Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kebakaran Lahan Australia: Kehancuran di Depan Mata, Tak Perlu Menunggu PD III

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
7 Januari 2020
A A
kebakaran australia kebakaran lahan kerugian jumlah korban besaran lahan koala kangguru perubahan iklim bencana iklim krisis iklim MOJOK.CO

kebakaran australia kebakaran lahan kerugian jumlah korban besaran lahan koala kangguru perubahan iklim bencana iklim krisis iklim MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kebakaran Australia yang diperkirakan sudah menghanguskan setengah miliar (sekali lagi: SETENGAH MILIAR) satwa ini masih akan berlangsung sampai berbulan-bulan ke depan.

Sekitar dua ribu rumah di Negara Bagian New South Wales hancur dan sebagian rusak berat akibat kebakaran semak (bushfire) dan hutan di Australia. Per hari ini (6/1), 25 nyawa manusia telah melayang. Api kebakaran di Australia ini diprediksi akan terus membara sampai berbulan-bulan ke depan.

Iklan

6 juta hektare lahan terbakar, Negara Bagian New South Wales terparah

Kebakaran Australia melanda secara rata hampir di semua wilayah, dengan New South Wales menjadi bagian paling parah didera. Hingga Januari 2020, lebih dari 100 titik api masih membara di New South Wales.

3D visualization of Australia’s Bushfire. Data from NASA’s FIRMS (Satellite data regarding fires) between 12/05/2019 – 01/05/2020. These are all the areas which have been affected by bushfires. Not all areas are still actively burning.

Source: Anthony Hearey pic.twitter.com/m9IsUHwHwB

— CEDR Digital Corps (@CEDRdigital) January 7, 2020

Associated Press mengabarkan bahwa saat ini area kebakaran sudah mencapai 6 juta hektare. Sebagai perbandingan, luas lahan kebakaran Australia lebih luas ketimbang luas negara Belgia dan Haiti dijadikan satu. Kebakaran dahsyat yang melanda lahan dan hutan di Indonesia 2019 lalu pun jadi tampak kecil karena hanya 857 ribu hektare. Suhu di Sydney, ibu kota New South Wales, teluh menyentuh 48,5 derajat Celsius, dengan indeks kualitas udara di atas 200 atau beracun.

AUSTRALIA FIRES:

-New record high temperature of 48.5°C in Sydney

-500 MILLION animals have died

-24 People dead, 1500 homes lost.

-6.3 MILLION hectares of land burned and destroyed

Air quality readings above 200 are considered hazardous.

Canberra has a reading of 7,700. pic.twitter.com/jaMyCUpg28

— Global Breaking News (@GBNReports) January 4, 2020

Api melahap banyak tempat. Mulai dari dataran bersemak, area hutan, dan Taman Nasional Blue Mountains. Di Melbourne dan Sydney, perumahan-perumahan sudah dilalap api. Asap tebal membumbung tinggi.

Hari ini kebakaran Australia mencapai titik puncak. Warna langit berubah menjadi merah. Garis pantai New South Wales dan Victoria dilalap api. Ribuan orang mengungsi. Namun, ruang gerak mereka seperti terbatas. Mereka terjebak di tengah, dikelilingi api. Sinyal seluler pun hilang.

Penyebab kebakaran Australia

Setiap tahun kebakaran memang selalu terjadi. Mereka mengenalnya sebagai dry season. Namun, untuk tahun ini terjadi ekeringan ekstrem ditambah angin kencang. Titik api dapat dengan mudah menyebar dan muncul di tempat lain.

Di Australia, biasanya peristiwa alam yang menjadi penyebab kebakaran. Misalnya, sambaran petir di area hutan yang kering karena kemarau panjang. Di akhir Desember 2019, sambaran petir di kawasan East Gippsland Victoria menyebabkan kebakaran. Api memanjang sampai 20 kilometer hanya dalam waktu lima jam.

Selain peristiwa alam, kebakaran Australia juga disebabkan oleh ulah manusia. Pada November 2019, New South Wales Rural Fire Service menahan bocah 19 tahun yang dicurigai merupakan anggota sekumpulan orang yang suka melakukan pembakaran. Dia dituntut dengan tujuh tuduhan pembakaran secara sengaja yang dilakukan secara enam minggu.

