Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

Subkhi Ridho oleh Subkhi Ridho
15 Mei 2026
A A
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti "Ora Gantang Ora Mangan" Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Ilustrasi Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti "Ora Gantang Ora Mangan" Bukan Hobi Iseng. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Lagu Kicau Mania menjadi gambaran bahwa hobi burung berkicau bukan hobi iseng. Ekosistem yang dibentuk penghobi burung ini mencapai Rp2 triliun.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Di lapangan EO Mitra Puri, Desa Putatgede, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, orang-orang masih ramai. Ada yang nyeruput kopi, ada yang menghisap rokok, ada yang duduk di gubuk bambu sambil mempersiapkan burung jagoannya. 

Mereka datang bukan untuk rapat RT, maupun untuk tahlilan. Mereka datang untuk latihan bersama atau latber lomba burung berkicau yang rutin digelar empat kali seminggu: Minggu, Senin, Sabtu malam, Minggu malam. Ini salah satu cerita di balik kicau mania.

Di sanalah lagu “Kicau Mania” milik Ndarboy Genk feat. Banditoz Yaow 86 yang viral saat ini (18 juta hingga 14 Mei 2026) menemukan konteksnya. Ada yang menarik dari lagu “Kicau Mania” milik Ndarboy Genk feat. Banditoz Yaow 86. Bukan sekadar soal burung berkicau atau lomba gantangan di lapangan kampung. Lebih dari itu, lagu ini adalah semacam dokumen sosial, rekaman suara kelas yang selama ini dianggap tidak produktif, tidak formal, dan tidak layak dibicarakan serius. 

Kicau mania sekadar hobi orang iseng?

Umumnya publik cenderung memandang kicau mania dengan sebelah mata. Dianggap buang-buang waktu, menghabiskan uang, para pemalas, bahkan dianggap hobi kelas bawah yang nggak ada prestisenya. Padahal kalau mau dilihat lebih serius, ekosistem kicau mania di Indonesia itu besar dan serius secara ekonomi.

Pada 3 Mei 2026, dalam Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM di Jakarta, Menteri Perdagangan Budi Santoso secara resmi mengungkapkan bahwa ekosistem burung kicau di Indonesia memiliki nilai ekonomi yang besar, mencapai Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun. 

Bukan angka biasa saja dari hobi yang tak dianggap. Potensi ini dinilai akan terus meningkat seiring semakin maraknya penyelenggaraan lomba burung berkicau di berbagai daerah. 

Ia juga menyebutkan bahwa ekspor burung hias Indonesia tahun lalu mencapai sekitar Rp12,5 miliar. Pun bukan angka kecil untuk sebuah komunitas yang sering dianggap pinggiran.

Angka itu bukan sekadar soal harga burungnya. Geliat lomba burung berkicau mendorong pertumbuhan sektor usaha yang terhubung langsung dalam rantai ekosistemnya.

Mulai dari peternak burung, pelaku breeding, hingga industri pendukung seperti pakan, perlengkapan, peternak jangkrik, sampai pedagang. Di Bantul saja misalnya, industri sangkar burung berkembang di Wukirsari dan Sedayu. Semua hidup dari ekosistem ini. 

Di Kendal, ada kisah Sutrisno, kicau mania yang membeli love bird seharga Rp200 ribu. Setelah beberapa kali menang latber, burung itu ditawar Rp 1,5 juta. Harganya naik tujuh kali lipat. 

Modal utamanya: ketekunan merawat dan pengetahuan soal burung yang diasah bertahun-tahun. Dalam bahasa akademik, ini yang disebut oleh Pierre Bourdieu sebagai modal budaya alternatif.  Kapital yang nilainya nyata, meski tidak pernah tercatat di neraca formal negara. 

Sebagaimana frasa lagu: “modal nekat karo dungo” (modal nekat dan doa) bukan sekadar ungkapan religius, melainkan etika ekonomi populer kelas bawah yang menempatkan keberanian dan spiritualitas sebagai kapital pengganti uang dan ijazah. 

Dari Karawang sampai Bangli: festival yang terus membesar, dan ideologinya mengejutkan

Skala komunitas kicau mania tidak bisa lagi dipandang remeh. Data yang berbicara. September 2025, ratusan kicau mania memeriahkan Festival Lomba Burung Berkicau Tingkat Nasional yang memperebutkan Piala Bupati Karawang, di kompleks Gedung Olahraga Panatayudha, Jawa Barat. 

Iklan

Bupati Karawang menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi, melainkan juga wadah silaturahmi antar-penggemar burung kicau dari berbagai daerah, sekaligus sarana memperkenalkan daerah ke masyarakat luas. Sepekan setelahnya, di Banjarmasin, ribuan kicau mania menyusul meramaikan lomba serupa. Pesertanya ratusan hingga seribuan.

