• 8
    Shares

MOJOK.CO – Suporter rusuh seperti sudah menjadi borok di wajah sepak bola Indonesia yang sulit diobati. Hukuman apa saja yang cocok untuk mereka?

Sudah banyak aksi yang dilakukan oleh PSSI untuk meredam keberingasan suporter. Mulai dari klub menggelar pertandingan kandang tanpa suporter, hukuman denda berupa uang dalam jumlah besar, hingga pertandingan usiran.

Hukuman di atas menyeret klub ke dalam kotak hukuman. Maksudnya, apabila suporter berbuat rusuh, maka klub yang menanggung getahnya. Supaya para suporter sadar bahwa yang mereka lakukan akan melukai klub kesayangan, yang mereka bela secara asu tenan itu. Namun sayang, berbagai bentuk hukuman tersebut tidak ampuh menghentikan kekerasan suporter.

Oleh sebab itu, Mojok Institute melakukan pengamatan sederhana dan siap mengajukan 5 usulan bentuk hukuman untuk suporter rusuh kepada PSSI. Hukuman-hukuman ini disusun sesuai dengan dinamika masyarakat Indonesia. Tentu saja, dengan sentuhan lembut ala Mojok. Inilah 5 usulan tersebut:

1. Maraton ronda di desa asal.

Seiring perkembangan zaman, partisipasi masyarakat untuk lingkungannya semakin berkurang. Ketika anak-anak muda semakin getol nongkrong di kafe untuk menyeruput kopi mahal yang harganya bisa untuk membeli beras Rajalele 4 kilogram itu, pos ronda-pos ronda di sudut-sudut jalan semakin ditinggalkan.

Padahal, melting spot tersebut adalah wujud working place sebenarnya. Pos ronda menjadi tempat yang cocok untuk bercengkerama, main gitar, main gaple tanpa taruhan uang tentu saja, tempat bakul sayur berjualan, nonton bareng sepak bola lewat televisi sumbangan Pak RT, dan lain sebagainya.

Pos ronda adalah wujud nyata dari lirik lagu Humble dari Kendrick Lamar yang bunyinya, “Sit down, ndes! Be humble!” Humble, artinya ‘rendah hati’, sangat cocok untuk menempa jiwa sosial anak-anak muda beringas, para suporter rusuh yang suka bernyanyi, “Dibunuh saja!” di dalam stadion.

Nah, ketika supoter rusuh itu berulah, hukuman pertama yang cocok adalah kewajikan ikut ronda selama 1 tahun tanpa terputus, di desa masing-masing. Kegiatan mengambil jimpitan berupa uang koin atau beras akan menempa kedisiplinan mereka. Keharusan menjaga lingkungan akan membuat jiwa kedamaian mereka menjadi tumbuh luar biasa.

Ketika kembali ke stadion nanti, mereka akan menjadi suporter berbudi, peka dengan masalah sosial, rendah hati, cinta keamanan, dan yang paling penting: mereka sudah punya bekal untuk mendaftar sebagai hansip di acara-acara dangdutan. Menjaga pos ronda adalah usaha merintis karier sekaligus meredam jiwa liar untuk berbuat rusuh di dalam stadion.

2. Berkontribusi kepada gizi dan kesehatan masyarakat.

Jenis hukuman ini cocok untuk diberikan kepada suporter rusuh, yang merusuh secara gerombolan. Ya tentu saja, ketika rusuh, biasanya dilakukan bersama-sama, keroyokan. Kalau sendirian melawan ratusan suporter lawan, ya mana berani.

Baca juga:  Liga 1: Misi Bali United, Persipura, dan Persebaya Berbenturan dengan Jadwal Timnas Indonesia

Hukuman yang dimaksud adalah berkontribusi kepada gizi dan kesehatan masyarakat. Wujud nyatanya adalah menyediakan, merawat, memanen, dan memasarkan bibit lele dan tanaman obat di 1000 kelurahan di Indonesia.

Tiap 100 gram ikan lele mengandung energi sebesar 229 kilokalori. Kandungan proteindari lele dengan porsi itu sekitar 18 gram, karbohidrat sekitar 8 gram, serat 0,7 gram dan lemak sebesar 13 gram. Ikan lele juga mengandung berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin C, vitamin A, vitamin B kompleks, serta kalsium, magnesium, fosfor, kalium, natrium, dan zinc. Ikan lele juga kaya kandungan vitamin D (dikutip tanpa perbahan dari alodokter.com).

Sementar itu, tanaman obat yang bisa dipilih antara lain, jahe, asam jawa, beluntas, binahong, brotowali, cengkeh, cincau hijau, ciplukan, dadap serep, daun sendok, temu lawak, lidah buaya, akar alang-alang, adas, seledri, pacar cina, dan lain sebagainya. Berbagai jenis tanaman obat di atas adalah asli Indonesia. Jadi, selain demi kesehatan masyarakat, menyediakan tanaman obat adalah bentuk bela negara.

