MOJOK.CO Mari berlindung di balik lagu Ibu Kartini ketika kamu tertekan oleh berbagai hoax menjelang pilpres 2019.

Pemilu 2019 masih tahun depan, namun baranya sudah terasa sejak April 2018. Berani taruhan, pasti kamu banyak membaca kalimat itu di Facebook atau Twitter. Kegelisahan itu memang nyata adanya dan berkecambah. Menular seperti penyakit. Apalagi ketika isu panas digoreng langsung oleh pejabat negeri ini. Pejabat yang vokal, namun lebih sering wagu.

Baru-baru ini, Fadli Zon, anggota DPR kesayangan kalian, saya enggak, menbicarakan soal isu tenaga kerja asing di Indonesia yang semakin luber. Dan entah kenapa, Pak Zon selalu menyebut tenaga asing dari Cina. Padahal, ya kalau mau adil, banyak juga kok tenaga asing dari negara lain. Tapi karena yang paling seksi untuk digoreng adalah tenaga asing dari Cina, ya itulah yang digarap.

Fadli Zon menggunkan momen jatunya helikopter di Morowali sebagai pijakan untuk kembali berbicara soal tenaga asing Cina. Dan tentu saja ujungnya bisa ditebak, beliau menyerang Jokowi. Mainnya monoton, sudah kayak Manchester United yang juara Liga Primer Inggris. Tapi juara dua maksudnya.

Saya kutipkan secara langsung tiga kalimat Fadli Zon dari laman detik.com ya:

“Saya kira ini satu konfirmasi bahwa memang telah banyak tenaga kerja dari China yang masuk ke Indonesia. Tidak jelas juga statusnya mana yang legal dan ilegal. Karena kan pemerintah memberikan bebas visa,” jelas Fadli kepada wartawan, Jumat (20/4/2018).”

“Menurut saya, perpres (TKA) itu harus ditinjau ulang. Dicabutlah. Presiden jangan mengkhianati tenaga kerja lokal yang memang butuh pekerjaan,” ucapnya.

“Masak sekarang di saat orang susah cari pekerjaan kok presiden mengeluarkan perpres untuk memberikan “karpet merah” dan jalan pintas bagi tenaga kerja asing masuk. Ini kan melukai warga negara kita sendiri yang mau bekerja. Apalagi tenaga kerja itu bisa tenaga kerja yang bukan skilled khusus gitu. Kecuali memang ada skill khusus yang kita tidak punya ahlinya bolehlah,” tutup Fadli.

Satu hal penting yang tak dipikirkan oleh Fadli Zon adalah pengaturan penggunaan tenaga kerja asing adalah lanjutan dari berlakunya perdagangan bebas di Asia Tenggara dan dunia seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), CAFTA dan General Agreement on Trade in Services (GATS).

Baca juga:  Fadli Zon Pantas Sewot, Prabowo ke Luar Negeri aja Kok Jadi Urusan Nasional

Semua ini sudah ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia jauh sebelum Presiden Joko Widodo berkuasa. Jadi, pemerintah tak bisa sepenuhnya disalahkan. Jika tenaga kerja asing memang lebih berkualitas dan banyak diminati, apakah hal itu mutlak salah pemerintah?

Salah pemerintah bukan di banyaknya tenaga kerja asing berkualitas yang masuk, namun keharusan menggenjot kualitas tenaga kerja lokal. Sementara itu, tenaga kerja lokal harus sadar bahwa perkembangan dunia berjalan cepat dan membutuhkan tenaga-tenaga kerja yang disiplin dan punya kualitas.

Jadi, ketimbang banyak mengeluh enggak dapat kerja karena salah saing, ya mending tingkatkan kualitas diri dulu. Jangan dikit-dikit menyalahkan pemerintah karena gagal dalam hidupmu yang miskin itu.

Toh kualitas sekolah juga sudah semakin bagus. Ada cara untuk bersekolah untuk anak dari keluarga kurang mampu. Bisa memilih sekolah di SMK, misalnya, untuk segera bisa menguasai bidang tertentu. Pemerintah mengawal di bidang-bidang ini supaya tenaga kerja Indonesia lebih bisa bersaing.

