MOJOK.CODi mata analis profesional, skuat Arsenal bisa digambarkan menggunakan satu kata saja: “aneh”. Kombinasi pelatih absurd dan komposisi pemain yang tidak seimbang.

Jumat (10/9) malam, saya ngobrol dengan salah satu analisis sepak bola profesional. Dia bekerja untuk sebuah klub di Liga 1. Obrolan kami, tentu saja, soal dinamika Liga 1, Liga 2, dan tantangan menjadi analis profesional untuk Klub Liga 1. Apalagi ketika pelatih kepala punya ide dan gagasan yang terkadang sulit dipahami.

Ketika bercerita soal pelatih kepala yang idenya sulit dipahami, secara otomatis seperti reflek, wajah Unai Emery, pelatih Arsenal, yang terbayang di benak saya. Jangan-jangan, karena kerumitan ide dan gagasan yang semakin absurd, Emery punya takdir melatih salah satu klub di Indonesia. Lumayan juga buat orang lokal, bisa foto bareng bule demi konten.

Obrolan soal sepak bola Eropa tidak terlalu banyak. Salah satu teman bercerita soal betapa sulitnya hidup di bawah naungan Pep Guardiola. Manchester City, misalnya, di matanya menjadi seperti robot. Si analis membenarkan pandangan itu. Meskipun gagasan Pep Guardiola bagus dan terasa segar, lantaran sangat intens, pemain pasti “pegel-pegel”. Sangat lelah.

Tepat di saat itulah saya menyambar. “Gimana dengan Arsenal? Kenapa Unai Emery kerjanya begitu?”

Teman saya ini analis profesional. Dia sudah terbiasa tidak menjelaskan sesuatu tanpa data yang jelas. Dia tidak menjawab secara jelas. “Tidak tahu.” Jawaban yang terlalu singkat dan brengsek betul bikin saya makin penasaran. Penasaran karena saya berani bertaruh dia sedang menyusun analisis Arsenal di dalam kepalanya. Saya kenal betul dia.

Dan benar saja, seiring obrolan soal Arsenal, dia mengungkapkan dua poin yang sungguh menarik. Dua poin itu dia simpulkan ke dalam satu kata: “Aneh”.

“Maksudnya?” Kejar saya.

“Ya aneh. Skuat Arsenal itu aneh.”

“Aneh gimana?”

Setelah dipancing dia memberikan penjelasan singkat. Namun, ketika dipikirkan dalam-dalam, terasa masuk akal. Dua poin itu adalah:

Arsenal tidak akan memainkan “kuartet” di depan bersama-sama

Hingga November 2019, Emery belum pernah memainkan Pierre-Emerick Aubameyang, Nicolas Pepe, Alexander Lacazette, dan Mesur Ozil bersama-sama. Ketika Pepe dan Lacazette sudah kembali ke kebugaran terbaik, Emery masih saja mengasingkan Ozil. Baru ketika Lacazette absen karena cedera, Ozil mendapatkan kesempatan bermain.

Baca juga:  Ceballos ke Arsenal: Ketika Emery Mengadopsi Arsene Wenger

Saya membayangkan kuartet yang luar biasa. Trisula depan dibantu oleh satu pemain super kreatif. Pastinya menjadi kuartet yang bisa kreatif, tajam, dan menghibur. Betapa polosnya saya.

Membayangkan keempatnya bisa bermain bersama di lini depan Arsenal memang menyenangkan. Namun, bagi pelatih, imajinasi tidak boleh mendominasi. Teman saya, si analis bilang: “Itu Emery nggak mungkin mainin Aubameyang, Pepe, Lacazette, dan Ozil bersama-sama. Keempatnya itu nggak bisa bertahan.”

Setelah dipikirkan, analisisnya memang masuk akal. Pertama soal Ozil. Kita tahu dia sangat kreatif. Keberadaannya di sepertiga akhir lapangan sangat penting. Ada yang bilang dia tidak perlu ikut bertahan karena tugasnya di depan. Ya kalau main sepak bola plastik atau tarkam kamu bisa berpikiran seperti itu. Nunggu saja di depan, yang bertahan biar temanmu.

Saya salah satu yang sampai sekarang masih berpandangan Ozil bisa ikut bertahan. Kata “bisa” tentu takarannya berbeda jika kita menyandingkan Matteo Guendouzi di sini. Toh Ozil pernah terlibat dalam proses bertahan ketika berseragam Real Madrid. Namun, ada sistem yang menjadi patokan. Di Arsenal sekarang, sistem yang mendukung itu tidak terlihat.

Pelatih jadi sangat membutuhkan pemain yang bisa menyerang dan bertahan sama baiknya. Inilah salah satu alasan Emery menempatkan Lucas Torreira sedikit ke depan. Meski kita tahu, proses adaptasi Torreira dengan peran barunya sangat tidak mulus. Ozil tidak punya atribut ini.

Nah, soal Aubameyang dan Lacazette, silakan cari lagi rekaman pertandingan Arsenal vs Wolves. Ketika posisi skor 1-0 untuk Arsenal, di babak kedua, Wolves membangun serangan dari kiper. Ketika bola sampai di gelandang bertahan, Aubameyang dan Lacazette tidak segera melakukan pressing kepada si penerima bola.

Bahkan, seharusnya, keduanya sudah berusaha menutup jalur umpan dari kiper menuju gelandang. Namun, keduanya cuma berjalan santai dan satu proses itu menjadi awal tendangan penalti yang didapat Wolves.

Baca juga:  Fabinho, Raksasa Liverpool dan Cinta Arsenal yang Hinggap di Lain Hati

Nah, inilah alasannya kuartet Auba, Laca, Pepe, dan Ozil tidak akan bermain bersama. Keempatnya tidak bertahan. Atau setidaknya menerapkan pressing secara kontinu. Padahal, sepak bola modern menuntut atribut itu.

Sokratis dan David Luiz itu jelek

Poin kedua dari teman saya adalah Sokratis dan David Luiz itu bukan bek bagus. Saya tertegun dibuatnya….

Bagi saya, Sokratis itu bagus. Terutama dia berani step up ketika Laurent Koscielny cedera panjang. Sokratis sukses menggalang pertahanan dengan baik ketika bermain bersama Rob Holding dan Skrodran Mustafi. Trio ini buyar ketika Holding cedera. Semakin buruk ketika Hector Bellerin menyusul kemudian.

Teman saya, si analis ini memang tidak ngomongin kualitas diri Sokratis. Yang sedang ia sasar adalah kesesuaian antara cara bermain Arsenal dengan spesifikasi diri Sokratis dan David Luiz. Keduanya bukan bek yang nyaman membangun serangan dari bawah, meskipun David Luiz punya kemampuan passing cukup baik.

Namun, membangun serangan dari bawah memang bukan sekadar mengalirkan bola dari kiper ke bek, lalu menuju gelandang. Membangun serangan dari bawah adalah merencanakan sebuah jalan mencapai gawang lawan. Umpan mengandung informasi. Umpan bukan hanya untuk mengalirkan bola, tetapi juga menggerakkan lawan, hingga merusak formasi lawan.

Kedua bek ini memang tidak punya level kecerdasan untuk pekerjaan jenis ini. Maka ketika Arsenal membeli David Luiz, sebetulnya sudah terasa aneh. Semakin aneh ketika Emery memaksa Arsenal untuk membangun serangan dari bawah. Sudah terbukti tidak efektif, masih saja dilakukan.

Atas dasar itulah, teman saya si analis ini menyimpulkan semuanya ke dalam satu kata: “aneh”. Sejak awal, jika ingin bermain sepak bola dari bawah, beli bek yang mampu. Jika ingin melakukan pressing dari depan, beli penyerang dan pemain sayap yang mendukung.

Kombinasi antara pelatih dengan ide absurd dan komposisi pemain yang tidak seimbang melahirkan satu kata menohok: “aneh”.

BACA JUGA Emery Melirik Ozil Hanya Ketika Butuh: Gambaran Laki-Laki Lemah Hati atau tulisan YAMADIPATI SENO lainnya.

 



Tirto.ID
Loading...

No more articles