Tips Menjalankan Bisnis Keluarga Tanpa Harus Menjadi Beban – Terminal Mojok

Tips Menjalankan Bisnis Keluarga Tanpa Harus Menjadi Beban

Artikel

Menjalankan perusahaan merupakan suatu berkah dan beban tersendiri, khususnya bagi para generasi penerusnya. Sebut saja Bakrie Group atau Kalla Group yang tentu saja bukan lagi nama asing bagi masyarakat. Perusahaan tersebut sudah memiliki reputasi yang tidak main-main, bisnisnya menggeliat di berbagai sektor, penerusnya pun sudah dididik untuk meneruskan lini bisnis keluarga. Luar biasa bukan ?

Atau kalau pembaca sekalian hobi menonton MCU (Marvel Cinematic Universe) tentu Stark Industries atau Pym Tech bukan lagi nama asing. Yap, perusahaan-perusahaan tersebut merupakan perusahaan keluarga awalnya, sampai pada akhirnya terpaksa menjadi perusahaan publik karena tidak adanya minat dari generasi selanjutnya untuk meneruskan bisnis keluarga. Tony Stark yang awalnya mulai concern meneruskan peninggalan Howard Stark, namun memilih untuk menjadi pengabdi masyarakat menjadi Iron Man. Sedangkan Hope Pym, terpaksa tergeser dari dominasi Darren Cross yang lebih terobsesi menjadi Hank Pym.

Saya ambil kedua contoh tersebut, dengan alasan untuk menggambarkan bahwa menjalankan bisnis keluarga butuh niat, kemauan, dan kemampuan dari generasi selanjutnya. Kepala keluarga akan semaksimal mungkin mendidik generasi selanjutnya agar mau dan mampu melanjutkan bisnis keluarga, sebab bisnis keluarga akan lebih baik dikendalikan oleh keluarga sendiri tanpa harus adanya campur tangan dari pihak lain, meskipun mereka merupakan orang yang dapat dipercaya.

Tema ini menarik bagi saya, sebab memecahkan urusan keluarga bukan hanya mengandalkan otak saja, namun hati pun harus turut serta. Di beberapa kesempatan, saya pernah menangani kejadian di mana para generasinya enggan untuk meneruskan bisnis keluarga.

Jika Anda adalah klien saya, maka pertimbangkan hal berikut ini.

Pikirkan dengan matang

Menjalani bisnis keluarga, terkadang menjadi sebuah beban tersendiri bagi para generasi selanjutnya. Beberapa dari mereka, tidak memiliki kesamaan visi meskipun secara bisnis, menjalankan usaha keluarga sangatlah menguntungkan. Bayangkan, di luar sana banyak sekali orang-orang butuh pekerjaan, sementara Anda hanya cukup belajar, memperkuat relasi, lalu meneruskan. Tidak perlu melamar ke sana kemari, sibuk membuka situs pencari kerja, atau masuk ke grup WhatsApp pencari kerja. Anda hanya perlu ongkang-ongkang saja, uang akan mengalir ke rekening dengan sendirinya.

Hal tersebut yang harus Anda pikirkan matang-matang. Membangun bisnis bukanlah perkara mudah, sebut saja kakek atau ayah Anda sudah babat alas dari bawah, kerja keras membangun dari bawah, mendapatkan relasi sedikit demi sedikit, usaha sudah mulai maju dan dikenal, sampai akhirnya memiliki reputasi tinggi di mata masyarakat merupakan pencapaian yang sungguh luar biasa.

Tentu generasi awal, menginginkan adanya tongkat estafet. Usia yang menjadi alasan, memaksa mereka melakukan kaderisasi untuk mempersiapkan tongkat kepemimpinan selanjutnya. Mereka hanya ingin, agar apa yang sudah dicapai selama ini, memiliki penerus dan tidak mandek saat mereka sudah tidak lagi produktif. Hal tersebut, yang haruslah menjadi pertimbangan bagi generasi selanjutnya untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bisnis keluarga.

Terkadang, takdir sulit ditolak. Kalau belum dicoba, kenapa harus tergesa-gesa menolak. Pikirkan kembali secara masak.

Kaya inovasi

Alasan utama mengapa generasi selanjutnya enggan meneruskan bisnis keluarga adalah minat yang berbeda. Misal, ada sebuah keluarga membangun kerajaan bisnis fashion dengan reputasi yang mendunia, namun memiliki generasi penerus lulusan Teknik Sipil. Motif awal sudah jelas, perbedaan minat dan bakat. Generasi penerus ragu, bila dia memaksakan untuk melanjutkan bisnis tersebut, di samping riwayat akademiknya tidak cocok, dia tidak punya kemampuan untuk menjalankan bisnis tersebut yang dikarenakan tidak memahami dunia fashion. Please deh, hari gini masih idealis. Kebanyakan nonton Si Doel kamu.

