• 349
    Shares

MOJOK.COFilm G30S PKI kehilangan penonton setianya ketika diputar di acara FPI. Supaya tidak ditinggal moviegoers Indonesia, kami memberikan beberapa masukan.

Sabtu, 29 September 2018, FPI DKI Jakarta menggelar acara bertajuk “Doa Untuk Keselamatan Bangsa”. Wah ini jenis acara yang sebaiknya kamu hadiri jika kelak diadakan kembali. Menyatukan doa untuk keselamatan bangsa tentu perlu didukung. Apalagi ketika Donggala, Palu, dan daerah sekitarnya sedang dilanda gempa dan Tsunami.

Acara “Doa Untuk Keselamatan Bangsa” yang dihelat di Monas ini, selain mendoakan keselamatan bangsa Indonesia, juga menyelipkan doa untuk keselamatan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab. Semoha Habib selalu sehat dan bahagia. Kami di Indonesia sudah kangen dengan ceramah-ceramah Habib Rizieq. Pfftt…

Tidak hanya doa, FPI juga akan memberikan santunan kepada seribu anak yatim. Sebuah aksi nyata yang cocok dijadikan panutan. Subhanallah.

Belum selesai sampai di situ, FPI juga nampaknya sudah menyiapkan kejuatan bagi para peserta acara “Doa Untuk Keselamatan (Habib Rizieq) Bangsa”. Jadi, di akhir acara, para panitia sudah menyiapkan sebuah film yang sangat “box office Indonesia” pada masanya. Film ini pernah memenangi penghargaan Skenario Terbaik dan Film Terlaris di ajang Festival Film Indonesia tahun 1984 dan 1985. Skenario terbaik dan film terlaris. Pfftt…

Film yang saya maksud adalah film G30S PKI garapan Arifin C. Noer. Jadi ini memang sesuai dengan arahan sang Imam Besar, Habib Rizieq bahwa kini adalah saatnya kembali menggalakkan acara nonton bareng film G30S PKI. Apa alasannya?

“Maka saya serukan pada umat Islam, malam ini atau besok di mana-mana putar kembali film G30S/PKI agar generasi muda kita yang selama ini tidak tahu, mereka jadi tahu bahaya PKI,” begitu pesan Rizieq melalui pesan suara yang diperdengarkan kepada seluruh peserta acara “Doa untuk Keselamatan Bangsa” yang hadir.

Baca juga:  Cak Nun, Khilafah, PKI

“Agar generasi muda kita yang selama ini tidak tahu, mereka jadi tahu bahaya PKI” begitu tujuannya. Maklum, generasi muda kita sekarang ini malah lebih sibuk bikin startup transportasi online, atau bikin teknologi 4G, atau bikin pesawat penumpang bermesin ganda lalu dinamai CN-235 atau Sandi Tetuka, kek. Akhirnya jadi pada enggak ngerti sama sekali soal pentingnya bahaya PKI, kan. Kreatif dikit dong.

Nah, niat memutar film G30S PKI oleh FPI ini adalah terobosan bagus untuk generasi muda. Apalagi nontonnya di Monas. Jadi bisa menampung banyak massa. Kalau perlu dari berbagai aliran kepercayaan dan agama. Ehh…

Masalahnya, ketika FPI memutar film G30S PKI, peserta kehilangan semangat untuk mengikuti acara nonton bareng ini. Banyak yang memutuskan untuk pulang, bubar. Hanya segelintir saja yang bertahan di tempat acara dan menonton film G30S PKI sampai selesai. Ini masalah besar. Kok berani-beraninya para peserta acara memilih pulang.

Usut punya usut, sesuai asumsi saya, kemungkinan para peserta enggan menonton film G30S PKI karena bosan. Bagaimana tidak bosan, lha wong dulu tahun 1990an film ini wajib ditonton menjelang akhir September. Pasti para peserta ini sudah tahu dialog para aktor dan aktris di luar kepala. Dialog-dialog Amoroso Katamsi yang memerankan Soeharto juga pasti sudah sangat familier.

Selaris apapun sebuah film, misalnya Avengers 4, pasti bosan juga kalau sudah nonton 10 kali, tiap tahun, tiap September. Jadi, supaya tidak bosan, Mojok Institute memberikan sebuah saran untuk rumah-rumah produksi di Indonesia supaya melakukan penyegaran kepada film pemenang kategori “skenario terbaik” ini.

Caranya bagaimana? Begini, dibutuhkan aktor watak untuk menggantikan almarhum Amoroso Katamsi sebagai pemeran Soeharto. Pilihannya bisa Reza Rahadian atau Lukman Sardi. Kalau saran saya, pilih Reza Rahadian, yang lebih muda, dan dekat dengan milenial. Reza Rahadian saja bisa memerankan Benyamin, kalau memerankan Soeharto pastinya bisa.

Baca juga:  Danny Oei Wirianto: Kalau Donald Trump Pakai Twitter, Jokowi Pakai Kaskus Dong

Reza Rahadian juga pernah sukses memerankan Habibie di film “Habibie & Ainun” jadi tidak akan canggung beradu peran di film yang mana daripada bertema “politik”.

Saran kedua supaya film G30S PKI makin segar, gunakan jasa Iko Uwais. Selain horor, film ini kan juga bisa dimasukkan genre film aksi. Penuh aksi tembak-tembakan dan penyiksaan.

Iko Uwais sangat cocok untuk scene seperti ini. Adegan interogasi sambil disilet-silet? Iko Uwais memerankannya dengan sangat baik ketika main di film “Mile 22”. Adegan tembak-tembakan dan adu silat? Film Merantau, The Raid 1, dan The Raid 2 sudah jadi bukti sahih. Pokoknya kasih peran yang banyak gelutnya saja. Jangan kasih banyak dialog karena nanti mblebermbleber suara Iko Uwais. Pronunciation beliau kan masih belum jelas.

Nah, ini, saran ketiga ini sangat patut dipertimbangkan. Rumah produksi perlu memasukkan naga Indosiar ke dalam film G30S PKI. Naga Indosiar yang artistik itu misalnya dipakai untuk mengangkut Gerwani ke lokasi penyiksaan jenderal. Maksudnya, supaya film ini tambah segar dan up to date. Siapa sih yang enggak suka adegan naga terbang ala Indosiar itu?

Begitulah saran dari kami supaya film G30S PKI ini tidak ditinggalkan para pemirsa setianya. Remake kan sudah lazim di dunia film. “Wiro Sableng” dan “Warkop DKI Reborn” saja lumayan sukses. Jadi sangat mungkin film soal PKI ini sukses ketika dikasih judul “G30S PKI Reborn”. Sangat sinematografis. Siapa tahu bisa masuk Festival Film Cannes.