Kenapa harus 1000 kelurahan? Ya namanya saja untuk membuat jera. Ketika sudah berhasil menyediakan bibit lele dan tanaman obat untuk 1000 kelurahan, para suporter rusuh akan berubah menjadi anak-anak muda yang peduli dengan kesehatan sesama. Alih-alih baku pukul di stadion, mereka akan baku jual tanaman obat, melapak di stadion. Pulang nonton bola, badan bisa sehat.

3. Berkontribusi kepada minat baca dan kesehatan masyarakat.

Kamu tahu, minat baca Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara di dunia? Sungguh memprihatinkan. Salah satu sebabnya adalah kurangnya bahan baca, atau boleh kamu bilang kurangnya perpustakaan yang ideal untuk masyarakat.

Oleh sebab itu, tenaga berlebih dari gerombolan suporter rusuh bisa diarahkan untuk pembangunan perpustakaan dan pengadaan buku-buku bermutu di 100 desa di Indonesia. Para suporter rusuh ini bisa menggandeng Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia, untuk menyukseskan program mulia ini.

Buku adalah jendela dunia. Jadi, ketersediaan bahan baca yang bermutu akan berkontribusi besar bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Diharapkan, tidak ada lagi siswa yang menggerutu karena UNBK yang susahnya minta ampun itu.

Selain perpustakaan, para suporter rusuh juga harus membangun posyandu, bersebelahan dengan perpustakaan ideal itu. Sudah waktunya posyandu dibangun dengan napas modern, menyediakan pengobatan gratis untuk masyarakat kurang mampu. Akan lebih istimewa apabila posyandu bisa semodern puskesmas yang peremajaannya sudah dikerjakan secara masif.

Baca juga:  Prediksi Persib vs Persija: Mengesampingkan Rivalitas Semu, Fokus Kepada Jalur Juara

Dengan banyak membaca dan punya tubuh sehat, para suporter rusuh akan lebih bisa berpikir taktis, jernih, dan menghargai kesehatan suporter lain. Jika dulu ada program Dokter Cilik, sudah waktunya kita punya Dokter Suporter. Kalau ada suporter mendadak diare, suporter lain bisa tanggap cepat memberi solusi. Pulang dari stadion, dapat hiburan sepak bola dan pengetahuan akan kesehatan. Ciamik!

4. Berkontribusi sebagai relawan Basarnas.

Indonesia termasuk ke dalam jajaran Cincin Api Pasifik. Banyaknya gunung api yang aktif membuat Nusantara menjadi negara yang rentan dengan bencana letusan gunung api dan lahar dingin. Dibutuhkan tenaga yang besar dan dalam jumlah banyak untuk aksi tanggap cepat merespons bencana yang terjadi.

Selama ini, Basarnas sudah bekerja dengan baik. Namun tentu saja, tenaga tambahan akan disambut dengan tangan terbuka. Oleh sebab itu, tenaga yang meluap dari suporter rusuh sebaiknya diarahkan untuk membantu Basarnas selama minimal 5 tahun.

Mereka tidak baru bekerja ketika bencana terjadi. Namun, setiap hari, misalnya, harus datang ke kantor-kantor Basarnas untuk diberi pelatihan dan informasi dasar soal tanggap bencana. Diharapkan, kerja disiplin selama 5 tahun akan membuat para suporter rusuh ini menjadi peka dengan keselamatan sesama, bukannya malah membuat suporter lain tidak selamat.

Mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang mendahulukan keselamat sesama dibandingkan kenyamanan diri sendiri. Jika sudah peka seperti itu, hasrat menonjok lawan dan melempar baru seharusnya bisa dihilangkan. Diganti dengan memeluk dan melempar senyum kepada sesama suporter di dalam stadion.

5. Pindah Agama!

Saya tahu, hukuman ini sangat ekstrem. Namun, jika 4 jenis hukuman di atas tidak manjur juga, sudah waktunya para suporter rusuh ini dihadapkan langsung dengan Tuhan. Jadi, ketika kerusuhan terjadi, bukan nama suporter saja yang tercoreng, namun juga nama baik klub yang terluka.

Sayangnya, otak para suporter rusuh itu seperti tidak sampai untuk memahami fakta sederhana tersebut. Oleh sebab itu, ketika rusuh, hadapkan mereka di depan kitab suci masing-masing dan tantang mereka untuk pindah agama. Jadi, ketika merusuh, mereka tak hanya melukai nama baik klub, namun juga membuat sedih Tuhan mereka masing-masing.

Gambarannya seperti itu, menyesuaikan dengan anggapan di Indonesia bahwa pindah agama itu aib dan dosa besar. Kalau punya logika dan akal sehat, seharusnya hukuman ini sangat manjur. Toh, katanya, Indonesia adalah negara ketimuran dan agamis.