• 470
    Shares

MOJOK.COAlam raya memberikan tanda-tandanya. Prabowo dan Sandiaga Uno bakal mengalahkan Jokowi di Piplres 2019. Kenapa kita jatuh cinta dengan tanda-tanda alam?

Berbagai survei yang digelar akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin akan mengalahkan Prabowo di Pilpres 2019. Beberapa bahkan mengunggulkan Jokowi dengan margin yang “lumayan”. Bahkan tidak hanya survei, berbagai analisis dan asumsi ahli condong ke pasangan 01.

Namun, survei tidak bisa menjadi patokan tunggal untuk mengukur siapa yang akan menang di Pilpres 2019. Namanya juga pengukuran lewat sampel. Kubu Prabowo dan Sandiaga Uno tidak perlu khawatir. Mereka didukung sebuah “kekuatan” yang tentu lebih kuat ketimbang survei yang konon bisa dipesan itu. Kekuatan yang dimaksud adalah “tanda alam”.

Sudah nampak beberapa tanda alam yang menyiratkan bahwa alam raya pun mendukung pasangan 02. Kalau sudah didukung alam raya, kamu masih mau pakai survei abal-abal itu? Huh, dasar cebi-cebi lucu. Pakai akal sehat dong. IQ sekolam tentu nggak bisa paham sama hal supranatural. Makanya, logika itu dipakai.

Ketimbang survei dan analisi dari pengamat politik, tentu lebih meyakinkan analisis Ferdinand Hutahean atas paparan tai burung di kap mobilnya. Lewat pengamatan bak seorang ahli per-tai-an, Ferdinand Hutahean ngetwit: “Pagi-pagi mau ke mobil. Burung meninggalkan kode keras no 2”.

Bagi kalian yang tukang nyinyir dan nggak suka sama Ferdinand bisa saja mengklaim Ferdinand mungkin saja membentuk tai burung itu sendiri. Biar dimirip-miripin sama angka dua. Tapi sebagai seorang wakil rakyat terhormat, mana mungkin Ferdinand mau mengotori tangannya yang suci bersih? Itu terlalu menjijikkan.

Kode tai ini justru menunjukkan, burung-burung pun menginginkan Prabowo dan Sandiaga yang menang. Kalau alam raya sudah berkehendak, kamu masih mau bandel dan ngeyel?

Lho, kurang percaya? Pendukung Prabowo yang lain, Habiburrokhman, juga melakukan analisis komprehensif tentang komposisi dan konstelasi awan di langit. Lewat peneropongan dengan hati yang bersih, awan di langit menunjukkan fenomena ajaib: kepala Prabowo yang tengah mengenakan topi koboi muncul di langit! Subhanallah!

Ini level tanda alam yang lebih sundul langit ketimbang ilmu per-tai-an Ferdinand Hutahaean. Burung dahulu, lalu didukung oleh komposisi awan di langit. Kamu tentu tidak paham kalau angin yang bertiup kuat bisa menggerakkan awan. Angin, yang bertiup itu pasti berhembus dari Hambalang. Dari istal kuda Prabowo secara langsung. Meski angin itu agak bau-bau tai kuda, tapi menjadi bukti kuat bahwa alam raya mendukung pasangan 02.

Baca juga:  Algoritma Kasta Cebong Setelah Ma’ruf Amin Dipilih Jokowi untuk Pilpres 2019

Lho, masih belum yakin?

Tempo hari, selepas lari pagi lalu meladeni pertanyaan-pertanyaan wartawan, sebuah petunjuk muncul di jidat Sandiaga Uno. Urat-urat di dahinya menyerupai lafaz Allah! Subhanallah!

Tanda-tanda kebesaran Tuhan memang terkadang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Perlu mata batin yang jernih. Bahkan, Sandiaga Uno pun tak sadar dengan petunjuk tanda alam di jidatnya. “Saya enggak ngerasa tapi banyak yang ngirim gambarnya ke saya. Saya juga enggak nyadar sama sekali,” kata Sandiaga mengomentari urat-urat farises di jidatnya.

Netizen langsung riuh. Banyak yang mengucap syukur kepada Tuhan karena junjungan mereka “diberkahi” oleh Tuhan. Saya sendiri bertanya-tanya, kalau sudah diberi pertanda dengan lafaz Allah, lalu kalah, apakah artinya Tuhan sedang bercanda saja? Atau mungkin sebetulnya Sandiaga Uno ditakdirkan menjadi ustaz atau penceramah saja dan meninggalkan segala kenikmatan duniawi? Kan sekarang sudah bergelar ulama.

