MOJOK.COUntuk soal “memungut”, Inter Milan lebih jeli. Sementara itu, Barcelona tak jeli membuang. Nurani mereka tertutup ego “klub besar”.

Saya kesulitan menyembunyikan senyum ketika secara tiba-tiba Samuel Eto’o bergerak ke bawah lalu menjadi bek kanan. Apa-apaan ini Jose Mourinho? Ternyata, malam itu, jadi malam bersejarah. Ketika Inter Milan “menang” secara heroik atas Barcelona, sekaligus menancapkan merek “parkir bus” yang selamanya akan melekat ke citra pria asal Setubal, Portugal itu.

Jose Mourinho memang sering bermasalah dengan Barcelona. Deretan kasusnya: Bagaimana dia gagal dalam seleksi pelatih Barcelona ketika manajemen lebih memilih Pep Guardiola; ketika Chelsea disingkirkan secara menyakitkan oleh Barca di Liga Champions; ketika Real Madrid dibantai 5-0 di La Liga. Pada noda hitam dan kebahagiaan Mourinho, sebagian besar ada nama Barca di dalamnya.

Maka ketika berhasil mencundangi Barcelona dengan menggeser Samuel Eto’o sebagai bek kanan dan menumpuk hingga delapan pemain di kotak penalti, Mourinho tidak bisa menyembunyikan kepuasannya. Ia berlari ke dalam lapangan seperti anak kecil melihat pesawat terbang melintas sambil teriak, “Pesawat, minta duwwiiittt!”

Apalagi, setelah menyingkirkan Barca secara komikal, Inter Milan malah menang Liga Champions. Kepuasan menyingkirkan “kerikil di dalam sepatu” itu terngiang lagi.

Itulah salah satu drama yang pernah mewarnai pertemuan Barcelona dan Inter Milan. Selain soal tahun-tahun terbaik Inter di bawah asuhan Mourinho–dengan meraih tiga piala dalam satu musim, di mana salah satunya menyingkirkan Barca–drama antara klub raksasa Spanyol dan Italia ini juga tersaji di meja perundingan.

Baca juga:  Kebenaran di Balik Kisruh AC Milan dan Europa League: Palagan Perang Redaksi

…dan Interisti yang tertawa pada akhirnya….

Pep Guardiola kabarnya tidak terlalu suka dengan gaya bermain Samuel Eto’o. Atau ini soal preferensi pribadi, di mana Guardiola memang sering terlibat konflik dengan salah satu pemainnya. Yang dilakukan Guardiola selanjutnya adalah menyingkirkan Eto’o ketika dia bisa. Salah satunya dengan memasukkan nama pemain asal Kamerun itu ke dalam daftar jual.

Rumor yang beredar adalah Guardiola tertarik dengan Zlatan Ibrahimovic, protagonis Inter Milan, hasil menikung Juventus di masa kelam Calciopoli. Maka, terjadilah “aksi tukar guling”. Barca diizinkan membeli Ibra, tetapi harus menyertakan Samuel Eto’o di dalam kesepakatan. Barca tidak berpikir dua kali. Sikap yang seharusnya mereka sesali lantaran tidak mau berpikir untuk kedua kalinya.

Samuel Eto’o menjadi salah satu protagonis penting, bersama Diego Milito dan Wesley Sneijder. Bersama mereka bertiga, Inter Milan meraih juara Serie A, Copa Italia, dan Liga Champions. Masa keemasan itu akan terus abadi. Sementara itu, bulan madu antara Guardiola dengan Ibra tak bertahan lama. Kesulitan berintegrasi dengan Lionel Messi dan identitas klub, Ibra juga berkonflik dengan Guardiola.

Bahkan di sebuah kesempatan dan dituangkan ke dalam biografinya, Ibra menyebut Guardiola sampai tidak berani berbicara berdua sambil mempertahankan kontak mata. Guardiola takut melihat mata Ibra!

Barcelona memang memenangi La Liga bersama Ibra, tetapi hubungan pemain-pelatih sudah hancur. Berbanding terbalik di Inter Milan ketika Mourinho berhasil membangun kemistri yang mesra dengan Eto’o.

Barcelona membuang, Inter Milan memungut, dan Inter yang beruntung….

Cerita bergeser dengan pusatnya bernama Philippe Coutinho. Inter Milan memboyong Coutinho dengan status wonderkid. Pemain ajaib dari Brasil ini diharapkan bisa menjadi protagonis La Beneamata suatu saat nanti. Sayang, harapan itu tidak terwujud dan Coutinho mekar seutuhnya bersama Liverpool.

Baca juga:  AC Milan dan Usaha Menyempurnakan Larik Puisi Terindah

Waktu berjalan dan Coutinho gusar. Bimbang. Ia ingin pindah dan Barcelona adalah klub idamannya. Saga antara Coutinho dan Liverpool berjalan cukup lama sebelum akhirnya Barcelona memboyongnya dengan banderol 100 juta euro lebih. Sekilas akan berakhir manis, tetapi ujungnya bikin pedih.

Entah kenapa, Coutinho kehilangan sentuhannya. Dukungan dari Messi dan pemain lain tidak mempan. Ia kehilangan tempat. Musim yang pahit itu berganti menjadi awal yang baik ketika Coutinho bersedia dipinjamkan ke Bayern Munchen. Bersama Munchen, Coutinho menemukan sentuhannya kembali.

Barca menghamburkan uang untuk pemain yang sebetulnya tidak mereka butuhkan. Sama persis dengan kisah Eto’o dan Ibra. Barcelona tidak membutuhkan Ibra. Mereka sudah punya tridente paling berbahaya di dunia: Messi-Eto’o-Henry. Di ujung kegagalan kesekian dari Barca ini, ada tawa Inter Milan yang sayup-sayup terdengar.

Keduanya akan bertemu di babak penyisihan grup Liga Champions. Barca sudah membuang pemain yang tidak mereka butuhkan, sementara Inter Milan memungut “remah-remah” yang ternyata malah sangat berguna. Romelu Lukaku, Diego Godin, dan Alexis Sanchez.

Memang, untuk soal “memungut”, Inter Milan lebih jeli. Sementara itu, Barcelona tak jeli membuang. Nurani mereka tertutup ego merek “klub besar”.

BACA JUGA Kulit Baru Inter Milan: Menendang Icardi, Merangkul Lukaku dan Alexis Sanchez atau artikel Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles