MOJOK.COEmery akhirnya (kemungkinan) akan memainkan Mesut Ozil di laga Liverpool vs Arsenal. Melirik hanya ketika butuh saja. Gambaran lemahnya hati sang pelatih.

Saya jarang setuju dengan komentar-komentar antik mantan pemain Arsenal. Martin Keown, misalnya. Namun, ketika Keown berkata kalau pemilihan kapten tidak seharusnya seperti pemilihan idol, saya setuju betul. Granit Xhaka adalah pemain paling populer. Sayang, popularitas tidak membuatnya menjadi kapten yang menginspirasi.

Saya juga setuju dengan kalimat Ian Wright, mantan pemain Arsenal lainnya. Dalam sebuah acara televisi bersama Peter Crouch, Ian berkata kalau sebagai kapten kamu tidak boleh sampai berkonflik dengan fans sendiri. Tekanan dan cemoohan sudah menjadi risiko pekerjaan. Sebagai kapten, kamu harus bertindak selayaknya pemimpin. Memberi contoh bukan populer semata.

Saya sudah pernah menegaskan kalau kisruh Xhaka bukan salahnya sendiri. Ini bukan masalah tunggal. Ada andil Unai Emery di sana. Pelatih harusnya tahu kapan harus mencadangkan pemain yang tengah dalam performa terburuk. Jika terus dimainkan, dipaksa, si pemain hanya akan menjadi target ledekan fans. Perlahan-lahan, ledekan itu akan mengendap dan meledak.

Kisruh Xhaka juga semakin menegaskan kalau Emery bukan leader yang kuat. Dia terlalu banyak berkonsultasi dengan petinggi klub dan pemain lain. Emery seolah-olah tidak berani menghadapi semuanya sendirian. Memutuskan yang terbaik dan lakukan dengan cepat. Dia bahkan berpotensi merusak Mesut Ozil lebih jauh.

Melawan Liverpool di ajang Carabao Cup, Arsenal tidak akan diperkuat beberapa pemain dari tim utama. Mereka adalah David Luiz, Aubameyang, Chambers, dan Xhaka sendiri. Otomatis, ban kapten akan melingkar di lengan Ozil.

Ketika bertemu dengan wartawan, Emery berkata bahwa kini Arsenal butuh kualitas Ozil. Kini, setelah mengasingkan Ozil selama satu bulan lebih, Emery bilang bahwa The Gunners membutuhkan kualitas dari pemain asal Jerman itu.

Baca juga:  Anthony Martial Membantu Manchester United Mengukur Gawang

“Kami butuh kualitas dirinya, kemampuannya. Kami butuh konsistensinya. Kami butuh mental positifnya. Kami berharap dia bisa membantu kami di pertandingan nanti,” kata Emery seperti dikutip Football London.

Yang dilakukan oleh Emery seperti anak kecil yang mainannya direbut. Dia mengaduh, merajuk, berbicara kepada ruang kosong kecuali isi hatinya sendiri. Arsenal sudah membutuhkan Mesut Ozil sejak lama. Namun, pelatih lemah hati ini terus-menerus mengunyah egonya sendiri.

Seorang pelatih lumrah ketika punya preferensi sendiri akan sesuatu. Misalnya ada pelatih yang tidak suka dengan gaya bermain pemain tertentu. Ada yang tidak suka karena pengaruh pemain itu terlalu besar di kamar ganti. Ada juga yang benci tanpa alasan yang jelas. Dan jenis terakhir ini hanya akan merusak bangunan sebuah tim. Mulai dari cara bermain hingga keharmonisan.

Emery punya rekam jejak yang sangat buruk untuk manajemen pemain. Ketika melatih Spartak Moscow, Emery justru melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Emery ingin para pemain tidak lalai membawa paspor. Suatu kali, Spartak Moscow harus menunda perjalanan selama lebih dari 3 jam karena ada seseorang yang lupa membawa paspor. Dan orang itu bernama Emery.

Emery pula yang hendak menjual Angel Di Maria ketika melatih Paris Saint-Germain. Untung saja manajemen PSG tidak memberi lampu hijau. Kini, ketika Emery sudah minggat, Di Maria menjadi penampil terbaik, pemain pemain paling penting mereka musim ini.

Kini, dia mengasingkan Ozil tanpa alasan yang jelas. Alasan Ozil tidak berlatih sekeras pemain lain sangat sulit saya terima. Buat apa berlatih terlalu keras, untuk kemudian bermain tanpa isi kepala setiap minggunya? Gaya Ozil sudah seperti dari dulu. Jose Mourinho memberi gambaran yang jelas.

Baca juga:  Fernando Torres: Redup Badai Petir Berambut Perak

“Mesut Ozil bukan Messi atau Ronaldo. Dia tidak akan bisa menanggung semuanya sendirian. Dia itu pemain kreatif yang jenius. Dan seorang pemain kreatif yang jenius akan semakin bagus jika lini di depannya juga bagus. Selama ini, Arsenal tidak punya pemain yang tepat untuk bermain di depan Ozil. Kini, ketika mereka punya pemain depan seperti itu, untuk alasan tertentu, Ozil justru diasingkan. Orang bilang dia malas, tetapi Ozil bekerja sangat keras. Baginya, sepak bola bukan hanya pekerjaan seperti yang dipikirkan pemain zaman sekarang. Sepak bola adalah hidupnya.”

Mourinho pernah melatih Ozil dan berhasil mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kepercayaan, bagi banyak orang adalah segalanya. Dipercaya artinya keberadaanmu sebagai manusia dianggap ada. Bukan hanya dicari ketika membutuhkan saja.

Satu hal yang mengusik hati saya adalah Ozil mungkin akan menjadi kapten ketika melawan Liverpool. Memang, ada kemungkinan barisan pemain utama akan dicadangkan. Namun, jika tim kedua Arsenal pun bermain buruk dan akhirnya kalah, Ozil akan menjadi sasaran tembak, menjadi kambing hitam untuk kesekian kali.

Fans adalah sekumpulan manusia dengan ingatan yang sangat pendek. Ketika Ozil sendiri tidak dibantu dengan performa teman-temannya, jangan harap ada “keajaiban” di atas lapangan. Ozil adalah team player. Seperti kata Mourinho, dia butuh dibantu. Kalimat Emery yang “meminta bantuan” justru seperti dorongan di punggung supaya Ozil segera jatuh ke lubang lebih dalam.

Atas perlakuan yang diterima Ozil, saya merasa prihatin. Dan malu. Sebagai fans Arsenal dan sebagai manusia yang merasa bahwa hanya menengok ketika butuh itu bukan perlakuan yang adil kepada sesama.

BACA JUGA Aksi Mesut Ozil Mencium Roti, Aksi Kemanusiaan yang Terkadang Dilupakan atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles