Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Ulasan Smokol

Es Goreng Rasa Mellow van Yogyakarta

Oktavolama Akbar Budi Santosa oleh Oktavolama Akbar Budi Santosa
15 Mei 2017
A A
Es Goreng Rasa Mellow van Yogyakarta

https://mojok.co/okt/ulasan/smokol/es-goreng-rasa-mellow-van-yogyakarta/

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Hellloooooow, ladiesss! Kamu yang cantik berbaju kuning, ayo boleh dicoba es gorengnya. Beli satu cuma tiga ribu, khusus buat kamu yang cantik, tak kasih lima ribu dapat dua!”

Suaranya menggelegar dari pengeras suara, memecah keramaian dan mengundang tawa, tanya, serta kucuran dana. Saya yang saat itu sedang bersama teman-teman SMA di titik nol kilometer Jogja tersentak begitu tahu bahwa yang cantik berbaju kuning itu adalah teman kami. Bergegaslah kami menuju sumber suara, membeli es goreng sembari mengingat masa kecil ketika menikmati es yang sama. Sejuk dan dinginnya es melempar saya kembali ke romansa masa SD ketika masih doyan bongkar-bongkar lemari sekadar mencari recehan demi membeli es goreng.

Iklan

Sebagai orang yang besar dan tinggal di Kabupaten Bantul, bukan hal mengherankan bila saya telah mengenal penjual es goreng satu ini. Mungkin dia satu-satunya penjual es goreng di Provinsi Yogyakarta. Mungkin dia bukan satu-satunya penjual es goreng di Provinsi Yogyakarta, tetapi pengeras suaranya yang khas, mulutnya yang tak bisa diam mempromosikan dagangannya sembari tangannya meracik es goreng—sampai saya heran sendiri, kok bisa orang ngomong berjam-jam nonstop begitu, dan kemunculannya di mana-mana membuat ia jadi penjual es goreng paling legendaris di seantero Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Jika Famili 100 berkenan menyurvei popularitas penjual es goreng satu ini, saya berani pasang taruhan, 9 dari 10 mahasiswa di Yogya pernah menemukannya dan mengingatnya. Nyaris di setiap keramaian ia muncul. Di pasar tumpah Sunday Morning di sekitaran UGM, saat pasar malam menjelang Maulid Nabi, dan tentu saja di tempat mangkalnya, Alun-Alun Selatan Yogyakarta.

Sekian tahun setelah pertemuan semasa SMA itu, yang melemparkan saya pada nostalgia pertemuan demi pertemuan kami saat saya masih SD, situs bedebah yang mati tapi tidak kuat di akhirat lama-lama ini meminta saya untuk menulis tentang es goreng. Dengan didanai doa dan harapan oleh Mojok Institute, saya pun terjun langsung ke lapangan mengamati pedagang dan dagangannya yang legendaris ini. Bersama Pak Gatot, demikian saya akhirnya mendapatkan namanya, interogasi berlangsung selama 2,4 jam tanpa menghasilkan sebuah cerita detektif.

***

Pak Gatot tengah meracik es goreng. (© Oktavolama ABS)

Pertama kali mendengar nama “es goreng”, mungkin akan timbul kerutan di dahi Anda. Makanan macam apa ini? Es tapi digoreng. Enggak masuk nalar, ra mashoook.

Ada baiknya persoalan nama ini jangan dipikir terlalu rumit. Kalau Indomie goreng saja tidak perlu digoreng, es goreng sebenarnya hampir sama.

Es goreng adalah es potong yang dicelup dalam cokelat cair panas. Cokelat yang titik bekunya sekira 25 derajat Celcius itu seketika membeku ketika bertemu es yang bersuhu di bawah nol derajat. Memang cokelat panas ini tidak seperti netizen yang baru coba-coba debat, sulit didinginkan. Pertemuan ini kemudian membentuk lapisan tipis nan crunchy. Ada berbagai varian rasa es yang Pak Gatot jual, yakni original, kacang hijau, blackberry, bahkan durian. Sajian satu ini sejatinya adalah versi asli dari Maknum milik Woles itu. Kalau kamu sukanya Maknum, berarti seleramu selera KW.

