Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Smokol

Sambal Tumpang Koyor Kota Merah

Widhi Hayu Setiarso oleh Widhi Hayu Setiarso
26 Oktober 2015
A A
Sambal Tumpang Koyor Kota Merah

Sambal Tumpang Koyor Kota Merah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebelum geger majalah Lentera bikinan anak-anak nakal Fiskom UKSW yang berjudul ‘Salatiga Kota Merah’, awal Agustus 2015 lalu sebarisan bendera palu arit tertancap di tepi sebuah jembatan kota Salatiga. Meskipun itu hanya di Salatiga yang merupakan salah satu kota di provinsi Twitter, bukan di Jawa Tengah.

Gambar itu mecungul beberapa hari menjelang Kongres Temu Nasional Korban 65 di Salatiga yang diadakan oleh Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 65. Acara tersebut kemudian mendapat penolakan bahkan ancaman, hingga kemudian, ya begitulah, dibatalkan. 

Perlu diketahui, jauh sebelum dua momentum tersebut, aroma tengik kuminis sejatinya telah tercium dari Salatiga. Pada pertengahan 90-an, misalnya, terjadi pertarungan perebutan kursi rektor UKSW, yang dapat dibaca pula sebagai pertarungan antara kelompok pro demokrasi–antara lain terdiri dari nama-nama seperti Arief Budiman, George Junus Aditjondro, dan Ariel Heryanto–melawan pemerintahan otoriter Orde Baru. Menariknya adalah, konon kabarnya kelompok pro demokrasi diisukan disusupi oleh tiga eks tapol kuminis. Ngerih!

Mundur lebih ke belakang lagi, tepatnya pada pemilu 1955, di kota ini PKI naik di podium pertama. Jauh mengungguli PNI yang finish di posisi kedua, dan Partai NU di urutan ketiga. Bahkan pada awal 60-an PKI sempat pula mendudukkan salah seorang kadernya sebagai walikota: Bakri Wahab.

Beberapa tahun pascapemilu tersebut, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo kemudian mampir di Salatiga untuk melakukan salah satu road show paling berdarah dalam sejarah republik ini: operasi penumpasan simpatisan kuminis. Momen tersebut seolah menjadi penegasan bahwa jika Jawa adalah kunci utama, Salatiga merupakan kunci duplikatnya.

Tapi mari kita lupakan sejenak kelindan momen politik tragis yang pernah muncul di tanah Salatiga. Ada satu elemen penting yang selalu terlupakan ketika membicarakan ‘Kota Merah’ tersebut: Sambal Tumpang Koyor.

Rasanya durhaka kalau membicarakan Salatiga tanpa menyertakan kuliner paling kondang di kota ini. Ibaratnya membicarakan malam Jumat tanpa mandi besar, atau bicara soal jomblo-gagal-move-on tanpa tangisan di hari pernikahan mantan kesayangan. Dan berangkat dari anggapan “merah”-nya kota Salatiga, saya pun jadi berangan-angan bahwa, jangan-jangan, penemu sambal tumpang koyor adalah keluarga proletar nan kuminis.

Mungkin saja, ‘kan? 

Papah-papah dan mamah-mamah kuminis bukanlah orang yang lihai mengumpulkan rupiah. Karena itu, keluarga kuminis harus menggelar rapat maraton selama tujuh hari demi menghadirkan menu yang sarat gizi di meja makan. Pilihan pun kemudian jatuh kepada bahan baku yang tergolong “sampah” karena murah, seperti koyor sapi yang alotnya serasa sandal japit Swallow sebagai sumber protein hewani sekaligus isian utama, ditemani remukan tahu sebagai sumber protein nabati.

Untuk mengorganisir bumbu dapur yang buanyak nanti, papah-papah atau mamah-mamah kuminis yang biasa menggalang aksi massa tentu tak akan kesulitan.

Pertama-tama bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai keriting, dan kemiri yang sudah dihaluskan ditumis hingga wangi. Tumisan tersebut lalu diceburkan ke dalam air rebusan tempe bosok dan kencur yang sebelumnya juga sudah dihaluskan. Disusul daun jeruk purut, daun salam, lengkuas, dan tentu saja isiannya, yakni koyor dan remukan tahu. Jangan lupa tambahkan santan, garam, gula, lalu tunggu dengan kesabaran level makrifat hingga koyor empuk dan bumbu meresap.

Untuk memperkaya rasa, tambahkan serundeng yang dibikin dari ampas kelapa sisa pembuatan santan yang disangrai bersama bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan kemiri yang sudah dihaluskan, lalu leburkan gula jawa serta garam. Sebagai sumber vitamin dan mineral, rebuslah pepaya muda serut, daun pepaya, dan sayuran lainnya.

Ya Allah, aroma persekutuan tempe bosok dan bumbu-bumbu lain di sambel yang sudah matang itu barangkali hanya bisa ditandingi oleh aroma tubuh Dian Sastro sehabis nge-gym, tapi belum sempat mandi.

Sebagai pemeriah hiruk pikuk kecipak mulut, gorenglah kerupuk karak yang, lagi-lagi, bahan bakunya juga dari sampah, yakni sisa nasi.

Iklan

Krauk!

Melihat prosesnya yang lama dan berbelit serta berbahan baku “sampah” pula, tentu saja keluarga borjuis ogah melakukannya. Hanya keluarga proletar nan kuminislah yang sudi. Dan yang jelas, lihatlah kuahnya! Lihatlah kuahnya! Kuahnya kemerah-merahan, Jenderal!

Tentu saja hipotesis di atas masih perlu penelitian yang terstruktur, sistematis, dan masif dari berbagai bidang keilmuan. Namun, andaikata terbukti benar sambel tumpang koyor ditemukan oleh keluarga kuminis, apalagi nanti dikatakan bahwa masakan tersebut dibumbui pula dengan satu sendok teh paham kuminis, maka sambel tumpang koyor harus segera diberedel dan dilarang beredar sebagaimana majalah Lentera baru-baru ini. Dan keluarga penemu sambal tersebut jelas harus masuk dalam daftar tahanan politik.

Tapi itu jika kita hidup di “1984” yang dipimpin oleh Big Brother Jenderal Besar Suharto lho, ya. Kalau sekarang sih enggak bakalan seseram itu, kok. Lagian mana mungkin, wong presidennya saja dari sipil. Paling cuma ditodong ikut bela negara.

*sumber gambar

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Bela NegaraKomunisKulinerPKI
Widhi Hayu Setiarso

Widhi Hayu Setiarso

Artikel Terkait

5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan

25 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Tongkrongan gen Z di coffee shop

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.