Wah, Sandiaga Uno nggak boleh boker karena lafaz Allah nggak boleh masuk kamar mandi. Apa ya mau dicopot dulu kepalanya?

Lantas, mengapa kita manusia sangat menyukai tanda-tanda alam?

Profesor Mark Loch, Science Communicator dari Universitas Hull menulis di theconversation.com. Beliau menyatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan “Mengapa orang suka dengan teori konspirasi?” sangat sederhana. Prof Mark menyatakan bahwa fakta dan pemikiran rasional tidak cukup kuat untuk mengubah kepercayaan seseorang.

Prof Mark Loch melanjutkan bahwa manusia punya tendensi yang sangat kuat untuk membuat pola atas apa pun. Hal itu melahirkan sebuah tendensi lanjutan bahwa manusia mudah jatuh cinta dengan teori konspirasi.

Dalam konteks Prabowo dan Sandiaga Uno, teori konspirasi sejajar dengan “tanda-tanda alam” yang diterjemahkan secara bebas untuk mendukung kepercayaan para pendukungnya. Ya seperti analisis tai Ferdinand dan terawangan Habiburrokhman atas bentuk awan. Atau penerjemahan akan pola farises di jidat Sandiaga berbentuk lafaz Allah.

Baca juga:  Sejukkan Pilpres 2019, Yusuf Mansur dan Mahfud MD Deklarasikan Tagar #2019PilpresCeria

Kamu bilang agak maksa? Ya memang begitu. Prof Mark Loch juga menyebut bahwa kemampuan manusia untuk mengenali sebuah pola dan struktur memang sering terlalu berlebihan.

Kemampuan mengenali pola dan tanda itu menjadi bekal bertahan hidup manusia purba. Namun, di dunia dengan arus informasi yang cepat dan kaya, tendensi untuk berlebihan akan terjadi. Akibatnya, manusia memaksakan membuat “hubungan” antara sebab dan akibat akan sesuatu yang sebetulnya tidak ada. Muncul teori konspirasi yang sungguh bikin penasaran.

Prof Mark Loch belum berhenti sampai di situ. Jawaban kedua akan pertanyaan “Mengapa orang suka dengan teori konspirasi?” adalah tekanan atau pengaruh lingkungan.

Beliau memberi contoh dengan sebuah eksperimen sosial. Misalnya, di tengah kerumunan, tataplah langit selama 60 detik. Orang yang lalu-lalang akan penasaran dan melakukan sama persis seperti yang kamu lakukan. Awalnya hanya 4 persen yang melakukannya. Namun, semakin lama, semakin banyak yang penasaran dan melakukan hal yang sama.

Pada akhirnya, rerata orang yang menatap langit naik menjadi 40 persen. Dipengaruhi oleh lingkungan, manusia cenderung gagap dan insting penasaran itu muncul. Ketika sebuah “fakta buatan” disuarakan oleh beberapa orang, fakta buatan itu cenderung dipercaya sebagai sesuatu yang nyata dan benar.

Semakin banyak akun yang ngetwit bahwa di jidat Sandiaga Uno ada lafaz Allah sebagai pertanda pemenang Pilpres 2019, semakin banyak pula yang percaya. Dari yang awalnya bertanya-tanya “Masak, sih?”, berubah menjadi “Oh iya, ya. Ada lho! Gils!”

Nah, lewat penjelasan yang berbau sains ini, apakah kamu akan percaya bahwa tai burung dan awan Prabowo itu hanya cocoklogi saja? Apakah farises di jidat Sandiaga Uno hanya kebetulan saja berbentuk lafaz Allah? Kalau masih tidak percaya, berarti kamu berada di dunia antara. Antara tidak bisa memahami penjelasan secara sains dan cara kerja logika.

Tapi tenang, banyak kok yang begitu. Banyak temennya. Goblog berjamaah, lama-lama bisa dianggap sebagai kebenaran publik, kok. Kan kalau banyak temennya, kita cenderung berani untuk bersuara. Sans, nggak usah ngegas begitu.

Atas nama tanda alam, Prabowo bakal menang dan Jokowi kalah. Itu kan kalimat yang ingin kalian dengar? Hiya hiya hiya…

  • 470
    Shares


Loading...



No more articles