fbpx

MOJOK.CO Susah untuk tidak menyebut Liverpool sebagai tim terkuat di jagat sepak bola untuk saat ini. Pendekatan sepak bola yang berbeda membuat mereka sulit dikejar tim mana pun saat ini.

Sebelum ngobrolin Liverpool, saya ingin cerita dikit tentang kabar baru di dunia gaming.

Jadi, akhir Januari kemarin Valve mengeluarkan episode baru True Sight tentang final The International 2019 antara OG melawan Liquid. True Sight adalah film dokumenter yang merekam kejadian di balik layar pertandingan tim profesional Dota 2. Dalam salah satu adegan, Sebastian “Ceb” Debs (pemain dari OG) berkata bahwa kombinasi Templar Assassin-Tidehunter (hero di Dota 2) sering gagal jika dipilih pertama dalam fase draft menurut statistik.

Di persepakbolaan dan di banyak bidang lain, orang yang skeptis akan menganggapnya sekadar angka. Sepak bola adalah pertarungan taktik dan fisik di lapangan, mereka bilang.

Saya ingin bilang bahwa yang luput dari perhatian mereka (yang skeptis) adalah di balik itu semua, banyak orang yang melihat ribuan video, mencatat angka-angka yang tidak diacuhkan, untuk melihat apa yang tim lain yang tidak lihat.

Contohnya, Klopp melihat hal tersebut, dan itu membawa Liverpool ke tangga juara.

Masalahnya, kita tidak bicara angka sembarang angka. Dalam Dota 2, angka-angka persentase kemenangan, kecocokan line-up hero, grafik ekonomi tim, dan menit di mana sebuah tim harus melancarkan serangan adalah informasi krusial yang harus mereka pegang. Sebuah tim tahu, mereka akan menang ketika dalam menit tertentu mereka memegang item dan menguasai map. Mereka juga tahu, kekalahan akan datang jika mereka tidak bereaksi apa pun.

Baca juga:  Liverpool Menemukan Kyuba No Michi dalam Diri Takumi Minamino

Dalam sepak bola pun tidak berbeda, ada angka persentase kemenangan, persentase umpan, wilayah pergerakan pemain, dan masih banyak lagi. Angka ini amat membantu sebuah tim untuk mengerti lawan dan juga strategi yang pas untuk diimplementasikan. Memahami musuhmu adalah membeli separuh kemenangan sebelum berperang, dan Klopp serta Liverpool paham akan hal itu.

Liverpool mempunyai matematikawan-cum-analis yang membuat data siapa saja pemain yang harus dibeli dan siapa pelatih yang harus direkrut untuk kepentingan tim. Liverpool sempat melalui masa-masa tanpa gelar yang lama ketika mengimplementasikan langkah ini, namun semuanya terbayar dengan gelar Liga Champions di tangan dan back-to-back finalist. Perekrutan Klopp dan Salah tidak lepas dari hasil perhitungan para ahli di belakang layar.

Perekrutan Klopp terbukti adalah langkah jitu. Klopp punya pendekatan berbeda kepada pemain. Dalam tiap kesempatan sebelum merekrut pemain, Klopp selalu bertanya, “Apakah Anda mau berlatih?” atau “Apakah Anda mau berlari?” Memang terlihat simpel, tapi jawaban pertanyaan itu bagi Klopp adalah memberi kejelasan apakah pemain itu seorang pejuang atau bukan.

Instruksi Klopp untuk pemain Liverpool sederhana, beri energi lebih. Ketika kau bermain di depan puluhan ribu orang yang menginginkanmu menang dan kalah pada saat yang bersamaan, instruksi kompleks hanya akan menguap di kepala para pemain.

Klopp menjadikan pemain Liverpool memiliki perasaan bahwa mereka punya nilai untuk timnya, terlepas mereka bermain atau tidak. Setiap pemain berharga, dan mereka adalah satu keluarga yang saling mendukung. Analisis yang dilakukan oleh para orang di balik layar Liverpool dengan statistik dan data yang tepat membuat Liverpool berada di jalur juara setelah menjadi bahan makian selama bertahun-tahun.

Baca juga:  Memang Mungkin ya Menceraikan Suporter Sepak Bola Indonesia dengan Kekerasan?

Sebastien Debs, pemain OG yang dulu juga jadi pelatih OG menekankan pentingnya memberi semangat pemain meski mental mereka hancur digilas musuh. Hasil tidak akan menjadi penting ketika dalam proses tersebut mengorbankan kesenangan dan tidak menikmati sama sekali pertandingan yang mereka jalani. Mental dan team building yang dijalankan membuat OG menjadi tim yang pertama kali juara dua kali dalam turnamen The International.

Tapi Sebastien tidak hanya mengandalkan motivasi saja, namun dia benar-benar memiliki tumpukan kertas yang berisi data tim yang akan dilawan. Dia menganalisa tiap tim yang ada, bagaimana mereka bisa maju sampai babak selanjutnya, siapa pemain yang paling diwaspadai, dan bagaimana menyiapkan strategi yang pas untuk tiap lawannya.

Liverpool duduk nyaman di puncak terpaut 19 poin dari peringkat kedua di Liga Inggris, dan pencapaian OG sepertinya tidak mudah dikejar tim lain di dunia untuk saat ini. Dua tim yang menggunakan statistik sebagai senjata dan dua tim ini yang sedang duduk nyaman di puncak dunia. Untuk meraih hal luar biasa, kau harus melakukan hal yang tidak biasa.

BACA JUGA Bukayo Saka dan Resonansi Awal Karier Bellerin di Arsenal dan artikel menarik buat fans MU lainnya di BALBALAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles