang cengeng ini bakal mengadu ke orang tua. Lagi-lagi, orang tua malah menuruti kemauan anaknya—lalu memilih balas dendam ke sang guru untuk melampiaskan emosi belaka.

Bisa jadi karakter si anak memang hasil dari didikan orang tuanya. Yang berusaha memenuhi semua keinginan anaknya. Anaknya minta hape baru, ya, dibelikan meski belum butuh-butuh amat. Anaknya minta motor juga dibelikan, meski belum cukup umur untuk punya SIM. Kalau anaknya nabrak orang, ya orang lain yang disalahkan. Kemudian anaknya dibela dengan alasan masih di bawah umur. Lah? Gimana, coba?

Tanpa bermaksud membela kekerasan, tapi orang tua sangat perlu melihat ke dirinya terlebih dulu. Apakah mereka sudah mendidik anaknya dan menjalankan perannya sebagai guru pertama bagi anaknya—terutama dalam hal perilaku—dengan baik?

Orang tua berhak protes, kok, jika anaknya dididik dengan cara tidak mendidik—itu pun setelah tabayyun ke gurunya. Tapi, kalau terus-terusan protes dan pengin anaknya dididik sesuai maunya, ya lebih baik silakan mencari sekolah yang sesuai saja.

Banyak orang tua yang petantang-petenteng mengkritik cara mendidik guru di sekolah. Tapi dirinya sendiri ternyata tidak becus mendidik anaknya. Sekolah memang tempat mendidik bagi yang mau dididik. Tapi kalau si anak didik ini justru menimbulkan masalah, ya kembalikan saja ke orang tuanya.

Terakhir diperbarui pada 15 Februari 2019 oleh

Tags: gurulapor polisimelaporkan guruorang tua
Arief Balla

Arief Balla

Sedang Studi Master di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat.

Artikel Terkait

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
undangan pernikahan versi cetak atau digital jadi perdebatan di desa. MOJOK.CO

Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi

30 April 2026
Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
Usul Menteri PPPA soal pindah gerbong perempuan di KRL hanya solusi instan, tak menyentuh akar persoalan MOJOK.CO

Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.