Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mario Teguh Kalau Nggak Tahu Kaum Rebahan Mending Ngobrol Dulu Sama Prabowo

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
6 Januari 2020
A A
Mario Teguh Prabowo kaum rebahan MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya menyarankan Pak Mario Teguh buat ngobrol dulu sama Pak Prabowo perihal kaum rebahan. Siapa tahu Golden Ways bisa berubah jadi Diamond Ways. ITU!

Jujur saja, terakhir kali saya mendengar nama Mario Teguh itu kira-kira lima tahun yang lalu. Saya nggak tahu apakah waktu itu belau masih rajin wara-wiri di Metro TV atau sudah “pensiun”. Ternyata, Pak Golden Ways masih aktif di Twitter. Sudah centang biru, followers beliau bahkan menyentuh 9 juta orang. Kok saya nggak pernah dengar ya?

Setelah saya telusuri secara mendalam, ya kira-kira tiga kali scroll, ternyata Pak Mario Teguh mainan Twitter dengan cara lama. Caranya berkomunikasi masih seperti penyebar kutipan lama yang RT-nya bukan diklik, tetapi benar-benar ditulis “RT” di belakang kicauan yang diunggah. If you know what I mean….

Wahai kaum rebahan, tidak pernahkah datang kepadamu pemberitahuan bahwa perjalanan terakhirmu menuju tempat peristirahatanmu di dunia ini juga akan kau lakukan sambil rebahan?

ATIMH = Awas Tweet Ini Mengandung Humor

— Mario Teguh (@marioteguh) January 5, 2020

Bapak lagi ngelucu?

Nah, sebagai influencer lawas dengan followers begitu banyak, maklum kalau beliau ingin rebranding. Salah satunya dengan ikut membahas narasi-narasi anak muda. Salah satunya yang disebut sebagai “kaum rebahan”.

Sayang betul, caranya berkomunikasi seperti cah lawas yang memandang kaum rebahan sebagai gerombolan orang-orang tidak produktif. Kamu tahu, kaum rebahan itu identik dengan milenial dan Gen Z.

Riset yang dilakukan oleh Ipsos MORI Social Research Institute menunjukkan bahwa perbedaan usia pada tiap generasi menimbulkan persepsi yang kontras. Bobby Duffy, Managing Director dari lembaga riset tersebut menyatakan, “Generasi muda selalu menjadi target ejekan dari generasi yang lebih tua.”

Padahal, Pak Mario Teguh, setiap generasi memiliki karakteristik, kebiasaan, dan pola pikir berbeda. Milenial dibesarkan oleh kemajuan teknologi. Oleh sebab itu, milenial yang Bapak sebut kamu rebahan itu juga memiliki pola pikir yang berbeda dengan generasi Pak Mario Teguh.

Lahir dan dibesarkan pada saat gejolak ekonomi, politik, dan, sosial melanda Indonesia membuat para milenial tumbuh sebagai generasi open minded, kritis, menjunjung tinggi kebebasan, dan berani (BPS, 2018).

Sebagai subkultur, milenial memiliki identitas kolektif yang berbeda dari budaya Pak Mario Teguh. Identitas kolektif tersebut berguna untuk menepis stereotip negatif yang diberikan kepada milenial akibat munculnya istilah kaum rebahan.

Sudah banyak riset yang membantah stereotip pemalas, kok. Aktivitas berbaring bagi milenial dan Gen Z bukan hambatan untuk tetap produktif. Jadi, mau sambil berbaring, sembari lari di treadmill, bahkan sambil boker, milenial dan Gen Z bisa belajar, berbelanja, bersosialisasi, bahkan bekerja.

Sesekali cobalah untuk duduk, berdiri, jauhkanlah punggungmu dari kasur,
dan bergaullah dengan orang-orang yang tidak takut sinar matahari
untuk bekerja mengunduh rezeki Tuhan.

— Mario Teguh (@marioteguh) January 5, 2020

Jangan salah, kaum rebahan ini juga produktif, bahkan membuka lapangan pekerjaan secara online. Berdasarkan riset IDN Research Institute pada 2019, 7 dari 10 milenial mempunyai jiwa entrepreneurship yang tinggi. Bapak Jalan Emas malah bilang kalau kaum rebahan itu tidak peduli sukses. Udah nggak hype, Pak, yang kayak gitu. Niatnya menasehati, jatuhnya menggurui, bahkan menghakimi.

Iklan

Kaum rebahan adalah orang yang tidak peduli sukses atau tidak
karena mendahulukan enaknya baring-baring seharian
sambil melakukan yang tidak ada gunanya.

— Mario Teguh (@marioteguh) January 5, 2020

Dear Pak Mario Teguh, kamu rebahan itu–ini menurut saya ya–juga bisa diartikan sebagai orang-orang yang santai memandang kesulitan. Bukan literally lagi rebahan di kasur dan doing nothing. Mereka bisa merespons kesulitan dengan tenang. Nggak terseret arus atau dorongan publik. Misalnya, Bapak bisa ngobrol sama Pak Prabowo, deh.

Ketika Cina masuk ke Natuna, bukannya gebrak-gebrak meja kayak lagi kampanye dulu, Pak Prabowo malah bilang “santai” aja ngadepin Cina. Dulu, sih, marah-marah ketika sumber daya alam dikeruk asing, sekarang santuy aja. Pak Mario Teguh tau istilah “santuy”?

Banyak yang marah sama pernyataan Pak Prabowo yang santai banget hadepin Cina. Dianggap penakut atau menjilat ludah sendiri. Pada nggak tahu aja, Pak Prabowo pasti lagi susun strategi. Di depan mah terlihat santi, di belakang, siapa tahu beliau gebrak-gebrak meja sambil bilang: “Saya mau yang enak!” kayak iklan Mi-Won zaman lawas kayak Pak Mario Teguh.

Cina itu kawan, kata Pak Prabowo. Ini jelas bentuk kepercayaan diri, bentuk keyakinan kalau beliau bisa mengubah lawan menjadi kawan. Bukankah kitab-kitab kuno zaman megalitikum mengajarkan hal itu. Di depan terlihat santai, di belakang main Warcraft sebagai pemanasan perang. Ini lho, Pak Mario Teguh, yang juga dinamakan kaum rebahan.

Saya menyarankan Pak Mario Teguh buat ngobrol dulu sama Pak Prabowo perihal kaum rebahan. Maksud saya itu, kalian kan satu frekuensi, eh maaf, generasi. Pak Prabowo saja meresapi makna kaum rebahan meskipun beliau seorang boomers. Saya yakin Pak Mario Teguh bisa sadar kalau kaum rebahan juga generasi kreatif dan optimis.

ITU!

BACA JUGA Hidup Memang Tak Semudah ‘Cocote’ Mario Teguh atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2020 oleh

Tags: boomerscinaGen Zkaum rebahanMario Teguhmilenialnatunaprabowo
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z
Sehari-hari

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.