Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menyusuri Jakarta dari dalam Bus TransJakarta

Yusuf Abdul Qohhar oleh Yusuf Abdul Qohhar
27 Juli 2015
A A
jakarta
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Apabila ada yang berkata bahwa cara paling sedap menikmati keindahan Jakarta adalah dengan menumpang bemo atau bajaj sambil berkeliling Monumen Nasional, mungkin sebagian orang sependapat. Tapi saya punya pandangan lain: tak ada yang menandingi kemolekan ibu kota dari dalam bus TransJakarta.

TransJakarta (lebih sering disebut busway) adalah ikon transportasi massal Jakarta pada abad 21. Sistemnya berkiblat ke Bus Rapid Transit (BRT) TransMilenio di Bogota, Kolombia. Perbedaannya, busway di Jakarta memiliki jalur yang lebih panjang dan rumit.

Adalah Gubernur DKI Jakarta ke-14, Sutiyoso, sosok bapak pembangunan busway. Ide pembangunannya muncul pada tahun 2001. Kemudian Bang Yos, sapaan aktab Sutiyoso, menindaklanjuti gagasan ini agar dapat menjadi solusi kemacetan di Jakarta yang kian tidak manusiawi.

Sebenarnya, pada saat itu beliau dihadapkan di antara dua pilihan: Membangun subway (kereta bawah tanah) yang menelan biaya sangat besar dan diperkirakan rampung setelah masa jabatannya habis, atau membangun busway dengan biaya lebih murah dan bisa diresmikan saat dirinya masih menjabat sebagai orang nomor satu di DKI.

Bang Yos, yang saat itu dikenal sebagai sosok nekat, memilih opsi kedua. Baginya, busway dapat menjadi solusi kemacetan ibukota dengan biaya yang murah dan tempo pembangunan yang relatif cepat. Saking nekatnya, beliau lupa bahwa kota-kota maju di belahan dunia lain selalu bertumpu pada transportasi massal berbasis rel dan menjadikan moda transportasi roda empat atau lainnya sebagai penopang—bukan sebaliknya.

Realisasi pembangunan busway pada masa kepemimpinan Bang Yos sangat cekatan. Tujuh koridor adalah bukti pengabdiannya kepada pengguna jasa transportasi publik di Jakarta.

Sebagai pemanis, Bang Yos juga mengiming-imingi warga Jakarta dengan pembangunan monorel, subway, dan waterway di penghujung masa jabatannya. Sayangnya, tiga moda transportasi ini berakhir menjadi proyek setengah jalan, bahkan tak dilanjutkan oleh wakilnya — yang berkumis itu — ketika mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan Jakarta.

Kembali ke cara menikmati kota Jakarta dari kedalaman bus Transjakarta.

Jika Anda adalah tipe orang yang santai, cobalah menumpang busway koridor 1 (Blok M – Kota) atau koridor-koridor baru yang belum beroperasi lebih dari lima tahun (Koridor 11 dan 12). Berjalanlah pelan menyusuri trotoar lebar yang dilalui koridor ini. Gunakan tiket elektronik yang terisi saldo minimum saat tap in. Jika Anda belum memilikinya, segera beli kartu perdana e-ticket Transjakarta seharga Rp 40.000.

Koridor I memiliki keunggulan bus gandeng yang megah serta headway yang teratur. Bus-bus yang melayani koridor ini juga dilengkapi dengan pendingin ruangan yang semriwing. Selain itu, umumnya penumpang adalah anak-anak muda yang ganteng, cantik, kinyis-kinyis, dan imut-imut. Tak jarang para karyawan dan karyawati berpenampilan parlente juga menggunakan layanan busway ini.

Anda tak perlu khawatir kehabisan tempat, karna yang melayani rute ini mayoritas adalah bus gandeng. Tapi Anda tak boleh terlena jika menaikinya pada jam berangkat dan pulang kerja (Pukul 06.00 – 10.00 WIB dan 16.00 – 20.00 WIB).

Jika Anda ingin tantangan yang lebih menarik, cicipi pengalaman menumpang busway koridor 7 (Kampung Melayu – Kampung Rambutan), koridor 8 (Harmoni – Lebak Bulus), dan koridor 9 (Pluit – Pinang Ranti). Tiga rute ini terbilang cukup trengginas karena dilengkapi beberapa bus baru dan bus abu-abu atau merah seri pertama.

Kepadatan penumpang masih di ambang batas kewajaran, sementara kondisi bus-bus yang melayani rute tersebut terbilang lumayan dan tidak terlalu menyiksa penumpang. Medan terjal, yang ditempuh sepanjang jalan kenangan, membuat rute ini melatih Anda menjadi pribadi yang betah duduk atau berdiri dalam waktu yang sangat lama.

Selain dua pilihan di atas, ada menu spesial yang tak boleh Anda lewatkan: Koridor Veteran, antara lain koridor 3 (Kalideres – Pasar Baru), koridor 4 (Pulo Gadung – Dukuh Atas), dan koridor 6 (Halimun – Ragunan).

Iklan

Mengapa saya sebut Koridor Veteran?

Alasannya sederhana. Koridor-koridor yang sangat saya rekomendasikan ini adalah koridor-koridor anak bawang, bahkan terlihat seperti peninggalan zaman kolonial Belanda. Wujud sebagian bus yang melayani rute ini memang tak begitu mulus dari luar, tapi terlihat sangat antik jika dipandang dari dalam. Perawatan kelas wahid menjadikan halte dan bus di kordior-koridor ini memiliki pelayanan terbaik seantero Jakarta.

Nikmati sensasi mengendarai kereta kencana metalik dengan iringan bunyi khas nan syahdu di setiap lajunya. Berbagai kejutan akan menghampiri Anda, antara lain pintu otomoatis tiba-tiba terbuka atau tidak bisa tertutup, kecoa atau binatang lain hinggap di kerah pakaian Anda, bus mogok di tengah jalan, hingga kumpulan asap ngebul yang timbul dari dalam bus.

Rute ini dapat melatih kesabaran Anda agar terbiasa dengan friendzone, karena seringkali bus yang datang bukanlah bus yang bisa Anda tumpangi. Terlebih headway-nya yang tak menentu, memaksa otak Anda berpikir untuk mengisi kegiatan saat waktu luang. Sampai batas tertentu, Anda dapat menyeduh secangkir kopi panas sembari menonton satu episode serial televisi tanpa perlu takut bus melewati halte tempat Anda bernaung.

Tidak mengherankan jika Transjakarta adalah moda transportasi pilihan sebagian besar warga Jakarta. Rasakan sendiri sensasi tiga menu di atas, Anda bahkan bisa lupa tengah berada di atas busway atau rollercoaster. Tapi yang jelas, sensasi ngeri-ngeri sedap itu tidak akan pernah Anda peroleh ketika menumpang bajaj atau bemo.

Terakhir diperbarui pada 25 Juli 2019 oleh

Tags: DKISutiyosoTransJakarta
Yusuf Abdul Qohhar

Yusuf Abdul Qohhar

Artikel Terkait

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO
Ragam

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO
Esai

Kebijakan ASN Jakarta Naik Transportasi Umum Tiap Rabu Mungkin Niat Baik, tapi Malah Melahirkan Celah Tipu Muslihat yang Besar

1 Mei 2025
Jakarta Surganya Transportasi Publik, Motor Pribadi Jual Aja MOJOK.CO
Esai

Jakarta Adalah Surganya Transportasi Publik, Makanya Mending Jual Aja Kendaraan Pribadimu Itu

26 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.