Tapi yang paling menarik justru datang dari Bali. Pada Juni 2023, Kabupaten Bangli menggelar lomba dan festival burung berkicau sebagai bagian dari peringatan Bulan Bung Karno. Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta saat membuka acara menyatakan bahwa lomba burung berkicau ini bukan hanya untuk mencari juara, tetapi sebagai ajang silaturahmi dan pendukung pergerakan ekonomi. Ini sesuai ajaran Bung Karno yaitu gotong royong kerakyatan dan ekonomi kerakyatan lahir di ajang ini.

Pernyataan itu layak dibaca ulang dengan lebih serius. Seorang kepala daerah secara eksplisit menghubungkan lomba burung berkicau dengan ajaran proklamator kemerdekaan Indonesia. Bukan kebetulan, pun  basa-basi belaka. 

Ini adalah pengakuan resmi bahwa komunitas kicau mania bekerja persis seperti yang selama ini digaungkan sebagai cita-cita ekonomi bangsa: gotong royong, berbasis rakyat, tumbuh dari bawah. 

Festival di Bangli itu melombakan 12 jenis burung dengan peserta dari seluruh Bali, sekaligus menjadi tempat berkumpul, saling berbagi, dan mempererat persaudaraan di antara pecinta kicau mania Nusantara.

Pada 2022 lalu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih juga mengakui bahwa ekosistem kicau mania berkembang luar biasa dan berkontribusi pada penangkaran konservasi burung agar tidak punah. 

Sementara UGM, kampus negeri tertua di Indonesia, sudah enam tahun berturut-turut menggelar lomba burung berkicau dalam Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan, dengan 41 kelas, 11 jenis burung, dan ratusan peserta dari berbagai provinsi di Jawa.

Dari Karawang, Bantul, Banjarmasin, halaman FKH UGM, sampai alun-alun Bangli, jadi siapa lagi yang masih berani bilang ini hobi pinggiran? 

Namun, sayangnya negara sering absen dari percakapan ini. Tidak ada perlindungan untuk pedagang jangkrik ketika pasokan gagal. Tidak ada jaring pengaman untuk petarung gantangan yang kalah modal dan pulang dengan tangan kosong. 

Yang ada hanya lomba terus jalan, uang berputar di komunitas sendiri, dan solidaritas yang dibangun bukan karena program pemerintah tapi karena memang nggak ada pilihan lain.

“Ora gantang ora mangan” bukan keluhan, tapi pernyataan

Kembali ke lagu Ndarboy Genk. Liriknya langsung: “ora gantang ora mangan, raduwe gaji bulanan, lah wong dudu cah kantoran.” Tidak lomba tidak makan, tidak punya gaji bulanan, karena memang bukan orang kantoran. Lirik ini diucapkan dengan kepala tegak, bahkan dengan ritme rap yang penuh percaya diri.

Kalimat itu bisa dibaca dua cara. Pertama, sebagai ratapan nasib. Kedua, sebagai deklarasi identitas yang bangga. Ndarboy Genk nampaknya memilih yang kedua dan itu bukan kebetulan.

Stuart Hall, tokoh kajian budaya dari Jamaika yang menetap di Inggris, namanya sering disebut di kelas tapi jarang dibaca tuntas, mengingatkan bahwa teks budaya selalu mengkodekan posisi sosial. Lagu ini mengkodekan sesuatu yang spesifik: ada kelas yang menolak didefinisikan oleh standar produktivitas formal. Yang tidak mau menerima bahwa satu-satunya cara hidup yang sah adalah punya slip gaji dan BPJS Ketenagakerjaan.

Di tengah Indonesia yang kelas menengahnya menyusut lebih dari sepuluh juta jiwa dalam enam tahun — dari 57,33 juta jiwa (2019) menjadi 46,7 juta jiwa (2025) — sikap seperti itu bukan sekadar gaya. Itu adalah respons rasional atas sistem yang memang tidak cukup menopang. Saat bersamaan, secara statistik angka pengangguran (BPS 2025, Agustus, 7,4 juta jiwa penganggur) dan informalitas tinggi. 

Mayoritas tenaga kerja Indonesia bergerak di sektor informal. Narasi lirik yang menolak kerangka “gaji bulanan” dan “kantoran” bukan sekadar sikap personal, melainkan cerminan realitas struktural jutaan warga yang tidak terserap ekonomi formal.

Gantangan adalah ruang egaliter dan meritokrasi kelas bawah

Di arena gantangan, yang menentukan bukan siapa kamu di luar lapangan. Bukan seberapa kaya, bukan lulusan kampus mana, bukan karena punya koneksi siapa. Yang menentukan adalah suara burungmu. Seberapa gacor, seberapa merdu, seberapa tahan dia berkicau di bawah tekanan.

