MOJOK.COSkor akhir 1-1, menguntungkan Chelsea. Namun, semifinal Liga Champions belum usai. Real Madrid masih sangat berbahaya.

Semua orang tahu kalau Thomas Tuchel tidak akan menyiapkan anak asuhnya untuk bertahan ketika tandang ke rumah Real Madrid. Namun, mungkin, hanya sedikit yang sudah menaruh keyakinan Chelsea akan bermain dengan intensitas cukup tinggi sejak sepak mula.

Bahkan tidak butuh waktu lama, Chelsea sudah membuat peluang bersih. Timo Werner tak terkawal di depan gawang. Namun, seperti yang kita sama-sama tahu, Werner lebih sering membuang peluang ketimbang mengonversikannya menjadi gol. Sepakannya dari posisi sangat bebas, masih nyangkut di kaki Thibaut Courtois, kiper Real Madrid.

Setelah peluang emas itu, Chelsea tidak menurunkan gigi. Tuchel berhasil membuat anak asuhnya bermain dengan ketenangan dan level komunikasi yang bisa dibilang sangat cemerlang. Sungguh sajian berkelas dari sebuah tim yang berhadapan dengan penguasa Liga Champions.

Kelas itu terlihat dalam sebuah momen ketika Christian Pulisic mengakali garis pertahanan terakhir dari Real Madrid. Sebuah umpang direct berhasil dikontrol dengan baik, mengecoh Courtois, lalu menceploskan bola ke gawang yang sudah ditutup dua pemain Real Madrid.

Setelah gol Pulisic, Chelsea masih bermain dengan level komunikasi yang sangat baik. Hingga pada suatu titik di mana mereka tak perlu melihat posisi kawan untuk mengumpan. Sebuah gambaran keberhasilan Tuchel menciptakan pemosisian pemain dan melatih para pemainnya hingga level tertinggi.

Pemosisian diri yang terbilang istimewa ini membantu Chelsea menghindari pressing pemain Real Madrid. Selain itu, posisi pemain Madrid yang melakukan pressing memang tidak ideal. Terkadang, jarak pemain yang menekan terlalu jauh, membuat pemain Madrid terlambat melakukan aksi.

Kemampuan ini juga membantu Chelsea memanfaatkan betul “kemalasan” Marcelo, Real Madrid, ketika kembali ke posisinya di tengah transisi bertahan. Jika Werner lebih klinis memanfaatkan momen, bukan tidak mungkin Real Madrid tertinggal lebih dari satu gol.

Real Madrid dan taman bermain Liga Champions

Terkadang saya heran dengan Liga Champions. Sebuah klub tak selalu bermain baik. Namun, di akhir laga, sebuah klub ini selalu tertawa paling akhir. Tentu yang saya maksud adalah Real Madrid. Sejak dulu, termasuk ketika menjadi juara Liga Champions tiga kali berturut-turut, Madrid tak selalu bermain sempurna.

Mereka seperti punya daya magis untuk selalu stay in the game. Mungkin terdengar sedikit klenik, tetapi memang begitulah adanya. Ada hal-hal yang kadang sulit dijelaskan dengan tools analisis terbaik. Termasuk determinasi dan ketenangan yang sulit diukur itu.

Namun, jika ingin “mengukur” sesuatu, kamu harus menempatkan nama Karim Benzema sebagai pemain Real Madrid yang mutlak diperhitungkan. Satu protagonis ini membuat Madrid tak kehilangan momentum dan agregat.

Benzema, bisa dibilang menjadi salah satu pemain paling stabil di Liga Champions. Tahun ini, dia sudah membuat 71 gol di Liga Champions. Termasuk gol cantik ke gawang Chelsea. Gol penyama kedudukan yang sukses mengubah mood laga.

Jika diizinkan membuat klaim, saya akan menegaskan bahwa Benzema adalah false 9 terbaik di dunia. Kontrol bola, pergerakan tanpa bola, pergerakan dengan bola, keputusan kapan mengumpan kapan menembak, hampir tidak ada yang sia-sia.

Setelah gol penyama kedudukan itu dan sampai babak pertama berakhir, Real Madrid perlahan memegang kontrol laga. Tuchel sempat membuat penyesuaian dengan memasukkan Kai Havertz dan Hakim Ziyech. Pergantian yang membuat Chelsea berusaha mengontrol bola lebih lama dengan garis pertahanan tinggi.

Bahkan hingga menit 65, Real Madrid yang lebih banyak tertekan. Chelsea sangat berani untuk bermain di wilayah lawan. Namun, resistensi diri dari Madrid untuk tidak larut dalam rencana Tuchel berhasil dengan baik. Trio Modric, Casemiro, dan Kroos lebih stabil, lebih baik dibandingkan performa mereka di babak pertama.

Situasi ini pula yang seperti kembali menegaskan kemampuan sang raja Liga Champions untuk tidak benar-benar lupa diri di sebuah laga. Salah umpan dan profesional foul lebih sering terjadi. Namun, yang paling penting, Madrid tak benar-benar dikontrol oleh Chelsea.

Zidane sendiri membuat penyesuaian dengan mengubah skema. Masuknya Marco Asensio dan Eden Hazard membuat Madrid bermain dengan skema 4-3-3. Perubahan skema yang membuat mereka lebih dominan di paruh akhir babak kedua.

Stagnasi terjadi hingga pertandingan selesai. Skor akhir sama kuat 1-1. Chelsea pulang ke London dengan gol tandang yang bobotnya sangat berat di Liga Champions. Mereka hanya butuh imbang tanpa gol untuk lolos ke babak final Liga Champions.

Namun, saya rasa Chelsea dan Tuchel sadar bahwa skor 1-1 melawan Real Madrid adalah skor yang berisiko. Meski ditahan imbang, aura berbahaya tetap terasa dari sang raja. Seperti ada keyakinan bahwa skor akhir ini tidak berefek ke kepercayaan diri dan keyakinan sang raja.

Chelsea bermain sangat baik. Mereka berhasil menunjukkan kelas tersendiri ketika tandang ke Real Madrid. Namun, bagi sang raja, Liga Champions masih seperti taman bermain saja. seperti seseorang yang memahami betul detail taman bermain ini dan punya cara untuk merombak ulang segalanya.

Skor akhir 1-1. Memang menguntungkan untuk Chelsea. Namun, laga seru ini masih jauh dari kata usai.

BACA JUGA Kai Havertz dan Seikat Benang Chelsea yang Kusut dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Timo Werner yang Menunggu Liverpool, Kini Dikejar Barcelona dan Manchester United