MOJOK.CO Pep Guardiola tak lagi bisa mencapai babak final Liga Champions. Ia seperti tak bisa melepaskan diri dari bayangan cinta pertama, paling sejati, bernama Barcelona.

Wise men say only fools rush in
But I can’t help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can’t help falling in love with you?

Like a river flows surely to the sea
Darling so it goes
Some things are meant to be
Take my hand, take my whole life too
For I can’t help falling in love with you

Like a river flows surely to the sea
Darling so it goes
Some things are meant to be
Take my hand, take my whole life too
For I can’t help falling in love with you
For I can’t help falling in love with you

Tyler Joseph, vokalis Twenty One Pilot membawakan “Can’t Help Falling in Love” dengan begitu sederhana. Ukulele, dan suaranya yang khas, sudah cukup berhasil membawakan lagu ajaib dari Elvis Presley ini. Iringan piano dan violin yang pas membuat magis lagu ini muncul seperti gairah bercinta di bawah langit temaram. Sangat sederhana, tapi bekasnya di bibir tak hilang disapu gincu mahal sekalipun.

Kesederhanaan cinta lagu ini dibawakan menembus zaman oleh Elvis, dan dipelihara secara bijaksana oleh Tyler adalah cinta yang paling paripurna yang ada di dalam diri Pep Guardiola. Di sudut kota Manchester, Guardiola sedang bersedih. Untuk kesekian-kali, setelah ratusan juta paun, ia tak lekas bisa membawa Manchester City menembus tangga langit yang dijanjikan, yang pernah ia titi bersama Barcelona.

Ketika masih melatih Bayern Munchen setelah satu musim hiatus pun, Guardiola tak bisa merasakan lagi, tak bisa lagi mencecap nikmatnya orgasme tertinggi kompetisi klub sepak bola Eropa; Liga Champions. Bahkan, Guardiola pernah dibuat termenung oleh Barcelona di babak semfinal.

Ya maaf saja, Pep, kamu juara Liga Champions hanya ketika melawan tim yang identitasnya kalahan dan diberi nama Manchester United. Kamu gagal ketika berhadapan dengan tim-tim besar semacam Atletico Madrid, AS Monaco, dan Liverpool. Dan kebetulan, tim bau jamban yang dikasih nama Tottenham Hotspur pun bisa bikin kamu jadi pecundang.

Baca juga:  Kalau Arsenal, Liverpool, dan Klub Liga Inggris Dukung LGBT, Kamu Mau Apa?

Kekalahan Guardiola bukan karena ia kurang banyak belanja, atau salah ketika pakai taktik. Guardiola kalah karena ia hanya bisa jatuh cinta berkali-kali dengan Barcelona. Cinta pertama terpasak di dalam jantung, mendekorasi hati paling indah, dan membuat nyaman jiwa ketika bisa mengenangnya. He can’t help falling in love with them…

Surgawi, Tyler Joseph bikin mabuk pendengarnya.

//Wise men say only fools rush in//

Ketika memenangi enam piala dalam satu musim, Guardiola dianggap sudah menyelesaikan semua tugasnya di Spanyol. Ia harus beranjak, bergerak, menyambut tantangan dan cinta yang baru di negara lain. Namun, kita semua bahwa cinta itu soal kenyamanan, bukan soal tantangan, tapi soal pengertian. Apakah ia terburu-buru hengkang dari Catalan?

//But I can’t help falling in love with you//

Iya, saya tahu, Pep, kamu jatuh cinta berkali-kali dengan Barcelona.

//Shall I stay?//

Tentu saja kamu boleh. Bahkan, mungkin, jika waktu bisa diputar, perkawinan dan bulan madu dengan Blaugrana jangan sampai terputus. Biarkan cinta membawa kalian merajai semuanya, menjadi mesin cinta di dalam hati Cules sedunia.

//Would it be a sin
If I can’t help falling in love with you?//

Cinta itu memang tidak seharusnya ditahan. Kamu bisa menjadi filsuf paling bijak dengan mengakui kekalahan di perempat final Liga Champions. Namun, kamu tidak akan pernah bisa menjadi pencinta paling paripurna. Karena seperti kata Mohammad Ali Ma’ruf, “Perihal cinta, kita semua pemula.”

//Like a river flows surely to the sea//

Ia yang mengalir dari hulu, akan sampai kepada muara pada waktunya. Kuncinya adalah “pada waktunya”. Saat ini, kamu terikat dengan perkawinan yang baru. Jalani saja dulu, karena tidak pernah ada yang tahu apakah cinta baru itu berujung sesuatu yang haru.

Baca juga:  Manchester City dan 3 Kunci Menjuarai Liga Primer Inggris 2017/2018

Namun, perlu kamu ketahui, Pep. Cinta sejati memang butuh waktu. Ia tumbuh tidak kepada pilihanmu sendiri, di tempat yang jauh. Terkadang, cinta sejati tumbuh tepat di sampingmu. Namun sayang, kamu berusaha menampik dan mencoba sesuatu yang nampak apik.

//Darling so it goes/
Some things are meant to be//

Cinta memang perlu diperjuangkan, bahkan ketika kamu dibuatnya berdarah dan menangis. Dan, yang sejati, akan selalu terjadi pada waktunya nanti.

//Take my hand, take my whole life too//

Sepak bola menjadi sebuah agama bagi para pecandunya, menjadi sebuah persembahan paling hakiki bagi penganutnya yang paling tekun. Ketika jatuh, romansa cinta pertama itu terasa begitu kuat. Kamu akan dibanding-bandingkan, kamu akan dihakimi oleh banyak pasang mata. Tak apa-apa, Pep. Sesuatu akan terjadi pada waktunya.

//for I can’t help falling in love with you//

Kamu akan merindukan masa-masa ketika menelepon Lionel Messi di tengah malam hanya untuk membicarakan sebuah taktik baru. Kamu akan merindukan sebuah momen ketika Andres Iniesta mengetuk pintu kerjamu hanya untuk menguatkan hatimu yang hancur karena kalah berkali-kali. Kamu akan merindukan sebuah masa ketika bocah ceking berwajah pucat bernama Sergio Busquets menjadi salah satu deep playmaker terbaik di dunia.

Kita selalu terinspirasi oleh hal-hal sederhana, hanya untuk membuatnya berarti pada waktunya. Kamu, Guardiola, duduklah di tepi jendela, sesap anggur paling sempurna, dan ingat lagi sebuah cerita kebangkitan. Sebuah cerita dari masa silam, ketika bersama La Masia belia merajai Eropa.

Kamu tak lagi bisa berpesta tanpa La Masia. Tak mengapa. Begitulah cinta pertama. Ia ada untuk dikenang di setiap bulir air mata. Kamu disebut bukan yang terbaik juga bukan perkara. Mereka yang mendalami kebijaksaan sepak bola, tahu pasti kontribusi dan warisan sempurna. Akan sebuah cara yang indah, sebuah kesenangan memainkan sepak bola.

Take my hand, take my whole life too
For I can’t help falling in love with you



Tirto.ID
Loading...

No more articles