Rasa es goreng jangan ditanya, endes bin maknyes bineka tunggal ika. Variasi dingin, renyah, empuk, manis, gurih menyatu tanpa harus menimbulkan perpecahan. Begitu menyentuh lidah, perpaduan es dan kriuknya cokelat akan memijit-mijit indra perasa dengan dinamika lembut dan keras yang mendayu-dayu.

Es goreng yang melegenda tak bisa dilepas dari nama peraciknya, Pak Gatot. Mohon dimengerti bahwa Gatot disini adalah nama asli, bukan singkatan “Gagal Total”. Kalaupun memang sebuah singkatan, “Gagah Total” lebih cocok disematkan kepada pria yang tinggal di Wirobrajan ini.

Mengawali bisnis es potong pada ‘80-an, ia sempat jatuh di tahun 1987, tapi kembali gagah pada 1992 karena mendapat wangsit untuk mengawinkan es potongnya dengan cokelat. Ia mendaku bahwa ini resep temuannya sendiri. Awalnya, kudapan baru barupa es potong yang dicelup dalam cokelat cair ini ia namakan es garing, tetapi kemudian ia memilih menggantinya menjadi es goreng. Waktu membuktikan es goreng lebih punya potensi viral daripada nama sebelumnya.

Yang membuat rasa es ini semakin enak ialah metode penjualannya. Berbekal TOA, Pak Gatot dengan nada khasnya akan memanggil orang-orang yang lewat. “Hellooow, ladies” atau “Hai, bro, mari dicoba esnya” merupakan sapaan andalannya. Pembeli biasanya akan mengerubungi dan aksi selanjutnya dilancarkan. Kalau yang membeli sepasang kekasih, pasti akan diberi bonus.

Jangan pikir bonusnya gasing plastik macam snack Gulai Ayam kegemaran Agus Mulyadi itu. Bonus dari Pak Gatot lebih berfaedah. Kepada mereka Pak Gatot akan memberi doa agar tetap langgeng dan bisa menikah jika masih berpacaran. Tak hanya itu, Pak Gatot juga menambahkan wejangan-wejangan bagi pasangan kekasih tersebut. Pak Gatot selalu menekankan bahwa pacaran cukup dua tahun saja—“Jangan lama-lama!”—lalu menikah. (Gus Mul, Cik Prim, Mas Bana, ingat! Dua tahun saja!)

Sedangkan pembeli yang jomblo sendiri macam saya ini biasanya malah dapat bonus berlebih. Pertama, doa dilancarkan jodoh. Kedua, kalau masih kuliah didoakan agar skripsi lancar, kalau sudah bekerja ya didoakan selalu semangat bekerja. Sering pula ketika pembeli ramai, Pak Gatot akan mengisahkan cerita yang menghibur. Dengan bonus seperti ini, secercah senyum tak pernah terlewatkan dari setiap pembelinya.

Jadi, kalau ada yang mau menikah tapi kok ragu atau sulit jodoh, susah skripsi, kurang penyemangat, silakan beli es goreng Pak Gatot. Ia bisa ditemui di Alun-Alun Selatan tiap sore dan di Sunday Morning UGM tiap Minggu pagi. Setelah es goreng ada di tangan Anda, nikmati sambil resapi setiap memori yang akan muncul ketika lidah sudah menyentuh sejuknya es goreng ini. Ingatlah bahwa tak semua di masa lalu adalah sebuah hal yang buruk. Ingat dan kenanglah, karena itulah salah satu cara agar hidup tetap bahagia. Atau dalam kata-kata Pak Gatot, “Mari kita mengenang yang hampir terlupakan.”

Kenapa makan es goreng bisa jadi semellow ini sih T_T

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2021 oleh

Tags: alkides gorengfeaturedJogjaKulinerMahasiswasunmor
Oktavolama Akbar Budi Santosa

Oktavolama Akbar Budi Santosa

Pengulas mie di @nyaaarimie

Artikel Terkait

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.