Dalam lirik disebutkan: “ra wedi ro sing bos-bos-an” (tidak takut sama yang sok bos) secara implisit mengandung muatan anti-hierarkis yang relevan secara politis. Di sini, arena gantangan menjadi ruang egaliter, ditunjukkan yang menang bukan yang paling kaya, melainkan yang burungnya paling “gacor.” Ini bukti  meritokrasi versi kelas bawah.  Dan seringkali lebih fair dari banyak arena lain di negeri ini. 

Bagian akhir lirik Banditoz Yaow 86 menutup lagu dengan kalimat yang tampak sederhana tapi bermakna besar: “aku ra golek musuh, yo ora seneng rusuh… seduluran mergo hobi, mugo berkah ngrejekeni” — aku tidak mencari musuh, persaudaraan karena hobi, semoga berkah rezekinya. 

Ini merepresentasikan solidaritas berbasis afiliasi budaya bukan kelas ekonomi formal, yang dibangun bukan dari partai politik, bukan dari alumni kampus tertentu, bukan pula ormas pemuda maupun ormas keagamaan yang terlihat makin layu mekar bunganya, tapi dari sangkar burung yang digantung berdampingan di bawah langit yang sama. 

Komunitas kicau mania membangun ikatan sosial yang melampaui perbedaan desa, pekerjaan, bahkan strata sosial. Sebuah bentuk komunitas imajiner (dalam modifikasi konsep Benedict Anderson) yang disatukan bukan oleh bangsa, melainkan oleh hobi. 

Inilah komunitas afektif, demikian istilah akademik menyebut. Dalam bahasa Bung Karno: gotong royong. Sehari-hari: mereka saling jaga karena memang nggak ada yang lain yang mau jaga mereka.

Kicau Mania bukan sekadar hobi, tapi cara bertahan hidup

Kicau Mania bukan lagu protes dalam pengertian konvensional. Tidak ada tuntutan politik eksplisit. Tapi justru di situlah kekuatannya, teks budaya yang kaya. Dengan kerangka Stuart Hall, ia merepresentasikan kelas pekerja informal sebagai subjek yang berdaulat, bukan objek belas kasihan.

Ia merepresentasikan jutaan orang Indonesia yang setiap hari bertahan hidup di luar radar kebijakan negara. Tanpa jaminan sosial yang memadai, tanpa akses ke ekonomi formal yang layak, tapi tetap membangun ekosistem, solidaritas, dan kebanggaan sendiri. Ini dalam lensa Bourdieu, ia mengafirmasi modal budaya alternatif di luar logika kapitalisme formal.

Ironis juga, sebenarnya. Sebagian pejabat dengan bangga mengaitkan lomba burung berkicau dengan ajaran tentang ekonomi kerakyatan dan gotong royong. Tapi di sisi lain, Mendag Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendorong penyelenggaraan lomba burung berkicau yang lebih baik dan ramai di masa mendatang. 

Sayangnya, komitmen seremonial di panggung festival beda urusannya dengan kebijakan yang benar-benar melindungi peternak jangkrik yang gagal panen, atau pedagang burung yang modalnya habis tanpa jaring pengaman.

Kalau memang lomba burung berkicau adalah wujud nyata ekonomi kerakyatan ala para pendiri bangsa, maka pertanyaannya sederhana: mengapa ekosistem senilai hampir Rp2 triliun itu masih lebih sering jadi bahan pidato peringatan daripada subjek kebijakan yang serius dan terukur? 

Selama pertanyaan itu belum dijawab, Kicau Mania akan terus berkicau. Dengan perspektif subkultur, maka komunitas ini membangun identitas kolektif yang kohesif dan bermartabat. Dalam konteks Indonesia hari ini, lagu ini bukan sekadar hiburan. Lagu ini menjadi dokumen sosiologis tentang cara jutaan orang Indonesia bertahan, bersolidaritas, dan menemukan makna di luar narasi pembangunan yang dominan. 

Bukan karena ingin didengar negara. Tapi karena memang sudah terbiasa tidak didengar dan tetap hidup. Ndarboy Genk feat. Banditoz Yaow 86 lewat liriknya membuat mental potret kelas yang tak diperhatikan oleh negara ini semakin menyala, tetap terang meski rupiah kena jab hingga K.O oleh dollar Amerika. 

Penulis: Subkhi Ridho
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh dan tulisan Esai menarik lainnya di Mojok.co

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2026 oleh

Tags: burungkicau maniaNdarboyndarboy genk
Subkhi Ridho

Subkhi Ridho

Subkhi Ridho, merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti pada bidang komunikasi politik, demokrasi dan media digital, islamisme, etnografi digital.

Artikel Terkait

burung migrasi.MOJOK.CO
Jagat

Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi

9 Mei 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO
Esai

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
s2, kicau mania mojok.co
Sehari-hari

Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur

10 Februari 2026
Anang Batas Memotret Burung di Terpanjat Tak Terperanjat. MOJOK.CO
Kilas

Anang Batas Memotret Burung di Terpanjat Tak Terperanjat

13 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
burung migrasi.MOJOK.CO

Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi

9 Mei 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.