• 104
    Shares

MOJOK.COKetika “dilecehkan” oleh fans Atletico Madrid, gelandang serang Arsenal, Mesut Ozil, merespons dengan sebuah tindakan yang tak terkira.

Kegagalan Arsenal mempertahankan keunggulan ketika melawan Atletico Madrid di leg pertama babak semifinal Liga Europa tidak akan dilupakan dalam waktu yang lama. Namun, bagi fans Arsenal sendiri, ada satu aksi yang juga perlu untuk terus dikenang. Bukan soal gol atau mundurnya Arsene Wenger, melainan respons Mesul Ozil ketika mencium roti.

Babak kedua pertandingan Arsenal vs Atletico Madrid berjalan dengan tempo tinggi. Pun setelah tuan rumah mencetak gol, intensitas pertandingan tidak turun. Meriam London memburu gol kedua demi leg kedua yang lebih aman di kandang Atletico. Di tengah usaha mencari gol kedua, Arsenal mendapatkan sepakan pojok di depan pendukung Atletico.

Tendangan pojok tersebut akan dieksekusi oleh Ozil. Ketika pemain asal Jerman itu tengah mengambil ancang-ancang, fans Atletico berulah. Salah satu suporter los Colchoneros melempar sepotong roti ke arah Ozil. Tak terduga, mantan pemain Real Madrid tersebut tidak membuang roti yang dilemparkan ke arahnya.

Ozil memungut roti tersebut, menciumnya, menyentuhkannya ke keningnya, lalu meletakkan ke sisi lapangan dengan penuh hormat. Hampir semua penonton di stadion menyaksikan aksi tidak terduga itu. Sebuah pertanyaan pun ramai dibahas di media sosial. “Mengapa Ozil mencium roti dan menghormatinya sedemikian rupa?”

Salah satu fans Arsenal di Twitter memberikan penjelasan. Akun bernama Hadi Karim menjelaskan makna tindakan Ozil mencium roti tersebut. “Membuang-buang roti bertentangan dengan ajaran agamanya. Ozil mencium roti dan menyentuhkan ke keningnya sebagai ekspresi rasa terima kasih kepada Tuhan,” kicau Hadi lewat akun Twitter @hadimkarim.

Baca juga:  Beragama yang Dikit-Dikit Nanya “Dalilnya Mana?”

Sebuah kalimat di dalam Alquran bab 6 ayat 141 berbunyi, “…jangan suka boros (membuang-buang, menyia-nyiakan sesuatu). Allah tidak suka orang yang suka boros.”

Bukan hanya sebagai orang Muslim, Ozil juga masih mengingat akar kehidupannya. Meski berpaspor Jerman, darah Ozil adalah darah orang Turki. Adalah sebuah larangan di dalam tradisinya untuk membuang-buang makanan. Pada titik ini, boleh Anda sebut akan berdosa apabila membuang-buang sebuah berkah dari Tuhan bernama makanan. Hayo, siapa yang suka tidak menghabiskan makan siangnya?

Ajaran agama dan tradisi sudah cukup untuk menjelaskan gesture Ozil terhadap makanan. Namun, kita pun tidak boleh melupakan masa lalu Ozil ketika masih bermain bola di jalanan.

Ozil berasal dari keluarga imigran Turki generasi ketiga. Nenek moyangnya datang ke Jerman untuk mencari penghidupan yang lebih manusiawi. Ozil lahir dari ayah bernama Mustafa dan ibu bernama Gulizar. Semasa bersekolah, ia bukan anak yang menonjol dan cenderung pemalu. Gelandang serang Arsenal tersebut banyak menghabiskan waktunya untuk menendang bola ketimbang belajar.

Kakek dari Mesut Ozil datang ke Jerman sekitar 41 tahun yang lalu. Ia berporofesi sebagai gastarbeiter atau buruh imigran yang bekerja di bidang industri. Banyak anggota keluarga Ozil yang mendapatkan penghidupan yang layak dengan menjadi buruh.

Sayang, seiring waktu, terutama ketika Ozil beranjak remaja, keadaan berubah. Saat itu, tidak banyak yang bisa mencari pekerjaan di bidang industri lagi. Terutama karena banyak pabrik dan perusahaan yang memindahkan usahanya ke luar negeri demi mengurangi biaya pengeluaran.

Oleh sebab itu, kesempatan untuk bekerja menjadi terbatas, sedangkan makin banyak pemuda yang memasuki usia produktif. “Para pemuda dianggap sebagai beban, dan kebanyakan dari mereka sudah seperti tanpa harapan,” kenang Ozil.

Baca juga:  Simfoni Yahudi, Kristen, dan Islam di Andalusia

Kehidupan menjadi serba terbatas, namun memang tidak kekurangan. Salah satu pelajaran penting dari usaha bertahan hidup adalah punya makanan yang cukup, tidak kurang, tidak lebih lebih. Kehidupan yang serba pas itu membentuk mental Ozil dan keluarganya untuk tidak menyia-nyiakan makanan. Jadi memang cocok dengan ajaran agama dan tradisi yang ia pegang teguh.

Mental positif itu dibawa Mesut Ozil ke atas lapangan. Pemain terbaik Jerman tahun 2017 itu menjadi pemain yang paham dengan kebutuhan rekan-rekannya, terutama para penyerang. Sebagai gelandang serang, tugas utama Ozil adalah “berbagi bola”. Dan kebetulan, ia bisa bekerja dengan sangat baik.

Mesut Ozil adalah salah satu pemain terbaik di dunia untuk urusan asis. Ia (tidak ingin) membuang-buang penguasaan bola. Semaksimal mungkin, dengan berbagai cara yang kadang tidak terpikirkan, Ozil memberi umpan matang kepada rekan-rekannya di lini depan.

Ia peka dengan istilah “berbagai”. Ia adalah manusia altruistik, atau mempunyai kemurahan hati untuk menolong, berguna untuk sesama, dan meningkatkan kesejahteran tanpa pamrih atau mengharapkan imbalan. Moralitas altruistik tidak sekadar mengandung kemurahan hati atau belas kasihan. Nilai ini diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesama tanpa pamrih.

Aksi mencium roti dan menunjukkan rasa hormat terhadap berkah dengan menyentuhkannya ke kening adalah aksi kebaikan yang sering lupa kita ingat. Apakah kamu peka dengan situasi 40 tetangga terdekatmu? Adakah di antara mereka masih ada yang kelaparan?

Belajar dari Mesut Ozil, marilah berbagi. Tak hanya makanan saja, melainkan kasih sayang. Murah sekali itu.

  • 104
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles