Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Redaksi oleh Redaksi
23 Februari 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjaga Muria: Ketika Konservasi Bertemu Kebutuhan Hidup

Bagi masyarakat lereng Muria, konservasi bukan sekedar urusan pemerintah atau program formal semata. Ia adalah soal kehidupan sehari-hari. Air untuk minum, tanah untuk ditanami dan hutan yang menyelamatkan generasi.

Prinsip inilah yang dipegang oleh Peka Muria, sebuah gerakan dengan tujuan sederhana tapi tidak mudah, yaitu menjaga kelestarian Muria tanpa memutus mata pencaharian warga yang tinggal di sekitarnya.

Tidak Bisa Mengabaikan Ekonomi

Bagi Peka Muria melarang warga menebang atau memperluas kebun tanpa solusi ekonomi justru akan memicu konflik. Karena itu pendekatan yang dilakukan dimulai dari perhitungan kebutuhan para petani.

Dari situ semua petani diajak untuk berpikir. Jika kebun terus diperluas, mata air bisa mati. Kopi dan uang mungkin masih ada, tetapi semuanya kehilangan makna.

Maka solusinya bukan menghilangkan perkebunan, melainkan menata ulang cara bertani para petani.

Kopi Bukan Tanaman Konservasi

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa kopi adalah tanaman konservasi. Tapi kenyataannya kopi tak memiliki akar tunggang yang cukup untuk menyimpan air.

Jika lereng Muria hanya ditanami kopi, krisis air hanya tinggal menunggu waktu saja.

Karena itu, Kopi perlu ditanam bersama tanaman pendamping. Dengan sistem tumpang sari yang dikelola dengan benar, hasil ekonomi akan meningkat dan fungsi ekologis tetap berjalan.

Menanam Hari Ini, Menuai Lima Tahun Lagi

Melalui program penanaman bersama Djarum Foundation, lebih dari 60.000 bibit tanaman buah dan tanaman konservasi ditanam di lima desa lereng Muria. Hasilnya memang tidak instan, mungkin baru bisa dinikmati sekitar lima tahun ke depan.

Namun justru di situlah maknanya. Ketika ekonomi petani menguat, dorongan untuk merambah hutan akan berkurang. Hutan diberi kesempatan pulih, mata air diharapkan kembali muncul, dan lereng tetap menjadi penyangga kehidupan di Pulau Jawa.

Merawat Muria, Bukan Melarang

Bagi Peka Muria, konservasi bukan tentang larangan keras, melainkan ajakan merawat. Ia bukan milik segelintir orang, melainkan warisan bersama—untuk anak, cucu, dan generasi yang belum lahir.

Menjaga Muria berarti menjaga masa depan. Dan itu hanya mungkin jika alam dan manusia berjalan beriringan.

Tags: kalcersoklereng muriapeka muriaperairan lereng muriaperkembangan ekonomi warga

Terpopuler Sepekan

Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.