Pun, jika melihat data, jumlah tenaga kerja asing  pada tahun 2017 adalah sebanyak 74 ribu, jauh menurun dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 77 ribu lebih. Jadi, mengapa Fadli Zon menggunakan isu tenaga kerja asing, terutama dari Cina, untuk menyerang Jokowi? Ya karena cara mainnya sudah monoton itu tadi.

Isu tenaga asing dari Cina, dibuat seolah mengancam keberadaan tenaga kerja “pribumi”. Jika isu ini meledak, maka serangan kedua dengan tema “PKI” akan diluncurkan. Lalu pemerintah, dalam hal ini Jokowi, kembali dihubung-hubungkan dengan hoax anak gerwani. Ketebak banget. Monoton. Sayangnya, yang monoton itu sukses besar di kalangan akar rumput.

Kenapa bisa sukses besar? Karena kurangnya edukasi soal bahaya laten hoax pemilu lewat postingan di media-media sosial atau broadcast lewat wasap atau Line. Gimana? Blokir saja semua, gak cuma Facebook saja yang diblokir. Bagaimana mau meningkatkan kulitas diri kalau tenaga lokal mudah termakan hoax murahan? Narasi soal ketakutan itu yang dimain-mainkan oleh segelintir elite yang bakal punya kepentingan triliunan di pilpres 2019 nanti.

Bicara kualitas diri, seharunya, tenaga lokal yang gagal berkembang itu malu dengan Ibu Kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya. Hayo, siapa yang reflek nyanyi pas baca kalimat itu? Xixixi…

Baca juga:  Ketika Fadli Zon Bikin Polling Pilpres dan yang Menang Ternyata Jokowi

Raden Ajeng Kartini memperjuangkan martabatnya sebagai perempuan merdeka lewat literasi. Lewat surat-suratnya yang berjudul “Door Duistermis tox Licht” atau jika diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Ibu Kartini memperjuangkan penghapusan diskriminasi terhadap kaum perempuan yang memang terasa begitu kuat pada zaman itu.

Tak hanya menulis, Kartini juga membangun sekolah untuk perempuan di Rembang dan Jepara. Tak hanya di atas kertas saja, Kartini memberi bukti di atas lapangan. Kalau Fadli Zon itu seperti Manchester United yang monoton, Kartini itu seperti Real Madrid yang cak cek sat set di atas lapangan dan juara Liga Champions dua kali berturut-turut.

Coba cek Lagu Ibu Kartini itu. Salah satu liriknya berbunyi “Pendekar bangsa, pendekar kaumnya, untuk merdeka.” Penggalan lirik Lagu Ibu Kartini itu mengingatkan kamu untuk berjuang dari diri sendiri dulu. Belajar lah yang rajin, supaya melek informasi. Jangan berjuang dengan kekerasan, melainkan kecerdasan.

Lagu Ibu Kartini itu juga mengingatkan bahwa cita-cita yang besar bukan hanya untuk pribadi saja, melainkan untuk Indonesia. Kalau kamu banyak mengeluh karena menganggur, jangan berharap nasib kisminmu akan berubah. Dahsyat betul itu lagu.

Lewat perjuangannya, Kartini membebaskan belenggu, membawa kaum perempuan ke depan pintu pengetahuan. Untuk apa? Ya untuk berkembang sebagai manusia. Untuk meningkatkan kaulitas diri supaya tak hanya menjadi perempuan yang, kalau kata Djenar Mahesa Ayu lewat cerpennya, “Menyusu Ayah”, saja.

Pondasi awal adalah mengembangkan diri sendiri, baru kemudian berani menantang dunia (kerja). Ya kecuali kalau kamu anak orang kaya mblegedu, yang punya sawah 10.000 hektar dan kamu tinggal main Mobile Legend setiap hari pun tiada mengapa. Ingat, yang biasa ngopi di Kopi Joni saja kerja dari subuh supaya kaya raya. Intinya adalah kerja keras, disiplin, jujur, dan mau belajar.

Ha kalau sudah begitu, dengan diri kamu yang lebih berkualitas, tenaga kerja asing dari Namibia atau Gambia pun bukan saingan. Gitu aja kok repot.

Selamat Hari Kartini. Semangat dari Lagu Ibu Kartini bukan untuk para perempuan saja, namun untuk semua manusia Indonesia yang masih dijajah oleh hoax seputar pilpres 2019 nanti. Merdeka!