Selain itu, bencana iklim juga menjadi sebab. Sebuah fakta yang secara arogan ditepis Perdana Menteri Australia Scott Morisson. Morisson berkelit dengan menyebut kebakaran memang sudah rutin terjadi alih-alih diperparah oleh kebijakan pemerintahannya terkait krisis iklim. Kebakarannya sih memang rutin, tapi nggak sampai melahan 6 juta hektare lahan juga.

Morrison mengabaikan fakta bahwa di 2019, Australia mengalami musim kemarau terparah sepanjang sejarah. Badan Meteorologi Australia mencatat Desember 2019 sebagai bulan paling kering. Suhu di Australia menyentuh 41 derajat Celsius.

Morisson juga mengabaikan surat dari mantan kepala pemadam kebakaran dan SAR New South Wales pada tahun lalu yang berisi peringatan bahaya perubahan iklim di dry season. Namun, meski api sudah melalap 6 juta hektare lahan, Morisson tidak mengeluarkan satu kebijakan pun untuk mengatasi masalah krisis iklim ini.

Iklan

Tak heran jika seorang relawan pemadaman api sampai menolak berjabat tangan dengan Morisson. Natal yang lalu, ketika kebakaran mulai meningkat, Pak Scott malah berlibut ke Hawaii. Politisi gila nggak cuma dikoleksi Indonesia, ternyata.

Setengah miliar satwa jadi korban

Chris Dickman, dosen Universitas Sydney, memperkirakan jumlah satwa yang mati karena kebakaran Australia bakal jauh lebih tinggi ketimbang estimasi yang sudah dibuat. Saat ini, 480 juta satwa diprediksi hangus, termasuk di dalamnya mamalia, unggas, dan reptil.

Firefighter helping a thirsty koala during these tragic bushfires in Australia ??pic.twitter.com/oMz7LXmtZ8

— ? (@Justbestials) January 6, 2020

A desperate koala suffering through the soaring temperatures in South Australia approached a group of cyclists to drink from a water bottle. pic.twitter.com/n8PizPjHDe

— ANDREW ALBERTT (@ANDREW1ALBERTT) January 5, 2020

A kangaroo ? rushes past a burning house in Lake Conjola, New South Wales, Australia, on Tuesday.
Credit… Matthew Abbott for The New York Times pic.twitter.com/abykHE40Sf

— Becca From Texas⭐️ (@BeccaFromTX) January 4, 2020

This crisis is real
This little joey (baby kangaroo) caught in the fence trying to escape the fires in Australia, tells the story to the world
So far, nearly 500 million animals have died, and if that does not alarm us, nothing will.#Tiredearth #AustralianFires #AustraliaBurns pic.twitter.com/F1I7z8A8Zs

— Rebecca Herbert (@RebeccaH2020) January 5, 2020

Dari estimasi ini diambil angka bahwa tiap tiga koala, satu mati karena kebakaran. Jelas, jumlah ini bakal meningkat mengingat habitat mereka sudah hancur karena kebakaran. Hingga saat ini, koala belum akan terancam punah. Namun, melihat inferno yang terjadi, beberapa spesies katak dan burung bisa punah. Termasuk rusaknya habitat satwa liar Australia.

Hingga api bisa dipadamkan, peneliti belum bisa melakukan pencatatan satwa korban kebakaran Australia. Termasuk kerusakan kepada habitat yang bisa berakibat lebih besar di masa depan.

Januari dan Februari adalah puncak dry season di Australia. Jadi, kebakaran Australia ini diprediksi masih akan terjadi selama berbulan-bulan ke depan. Bukan tidak mungkin, akibatnya bisa dirasakan selama satu tahun penuh. Sementara di Indonesia, ancaman banjir masih menghantui karena Februari dan Maret 2020 akan menjadi puncak curah hujan. Entahlah kalau masih ada orang yang tak percaya perubahan iklim. Mungkin mereka memang sudah bosan tinggal di dunia.

BACA JUGA Betapa Anunya Puasa di Australia atau esai YAMADIPATI SENO lainnya.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2020 oleh

Tags: apiAustraliakebakaran australiakebakaran lahankoala
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO
Sosok

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
5 tahun pakai WHV di Australia, kena mental. MOJOK.CO
Sosok

Sisi Gelap Kerja di Australia Tak Seindah Konten Medsos, Sadar bahwa Bahagia Tak Melulu soal Gaji Ratusan Juta

2 Mei 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.