MOJOK.COGerakan Nasional Kedaulatan Rakyat mengusulkan sembilan hakim MK jadi pahlawan nasional jika memenangkan Prabowo di sidang sengketa Pemilu. Setuju?

Sidang sengketa Pemilu berlangsung pada Jumat (14/6). Beberapa hari sebelum sidang sengketa Pemilu ini, Prabowo mengimbau kepada pendukungnya untuk tidak usah datang dan berdemo di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

Jumat pagi, ketika sidang dimulai, jalanan di depan gedung MK sempat lengang. Beberapa jam menjelang ibadah Jumatan, pendukung Prabowo mulai berdatangan. Ketika sidang sengketa Pemilu diskrorsing untuk dilanjutkan setelah ibadah Jumat, sebuah seruan yang menarik terdengar dari tengah-tengah pendukung Prabowo dan Sandiaga Uno.

Para pendukung Prabowo ini menamakan dirinya Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR). Salah satu koordinator aksi bernama Ayub mengusulkan untuk mengangkat sembilan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai pahlawan nasional bila berpihak pada prinsip kebenaran dan keadilan. Usulan yang sangat khas Prabowo dan pendukungnya: unik dan menggelitik.

Well, ketika ditanya oleh wartawan, apakah yang dimaksud dengan “prinsip kebenaran dan keadilan” berarti memenangkan pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno dan mendiskualifikasi Jokowi dan Ma’ruf Amin, Ayub tidak menjawab dengan jelas. Tapi ya, kita semua tahu massa ini mendukung siapa, bukan?

“Ketika hasilnya para hakim memutuskan kebenaran, maka kita usulkan agar para hakim diangkat jadi pahlawan nasional, jadi pahlawan konstitusi, Setuju?” Seru Ayub ketika berorasi.

“Setujuuu!” Teriak massa yang hadir.

Ayub juga menegaskan, kalau hakim MK tidak memihak kepada “prinsip kebenaran dan keadilan” di sidang sengketa Pemilu, nama mereka akan tercoreng di dunia dan akhirat. “Kita berharap MK tak menjadi mahkamah kalkulator, tapi kebenaran materi. Intinya mereka orang-orang jago. Hukum bukan hanya untuk hukum, tapi untuk keadilan.”

Hmm…sebuah usulan yang menarik terlontar dari Ayub. Saya mendukung penuh usulan ini.

Baca juga:  Anies Baswedan Lebih Punya Etika, Tidak Akan Seperti Jokowi Jilid Dua

1. Memenangkan Prabowo, sembilan hakim MK jadi pahlawan nasional.

Seperti seruan Ayub, saya setuju hakim MK yang memenangkan Prabowo di sidang sengketa Pemilu ini menjadi pahlawan nasional. “Ketika hasilnya para hakim memutuskan kebenaran, maka kita usulkan agar para hakim diangkat jadi pahlawan nasional, jadi pahlawan konstitusi.”

Zaman sekarang ini, kita butuh pahlawan yang berjalan di jalan kebenaran. Toh pahlawan itu enggak selalu harus membasmi villain dari planet lain seperti Iron Man dan Black Widow. Mereka bisa dianggap sebagai pahlawan dengan menuntun nenek menyeberang jalan atau membantu sesama mewujudkan impiannya, dalam hal ini Pak Prabowo, yang sudah tiga kali kalah di Pemilu, menjadi Presiden. Sedih lho itu.

2. Dibuatkan hari libur nasional.

Ketika nanti Prabowo menang sidang sengketa Pemilu dan sembilan hakim MK jadi pahlawan nasional, selanjutnya adalah menetapkan hari libur nasional. Tanggal yang diseleksi luwes saja. Bisa di tanggal sidang sengketa Pemilu dimulai, yaitu 14 Juni, atau di hari ulang tahun Pak Prabowo pada 17 Oktober.

Jadi, di hari ulang tahun Pak Prabowo, kita bisa tiup lilin massal. Semua stasiun televisi menyiarkan acara tumpengan di Hambalang. Kue ulang tahun dibentuk seperti kuda. Wah, manis sekali. Ehh tapi, budaya tiup lilin itu bid’ah nggak ya? Kalau tiup lilin ternyata budaya dajjal, nanti kita bisa dimarahin sama Ustaz Rahmat Baequni. Kok bisa? Lilin itu menyeruapi lingga, penis Batara Siwa. Wah, ini nggak syar’i banget.

3. Foto sembilan hakim MK dipajang di ruang kelas.

Untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme, Mendikbud, Muhadjir Effendy pernah meminta lagu Indonesia Raya dinyanyikan setiap pagi. Pak menteri juga meminta agar gambar pahlawan ditempel di dinding kelas.

Ada 179 pahlawan nasional yang wajahnya dicantumkan di dalam poster yang menjadi pajangan ruang kelas. Ditambah sembilan hakim MK, jumlahnya menjadi 188. Wah, angka cantik, banyak mengandung angka “8”, simbol jumlah tak terbatas dan sangat Pak Prabowo. Ingat, “08” adalah sebutan untuk Pak Prabowo. Klop!

Baca juga:  Vanessa Angel dan Kasus Prostitusi: Keberadaan Sisi Bajingan di Setiap Manusia

4. Nama sembilan hakim MK dijadikan nama jalan.

Sebagai pahlawan nasional, sembilan hakim MK yang memenangkan pasangan 02 di sidang sengketa Pemilu layak dijadikan nama jalan. Sembilan hakim MK antara lain: Anwar Usman, Aswanto, Arief Hidayat, Wahiduddin Adams, I Dewa Gede Palguna, Suhartoyo, Manahan Sitompul, Saldi Isra, dan Enny Nurbaningsih.

“Pak, kalau mau ke Senayan lewat mana ya?”

“Ohh, masnya bisa lewat Jalan Anwar Usman, belok kanan di Aswanto, lurus saja sampai tembus Arief Hidayat, belok kanan lagi di Wahiduddin Adams, terus belok kiri di I Dewa Gede Palguna, kalau ketemu tugu kuda berarti sampai di Jalan Suhartoyo, nah itu luru saja sampai ketemu proliman yang kalau belok serong kiri ketemu Jalan Manahan Sitompul, terus puter balik di Saldi Isra, nah itu masnya sampai di pertelon Enny Nurbaningsih, belok kanan sampai deh.”

“…”

5. Prabowo bikinkan monumen untuk sembilan hakim MK.

Kamu tahu Mount Rushmore? Itu lho, sebuah gunung di mana orang Amerika mengukir wajah empat Presiden Amerika Serikat. Mereka adalah George Washington, Thomas Jefferson, Theodore Roosevelt, dan Abraham Lincoln.

Masih nggak tahu? Kalau Naruto tahu? Gunung yang ada ukiran kepala Hokage tahu? Nah itu namanya Hokage-iwa atau Monumen Hokage. Nah, kalau Prabowo menang sidang sengketa Pemilu, sembilan wajah hakim MK, bisa dipahat di gunung yang sudah dipilih.

Saya usul, wajah sembilan hakim MK dipahat di Gunung Sahari atau Gunung Sari. Sangat sporty dan Instagram-able. Dear pendukung Pak Prabowo, setuju dengan saran ini?



Loading...



No more articles