MOJOK.COApakah Arsenal memang akan menjadi jodoh Philippe Coutinho selanjutnya? Mari coba kita baca kebenaran soal rumor transfer ini.

Saya tidak tahu dari mana rumor Arsenal dan Philippe Coutinho. Namun, izinkan saya menebak:

Rumor Coutinho ke Arsenal muncul setelah Bayern Munchen tidak menggunakan haknya di dalam klausul peminjaman untuk mempermanenkan pemain dari Brasil itu. Jadi, di akhir musim nanti, Coutinho akan dikembalikan ke Barcelona. Kita tahu bagaimana kariernya di Barca dan media dengan cerdik mengemasnya menjadi sebuah berita.

Alasan teknisnya? Exposure berita yang bakal tinggi ketika menggunakan nama Arsenal. Terlalu sayang jika rumor ini tidak dipoles begitu rupa. Apalagi beberapa minggu terakhir, performa berita dengan tema sepak bola tidak begitu menyenangkan. Silakan tanyakan ke teman kamu yang sedang bekerja di dunia media.

Well, itu mungkin alasan munculnya rumor Philippe Coutinho ke Arsenal. Mungkin, lho, ya. Ini sekadar tebakan dari redaktur yang kadang sering bener menebak. “Kadang sering bener” itu kalimat macam apa. Yah, pada akhirnya, fans Arsenal seharusnya paham kalau rumor ini tidak punya dasar kuat untuk menjadi kenyataan.

Melihat Coutinho di dalam skuat Arsenal

Terkadang, “dua matahari” di dalam skuat itu tidak baik. Tanpa perlu saya jelaskan lebih jauh, pembaca, terutama fans Arsenal pasti paham kalau Coutinho bergabung, menit bermain Mesut Ozil akan terpangkas. Atau, apakah ini semacam strategi dari manajemen untuk secara halus membukakan pintu keluar untuk Ozil?

Satu hal yang perlu dicatat adalah meski posisinya sama, cara bermain dua pemain ini sangat berbeda. Sama-sama pemain #10, Ozil lebih berguna ketika bermain di belakang striker. Sementara itu, Coutinho akan lebih maksimal jika bermain di sisi kiri Arsenal. Namun, meski banyak bergerak ke sisi kiri, dia bukan pemain sayap

Baca juga:  Manchester United Kini Lebih Bahagia Bersama Ole Gunnar Solskjaer

Dua tahun yang lalu, saya pernah menulis untuk Football Tribe Indonesia. Temanya adalah bagaimana cara mengintegrasikan Coutinho ke skuat Barcelona *jika* Liverpool mau melepasnya. Dan, sekali lagi, analisis itu menjadi kenyataan dan Liverpool melepas si pemain dengan harga mencapai 140 juta euro.

Coutinho akan lebih efektif ketika bermain di wilayah halfspace sebelah kiri. video analisis dari Bundesliga ini bisa membantu kamu memahami caranya bermain:

Ada perhatian khusus jika Arsenal memboyong si pemain dan ini sifatnya positif. Pertama, si pemain akan maksimal ketika ada runner dari sisi kiri. Arsenal punya 3 bek kiri agresif; Tierney, Kolasinac, dan Bukayo Saka, jadi sudah cukup. Coutinho, sama seperti Ozil, butuh striker yang pintar memanfaatkan ruang di belakang bek lawan; sudah ada Aubameyang.

Tentu dengan catatan Lacazette dicadangkan atau dijadikan alat tukar untuk Thomas Partey. Ketika Mkhitaryan dan Elneny akan dijual, kebutuhan seorang gelandang sentral tentu semakin urgen. Apalagi belum ada kejelasan untuk masa depan Dani Ceballos, yang konon ingin kembali ke Spanyol musim depan.

Mempertimbangkan sisi teknis, Coutinho memang terlihat sangat cocok dengan Arsenal. Apalagi, saya merasa kalau mantan pemain Internazionale Milano itu akan menjadi pusat permainan. Sebuah kondisi yang setidaknya akan membantu si pemain beradaptasi dan mendapat kebebasan di sepertiga akhir lapangan.

Konsistensi dan mental yang perlu diperbaiki

Suatu kali Lionel Messi memberi kesempatan kepada Coutinho untuk mengeksekusi penalti. Messi, secara jelas, ingin memperingatkan fans bahwa Coutinho adalah bagian dari tim dan tidak selayaknya mendapat perlakuan buruk. Selama masa adaptasi, kehidupan pemain berusia 27 tahun itu memang berat karena tidak konsisten.

Baca juga:  Sosok Cristiano Ronaldo Terlalu Besar Bagi Juventus

Situasi membuat mentalnya terluka. Dia jadi sangat kesulitan menemukan kembali titik puncak performa. Coutinho, saya rasa, adalah jenis pemain di mana dirinya harus mendapat lingkungan yang tepat, yang mendukungnya, baik secara mental maupun teknis. Itulah alasanya, semasa membela Liverpool, dia menjadi pemain terbaik.

Hans Flick yang menggantikan Nico Kovac sebagai pelatih Bayern menggeser Coutinho di sisi lapangan, bukan lagi #10. Hasilnya, kebebasannya menjadi lebih dibatasi. Tidak lagi seorang fantasista #10 di belakang Lewandowski. Perubahan ini, secara perlahan, mengubahnya menjadi pemain yang tidak konsisten. Meski secara statistik masih sangat bagus.

Pemain yang rentan secara mental memang lebih ribet. Terlepas dari kualitasnya yang bisa disebut sebagai pemain kelas dunia. Bagi Arsenal, ketimbang mengkur potensinya secara teknis, menjaga mental si pemain akan menjadi pekerjaan paling utama. Mikel Arteta disebut yakin bisa membantu si pemain mengeluarkan kemampuan terbaik dan untuk saat ini saya setuju saja.

Nah, itulah yang terjadi di sekitar rumor Coutinho ke Arsenal. Baik dan buruk selalu menyertai sebuah kejadian. Kesuksesan ditentukan oleh kemampuan klub untuk memaksimalkan kebaikan dan “mengatur” keburukan.

BACA JUGA Skuat Aneh Arsenal di Mata Analis Sepak Bola Profesional atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.