Mempelajari dunia bisnis itu tidak seperti belajar seperti perkuliahan, yang harus tau apa definisinya, bagaimana implementasinya, dan bagaimana sejarahnya. Perlu diingat, kalau belajar bisnis, pelajari bagaimana ritme dan alurnya, target jangka panjang dan pendeknya, lalu perkaya inovasinya. Kalau teori–teori begitu cukup mahasiswa saja.

Kita hidup dalam era di mana semua orang harus jadi serba bisa. Saya termasuk golongan yang menentang bekerja harus sesuai passion. Tidak begitu, yang betul adalah bekerja sesuai dengan yang kita mampu. Pada dasarnya, kita semua mampu mengerjakan apa yang sebetulnya kita tidak mau. Sekali lagi, kita hidup di mana semua harus serba bisa dan serba cepat, yang penting menghasilkan. Saya jamin, mungkin para redaktur atau editor di Mojok pun tidak semua punya basic atau latar belakang perkuliahan di subjek yang sama dengan pekerjaannya. Saya yakin mereka punya kemauan dan kemampuan, ya selebihnya mungkin ada passion ya. Sedikit-sedikit.

Kalau Anda sudah mentok dan betul-betul tidak ingin menjalani lini bisnis sebelumnya, Anda bisa membuat lini bisnis baru sebut saja seperti kontraktor, pengembang real estate, atau bisnis lainnya yang merupakan bidang Anda di bawah kendali perusahaan yang sama. Tinggal Anda serahkan bisnis tersebut ke orang kepercayaan (terpaksanya) namun dengan kendali, keputusan, dan pengawasan di bawah titah Anda.

Inovasi itu tidak hanya perkara produk saja, tapi bisa dalam bentuk ide dan strategi.

Perkuat komunitas dan reputasi

Jika Anda merupakan generasi penerus dari bisnis dengan reputasi tingkat tinggi, maka pekerjaan Anda merupakan beban yang cukup besar. Relasi atau partner bisnis Anda, pasti tidak akan segan-segan membandingkan Anda dengan generasi sebelumnya, bisa ayah atau kakek anda. Mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap kemampuan Anda dalam berbisnis. Tapi, salah besar jika Anda berusaha untuk menyamai karakter generasi sebelumnya.

Jadilah diri Anda sendiri, dengan karakter yang menyenangkan di hadapan relasi bisnis lainnya, buat mereka nyaman dengan karakter yang Anda miliki tanpa berusaha untuk menyamakan peran ayah atau kakek Anda di hadapan mereka. Orang bisnis paham akan cara mereka berkomunikasi dan menjalin hubungan, mereka pasti paham Anda bukanlah ayah atau kakek anda, Anda ya anda. Selesai.

Dengan membangun koneksi yang luas, komunikasi yang menyenangkan, bergabung dengan komunitas yang sama, maka Anda memiliki jaringan yang luas sama halnya dengan ayah atau kakek Anda menjalin hubungan baru dengan relasi atau kawan bisnisnya.

Membangun relasi itu sebetulnya mudah kok, asal jangan berusaha untuk menjadi orang lain, menjadi diri sendiri merupakan salah satu pribadi dan karakter seorang pengusaha yang tangguh, beban pasti ada, tapi jangan jadikan beban itu sebagai sebuah tanggung jawab. Jadikan beban itu sebagai tolok ukur sebuah kesuksesan. Kalau Anda melampaui beban tersebut maka tujuan Anda sudah tercapai, lalu tugas selanjutnya adalah menjaga dan meningkatkan kesuksesan.

Pelajari kelemahan, perbaiki kesalahan, pertahankan keberhasilan

Keuntungan menjalani bisnis keluarga adalah Anda bisa mempelajari apa yang menjadi kelemahan dan kesalahan dari generasi sebelumnya. Dengan mempelajari hal-hal tersebut, Anda sudah belajar dari pengalaman tanpa harus bertanya langsung kepada guru Anda. Hubungan relasi berpotensi merenggang apabila budaya kesalahan dan kelemahan dari generasi sebelumnya masih diteruskan oleh generasi selanjutnya. Mitra bisnis akan senang tentunya apabila terjadi perubahan yang berdampak positif kepada hubungan kerja, dengan hal tersebut maka mempelajari kelemahan dan kesalahan adalah tugas generasi penerus untuk terus membina hubungan baik dengan mitra bisnis.

Selain mempelajari kelemahan dan memperbaiki kesalahan, Anda dituntut untuk terus mempertahankan prestasi dari generasi sebelumnya. Jangan jadikan hal ini beban, ingat. Jadikan hal tersebut sebagai tolok ukur dan pecutan untuk terus bekerja mencapai kesuksesan. Mitra bisnis akan senang jika reputasi dan hubungan yang dibina semakin dipererat dengan kualitas kerja yang sepadan. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan yang sudah disiapkan untuk masa depan Anda.

BACA 4 Persiapan saat Memulai Bisnis Baru JUGA dan tulisan Muhammad Abdul Rahman lainnya. 

Baca Juga:  Han Bin Hengkang dari iKON: Belajar Budaya Malu dari Korea Selatan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.