MOJOK.CODalam diri Diogo Jota, Liverpool mendapatkan banyak kelebihan. Namun, jika diizinkan menyederhanakannya menjadi satu kata, saya akan menyimpulkan nama Jota menjadi: solusi.

Roberto Firmino punya peran penting dalam sistem permainan Liverpool. Kemampuannya untuk turun ke lini kedua membuat “kerja” Mo Salah dan Sadio Mane menjadi lebih mudah. Namun, terkadang, Liverpool membutuhkan gol dari semua pemain di lini depan. Ketika Firmino “puasa gol”, Diogo Jota menawarkan solusi.

Tuntutan untuk striker, sebetulnya, selalu sama, yaitu bikin gol, sebanyak mungkin. kini, tuntutan untuk striker semakin kompleks. Mereka harus bisa terlibat dalam permainan. Misalnya, melakukan pressing ke kiper dan bek lawan supaya tidak ada kenyamanan menguasai bola, membuat asis, menjadi jembatan lini kedua, dan lain sebagainya.

Perubahan itu melahirkan semacam pemakluman ketika jumlah gol striker lebih sedikit ketimbang pemain sayap atau gelandang serang. Perubahan tersebut juga melahirkan banyak peran. Kita mengenal istilah pressing forward, false 9, deep-lying forward, dan lain-lain. Istilah-istilah yang terdengar keren untuk menggambarkan peran striker modern. Di sini, kerja Firmino menjadi sangat dihargai.

Namun, meski berkembang sedemikian rupa, tuntutan paling utama tidak pernah hilang, yaitu membuat gol. Firmino memang tidak selalu tajam. Rekening gol Liverpool terbantu oleh suburnya Mane dan Salah. Ketika jumlah gol Firmino tak kunjung berkembang, perlahan, Liverpool membutuhkan solusi baru.

Banyak orang yang tampaknya “kaget” ketika Liverpool mengalihkan target ke Diogo Jota setelah gagal mendapatkan Timo Werner. The Reds dianggap sedang “asal” mencari pemain depan yang bisa dibeli. Namun, banyak yang lupa bahwa tim analis dan scouting Liverpool selalu punya perhitungan matang ketika menyodorkan rekomendasi untuk Jurgen Klopp.

Klopp sendiri sudah memberi kita gambaran tentang kemampuan Diogo Jota yang akan sangat bermanfaat untuk Liverpool. Pelatih asal Jerman itu bilang:

“Dia memberi kami banyak pilihan. Masih berusia 23 tahun, masih bisa berkembang, potensinya sangat besar. Dia punya kecepatan, bermain kombinasi dengan pemain lain, bisa ikut bertahan, bisa menekan,”

“Kemampuan tersebut membuat kami lebih sulit diprediksi lawan dan banyak pilihan untuk menggunakan sistem yang berbeda. Dia bisa bermain di tiga posisi dalam sistem 4-3-3. Jika kami bermain dengan empat gelandang, Jota bisa bermain di dua sisi lapangan,” kata Klopp.

Meminjam istilah para analis sepak bola, Diogo Jota menawarkan “dimensi” yang berbeda jika dibandingkan Firmino. Firmino sangat jago di urusan link-up play, sementara Jota menawarkan teknik tinggi untuk urusan menendang bola ke arah gawang. Teknik menendang itu diiringi kemampuan pressing. Nah, kalau soal pressing, kedua pemain ini sama bagusnya.

Dari empat pertandingan yang sudah dijalani, Diogo Jota, rata-rata melakukan 24,6 aksi pressing per 90 menit. Sebuah rata-rata aksi yang terbilang tinggi untuk striker. Jadi, Liverpool tidak kehilangan kemampuan menekan lawan sejak lini pertama, tetapi juga menambahkan sisi berbeda ketika memainkan Jota, yaitu tingginya teknik si pemain untuk mengeksekusi sebuah peluang.

Tidak aneh jika seorang striker suka melepaskan tembakan. Hal yang membedakan antara striker bagus dan tidak adalah bekal di balik hobinya menembak ke gawang. Misalnya, teknik mengontrol bola, menempatkan bola di posisi paling ideal untuk disepak, mengukur kerasnya impak kaki dan bola, akurasi, timing berlari, dan lain sebagainya.

Jika menyuntuki video kompilasi gol-golnya ketika masih berseragam Wolves, Jota punya semacam kebiasaan ketika melepaskan tembakan. Gol yang dia bikin berasal dari kemampuan first touch dan first time yang baik.

Kemampuan first touch, secara sederhana, bisa kita pahami sebagai kemampuan pemain untuk mengontrol bola dengan sekali sentuh, untuk kemudian melakukan olah bola selanjutnya. Bisa melakukan umpan atau menembak. Sementara itu, kemampuan first time merujuk ke kemampuan pemain mengeksekusi bola tanpa melakukan kontrol, baik mengumpan atau menembak.

Kebiasaan Diogo Jota yang lain adalah menembak bola dengan keras dan menyusur tanah. Pilihan yang baik untuk mencegah antisipasi kiper. Apalagi, Jota menyertakan akurasi yang baik ketika melakukannya. Ingat, Diogo Jota punya dua kaki yang sama-sama kuat. Jadi, eksekusi peluangnya semakin sulit diantisipasi.

Kemampuan dan kebiasaan ini sangat berharga untuk Liverpool. Berbekal kelebihan ini, Diogo Jota tidak memberi lawan kesempatan untuk melakukan tekanan. Jadi, rata-rata aksi berujung tembakan atau peluang untuk rekan semakin tinggi.

Saat ini, Jota sudah membuat rata-rata aksi tembakan ke gawang senilai 2,49 tembakan per 90 menit. Terbilang cukup tinggi untuk striker yang rata-rata per pertandingan tidak menyentuh bola lebih dari tiga menit.

Butuh angka-angka yang lebih mengerikan?

Sejauh ini, rata-rata tembakan Diogo Jota adalah 72 persen tembakan menyusur tanah. Dari rata-rata tersebut, Jota bisa membuat satu gol setiap 2,76 tembakan. Singkat kata, setiap tiga tembakan menjadi satu gol.

Ada satu lagi kekuatan Diogo Jota yang tidak terekam statistik, yaitu kemampuan masuk di antara pemain lawan, terutama bek. Kekuatan yang tidak terekam oleh statistik ini, bagi saya, justru menjadi kekuatan terbesarnya.

Kekuatan ini membuat Diogo Jota sulit di-marking. Dia bisa memosisikan diri di depan bek lawan untuk menyambut umpan silang atau direct pass dari belakang. Akselerasi tinggi membantunya berdiri di depan pemain lawan. Tubuhnya terlihat ringkih, tetapi ternyata kuat untuk membuat lawan tetap di belakangnya.

Muncul dari titik buta, ditambah teknik menendang bola kelas dunia, membuat Diogo Jota menjadi aset yang bernilai tinggi untuk Liverpool. Untuk pemain berusia 23 tahun, usia awal masuk periode emas, konsistensi yang akan menentukan kariernya bersama Liverpool.

Dalam diri Diogo Jota, Liverpool mendapatkan banyak kelebihan. Namun, jika diizinkan menyederhanakannya menjadi satu kata, saya akan menyimpulkan nama Jota menjadi: solusi.

BACA JUGA Roberto Firmino Menetapkan Standar Striker Masa Depan dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Arsenal dan Fetish Mikel Arteta untuk Menyakiti Diri Sendiri