MOJOK.CO Ketika Cristiano Ronaldo berhasil diredam oleh Bayern Munchen, adalah Karim Benzema yang memberi Real Madrid sebuah solusi. 

Leg kedua babak semifinal antara Real Madrid vs Bayern Munchen berjalan terbuka. Berbeda dengan jalannya leg pertama di kandang Bayern, kali ini, kedua tim menunjukkan inisiatif yang lebih mendominasi. Hasilnya, lalu-lintas serangan sangat padat. Gol banyak tercipta. Dan di ujung laga, Madrid yang lolos ke babak final Liga Champions 2017/2018.

Zinedine Zidane melakukan beberapa rotasi untuk laga ini. Sudah unggul agregat 2-1, Zidane tidak memainkan Casemiro untuk memberi tempat kepada Mateo Kovacic. Sementara itu, Isco Alarcon dan Dani Carvajal yang absen digantikan oleh Marco Asensio dan Lucas Vázquez. Keduanya tidak bermain maksimal ketika tampil sejak menit awal.

Terutama Marco Asensio, super sub yang biasanya menjadi pembeda. Salah satu hasil karyanya adalah gol kemenangan Madrid di rumah Bayern. Kecepatan, kreativitas, dan visi Asensio terlihat sangat menonjol di leg pertama, hanya untuk lesap justru ketika ia mendapatkan kesempatan bermain sejak sepak mula.

Ketiadaan jembatan antara lini tengah dan depan karena Asensio banyak turun ke bawah dan terpekung ketika naik ke dekat kotak penalti, membuat Madrid terlalu menggantungkan solusi ke sisi lapangan. Sementara itu, Bayern yang bermain dengan skema dasar tiga gelandang lebih dominan di lini tengah.

Baca juga:  Pasca Roma vs Barcelona: 3 Alasan Mengapa Roma Mampu Mengalahkan Barcelona

Situasi ini membuat Bayern dapat dengan mudah masuk ke kotak penalti. Usaha Bayern terbantu oleh lini pertahanan Los Blancos sendiri yang tidak konsisten. Bahkan, di beberapa momen, tuan rumah justru cenderung ceroboh ketika menghadapi penetrasi dari sisi lapangan. Gol pembuka dari Joshua Kimmich berasal dari kecerobohan Sergio Ramos ketika membuang bola.

Situasi yang berjalan beberapa saat ini membuat Real Madrid kesulitan menginisiasi serangan balik. Jika sudah begini, Cristiano Ronaldo menjadi terisolasi. Pemain asal Portugal tersebut banyak mendapatkan bola justru ketika turun jauh ke tengah lapangan karena pemain-pemain Bayern baru melakukan pressing ketika Ronaldo mendekati kotak penalti. Fokus Bayern adalah menekan pemain Madrid yang membawa bola dan mencegah terciptanya sebuah kesempatan.

Ketika Ronaldo kehilangan momentum dan lebih banyak berlari-lari kecil mencari ruang, Madrid tak bisa menggunakanya sebagai titik vokal serangan. Di sisi lain, terisolasinya Ronaldo justru membuat Karim Benzema mendapatkan banyak ruang untuk berkreasi. Ia sangat rajin turun ke tengah, membuka ruang, mengalirkan bola ke sisi-sisi lapangan, dan membawa kawannya ke dalam permainan dengan teknik menahan bola.

Boleh dikata, Benzema memainkan dua peran sekaligus yang seharusnya diemban dua pemain, yaitu creator seperti Isco dan finisher seperti Ronaldo. Inilah jawaban Benzema ketika Real Madrid tak bisa memaksimalkan Ronaldo.

Benzema sendiri, selama beberapa minggu ini, mendapatkan kritikan yang sangat deras lantaran jumlah gol yang semakin minim. Tugas penyerang memang mencetak gol. Namun, seiring perkembangan zaman dan perubahan cara bermain, penyerang yang lebih disukai adalah mereka yang juga mampu berkreasi. Inilah kelebihan Benzema.

Baca juga:  Seandainya Real Madrid Bertanding Melawan Timnya Kapten Tsubasa

Pemain asal Prancis tersebut punya kemampuan bergerak melebar dan mencari ruang untuk menerima bola. Ia ulet, tangguh ketika mempertahankan bola, dan jeli melihat rekannya di lini depan. Mantan pemain Lyon tersebut juga waspada dengan perubahan situasi. Semifinal leg kedua ini memang menjadi milik Benzema.

Dari statistik, setelah Madrid unggul 2 gol, Benzema mencatatakan 2 peluang, 2 tembakan tepat sasaran, dan 2 gol. Ia sangat efektif di depan gawang, pun sekaligus meringankan tugas gelandang untuk membawa bola ke sepertiga akhir. Jadi, kontribusi Benzema jauh lebih luas ketimbang sebuah gol. Kelebihan inilah yang sering gagal dipahami oleh pengamat dan fans Madrid sendiri.

Ketika Ronaldo kehilangan sentuhannya di dua semifinal, Benzema menjawabnya dengan permainan yang komplet. Ia menguasai lini depan. Memberikan keleluasaan kepada rekan-rekannya untuk ikut naik menyerang.

Superioritas individu berhasil membantu Madrid mengalahkan Bayern dan lolos ke babak final. Nanti, di babak final, ketika Ronaldo mendapatkan pengawalan yang sama, Benzema adalah sebuah solusi.



Loading...



No more articles