• 609
    Shares

MOJOK.COTerpantau di media sosial dan jejak pencarian Google bahwa puisi Neno Warisman makin panas diperbincangkan. Menggugat Tuhan itu memang enak.

“Ketika doa itu bertendensi politis apalagi mengancam Allah ini sungguh sangat disesalkan dan ini sudah tidak pantas dilakukan seorang hamba Allah, terlebih di tempat umum.”

Kalimat itu diucapkan oleh Ikhsan Abdullah, Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ikhsan menyesalkan keputusan viralnya puisi Neno Warisman yang dibacakan di malam Munajat 212. Sebuah puisi, yang konon dianggap sebagai doa itu dianggap tidak pantas. Selain dianggap menyerang sesama, puisi Neno Warisman itu keterlaluan karena mengancam Tuhan.

Begini redaksional puisi Neno Warisman, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, yang viral dan jadi kontroversi hingga saat ini:

Karena jika Engkau tidak menangkan

Kami Khawatir ya Allah

Kami Khawatir ya Allah

Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Membaca puisi Neno Warisman di atas secara “apa adanya” kita bakal mengerutkan dahi. Kok Tuhan bisa sampai diancam? Siapa sih manusia ini berani-beraninya nantangin dan nakut-nakutin Tuhan? Namun, bagi Fahri Hamzah, puisi tersebut merupakan potongan doa. Oleh sebab itu, lantaran berupa potongan doa, jadi tidak masalah.

Wah, kalau puisi Neno Warisman dianggap sebagai doa, bukankah masalah makin tambah runyam? Konon, doa dianggap sebagai cara manusia berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika hendak berdoa, kita membawa diri menuju sikap yang layak.

Mulai dari cara berpakaian–tentu yang rapi dan pantas–hingga kebersihan diri. Teman-teman muslim di kantor Mojok tentu tidak perlu lagi diajari untuk wudu sebelum salat atau ketika menunaikan ibadah salat Jumat. Pun mereka juga tidak lupa memakai sarung ketika hanya bercelana pendek.

Baca juga:  Jokowi Bisa Kalah, Selisih dengan Prabowo Kini 11 Persen

Lain teman-teman muslim, mereka yang Katolik atau Kristen juga bersikap selayak mungkin ketika hendak bertamu ke rumah Tuhan. Pakai kemeja, celana panjang, dan bersepatu. Mempatutkan diri di depan Tuhan adalah sikap paling sederhana yang bisa kita lakukan. Apalagi nanti ketika kita memejamkan diri berdoa sekhusyuk mungkin untuk meminta sesuatu. Masak yang sudah mau meminta, masih pakaian yang nggak pantas.

Selain mempatutkan diri dengan berpakaian rapi, kita juga menyiapkan hati dan sikap. Berdoa sikap dengan baik, menggunakan narasi yang manis, dan tutur kata yang lembut. Saya yakin begitulah kita diajari cara berdoa ketika masih kanak. Kalau berdoa sembarangan, apalagi dengan suara keras, yang ada malah digampar kepala saya oleh bapak dan ibu.

Nah, kalau sudah diajari begitu, apa ya kita berani kurang ajar sama Tuhan? Apalagi sampai menggunakan redaksional yang mengancam, seakan-akan hanya golongan tertentu yang bakal menyembah Tuhan, sementara golongan lain adalah penyembah pohon rambutan.

Ketika golongan “penyembah Tuhan” kalah di Pilpres 2019, maka golongan penyembah rambutan akan berkuasa. Tuhan, Allah SWT, akan digantikan Dewa Rambutan. Golongan penyembah rambutan ini akan menyembah banyak dewa, mulai dari Dewa Rambutan Aceh, Dewa Rambutan Klengkeng, dan Dewa Rambutan Binjai.

Dewa-dewa ini rutin meminta persembahan berupa satu ton pupuk urea kualitet terbaik. Kalau persembahannya kurang, azab dikubur hidup-hidup di dalam pohon rambutan akan menimpa para umatnya.

Kan ya ndak begitu cara mainnya…

Namun, kenyataannya, puisi Neno Warisman adalah cerminan manusia, cerminan kita masing-masing. Ketika hampir pada titik putus asa, kita baru ingat Tuhan. Dan ketika semakin terdesak dan kehabisan kesabaran di tengah cobaan, yang ada malah marah-marah. Pada akhirnya, keraguan, hujatan, dan ancaman kepada Tuhan yang muncul.

Baca juga:  5 Alasan Rahasia Kenapa Piala Dunia Diselenggarakan 4 Tahun Sekali

Bisa jadi, Neno Warisman dan para pendukung capres 02 putus asa karena kesulitan mengejar elektabilitas capres 01. Apalagi di debat capres yang kedua, Prabowo tersudut oleh salah satu serangan Jokowi.

Ketika orang putus asa, berbagai cara yang, maaf, agak konyol dan norak, tiba-tiba muncul. Misalnya menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat, menyerang pihak lawan secara personal lewat hoaks, menihilkan prestasi lawan yang sebetulnya nyata adanya, bikin puisi kontroversial hingga digugat oleh para ahli agama, memplesetkan lagu anak-anak, menggangap kejadian alam (baca: kotoran burung) sebagai pertanda, hingga bikin puisi yang konon doa dengan narasi mengancam Tuhan.

Ketimbang berusaha “kampanye” dengan cara yang cantik dan taktis, puisi Neno Warisman memang menggambarkan ketakutan dari pihak Prabowo. Berusaha bikin kampanye yang jelas dan bisa dipahami warga itu memang pekerjaan yang berat.

Jauh lebih mudah menyalahkan dan mengancam Tuhan. Mengapa? Karena hanya tinggal menyusun kalimat saja. Toh Tuhan tidak akan tiba-tiba menjatuhkan petir di atas mereka yang mengancam eksistensinya.

Kami Khawatir ya Allah

Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Dhuuuaaarrrr….tiba-tiba petir datang menyambar mimbar. Kan nggak begitu cara mainnya. Cara Tuhan bekerja memang misterius. Manusia menamakannya sebagai mukjizat dan azab. Ia bahkan akan mengampuni manusia yang mau bertobat. Enak betul jadi umat Tuhan.

Maka, ketimbang bikin program yang rumit bikin otak cupet makin mampet, lebih baik mengancam Tuhan saja. Sudah gratis, tanpa perlu banyak berusaha lagi. kalau sudah mentok ya bikin acara seperti puisi Neno Warisman. Sederhana bukan…