Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
3 Juni 2026
A A
Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar? (Pixabay)

Share on FacebookShare on Twitter

Inflasi IPK nyatanya memang ada, karena institusi pendidikan tinggi makin hari makin terlihat seperti penyedia jasa

Dulu, kalau ada mahasiswa yang lulus dengan IPK 3,8 pasti jadi berita hangat seantero kampus. Orang tuanya mungkin bakal bikin syukuran potong tumpeng saking langkanya prestasi tersebut diraih. Waktu jadi mahasiswa di tahun 2006, saya pun meyakini kalau angka 3,8 itu adalah puncak pencapaian yang cuma bisa dicapai oleh manusia terpilih dengan jam tidur lebih sedikit dibanding jam belajarnya.

ADVERTISEMENT

Sialnya, dua puluh tahun kemudian, semuanya tampak berbeda. IInflasi IPK bikin IPK 3,8 rasanya sudah seperti syarat minimal buat melamar kerja. Bahkan, kadang masih dianggap medioker oleh tim HRD. Membandingkan perbedaan tersebut, saya merasa saat ini sedang hidup di era di mana nilai A seolah diobral di pasar malam. Barangkali, transkrip nilai yang nggak penuh angka empat wajib disembunyikan layaknya aib.

Mereka yang naif mungkin beranggapan kalau mahasiswa sekarang memang jauh lebih cerdas. Gizi tercukupi, fasilitas juga mumpuni. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa standar pendidikan sekarang saja yang tengah mengalami inflasi besar-besaran. Dan saya memilih buat setuju opini kedua.

Nilai A yang sudah nggak sakti dan bikin iri lagi

Hari ini, inflasi IPK bikin predikat cumlaude bukan lagi penanda kalau mahasiswa itu adalah insan jenius yang telah menguasai esensi mata kuliah sepenuhnya. Jujur saja, dulu dosen memberikan nilai A sebagai apresiasi atas pemikiran orisinal atau analisis yang tajam. Komponen pengukurannya seabrek. Bukan hanya nilai saat ujian. Tapi juga partisipasi di kelas, tugas individu setiap minggu, dan proyek presentasi kelompok dengan bobot yang berbeda-beda.

Sekarang, nilai A nggak lagi eksklusif. Mahasiswa yang mahir memahami kemauan dosen sering kali lebih mudah menggapai nilai A dibandingkan mahasiswa yang kritis atau eksploratif di luar jalur kurikulum. Mereka cuma perlu datang dan memenuhi jatah absensi minimal.

Soal ujian? Cukup pinjam catatan teman dan belajar semalam sebelumnya. Voila, nilai A sudah pasti di tangan. Tentu, ini bukan salah mahasiswa. Bisa jadi, kriteria penilaian yang semakin ringkas ini disebabkan pula dosen yang ogah repot melakukan kalkulasi masing-masing variabel penilaian. Toh, tugas di luar mengajar saja sudah segunung.

BACA JUGA: Bisa Dapat IPK Cum Laude dan 3 Alasan Lain yang Bikin Kuliah di Kampus “B-aja” itu Enak

Baca Juga:

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan

Dosen adalah instrumen penyedia jasa, bukan murni seorang pendidik

Inflasi IPK disumbang banyak oleh perubahan sistem pendidikan di masa kini. Dalam pengalaman saya selama menjadi mahasiswa dan berkecimpung di dunia akademik, ada pergeseran struktural yang menarik tapi sedikit mengenaskan. Dulu, dosen adalah otoritas tertinggi dalam transfer ilmu.

Percayalah, pernah ada anggapan bahwa dosen yang pelit nilai adalah dosen yang dianggap punya integritas tinggi dan standar akademik yang kokoh. Maka, kalau di akhir semester seorang mahasiswa hanya dapat nilai C, ia kudu mengakui bahwa pemahamannya memang dangkal.

Sekarang, narasi itu sudah bertransformasi. Institusi pendidikan tinggi makin hari makin terlihat seperti penyedia jasa. Sementara, mahasiswa adalah pelanggannya. Hal ini sebenarnya nggak aneh. Sebab, di beberapa artikel jurnal internasional bereputasi, memang ada penelitian yang mengemukakan bahwa institusi pendidikan sejatinya adalah suatu bentuk bisnis juga.

Artinya, ketika kepuasan pelanggan menjadi indikator utama dalam evaluasi dosen, maka dosen berada dalam posisi yang sangat rentan. Bayangkan seorang dosen yang ingin mempertahankan standar akademik yang tinggi. Tugas yang diberikan menantang pemikiran kritis mahasiswa, koreksinya teliti, dan nilainya benar-benar objektif. Niscaya, evaluasi dosen di akhir semester berpotensi anjlok.

Ujungnya, julukan dosen killer pun disematkan pada seorang pengajar yang pada hakikatnya idealis. Memang, beberapa dekade lalu, predikat ini boleh jadi adalah sebuah kehormatan. Namun sekarang, sebutan ini justru lebih mirip kutukan.

Inflasi IPK memang nyata

Oleh karena itu, nggak sedikit dosen yang memilih jalan pintas. Ketimbang repot menghadapi protes, debat kusir dengan mahasiswa yang merasa berhak dapat nilai bagus hanya karena sudah mengumpulkan tugas, atau ditegur pihak birokrasi kampus yang khawatir mahasiswanya nggak lulus tepat waktu, lebih aman jika semua diberi nilai A atau A-. Miris, tapi memang itu fakta.

Jangan salah, memiliki IPK tinggi bukan sebuah dosa. Namun, terjebak dalam ekosistem di mana nilai tinggi bukan lagi hasil dari pertukaran ilmu yang intens adalah proses pembodohan diri yang paling kronis. Sebab, dunia di luar kampus nggak mengenal sistem SKS.

Dunia kerja punya cara yang jauh lebih brutal untuk menyeleksi manusia. Jadi, jangan terlalu bangga menjadi sarjana yang cuma unggul di atas kertas. Tapi, loyo saat dibentrokkan dengan realitas.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK, tapi Masih Bingung Mau Jadi Apa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2026 oleh

Tags: Doseninflasi IPKipksistem pendidikan
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Dear Bapak Ibu Dosen, Jangan Menilai Mahasiswa dari Keaktifan Bertanya setelah Presentasi. Mahasiswa Zaman Sekarang Pintar Membodohi, lho

Dear Bapak Ibu Dosen, Jangan Menilai Mahasiswa dari Keaktifan Bertanya setelah Presentasi. Mahasiswa Zaman Sekarang Pintar Membodohi, lho

22 Oktober 2023
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
menyikapi dosen yang tak pernah praktik kerja berdebat dengan dosen

Panduan untuk Berdebat dengan Dosen yang Konservatif dan Moderat

9 April 2020
Saran untuk Pembimbing Skripsi yang Mahasiswanya Ngebet Wisuda

Saran untuk Pembimbing Skripsi yang Mahasiswanya Ngebet Wisuda

28 Desember 2019
Benang Kusut Kompetisi Hibah Riset dari Pemerintah: Proses Seleksi Kurang Transparan hingga Tanggung Jawab Pemenang yang Terlalu Ribet Mojok.co

Benang Kusut Kompetisi Hibah Riset dari Pemerintah: Proses Seleksi Kurang Transparan hingga Tanggung Jawab Pemenang yang Terlalu Ribet

12 Juni 2025
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

Alasan Sebenarnya Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Ratusan Halaman

10 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial Mojok.co

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial

13 Juli 2026
Sebagai Warga Jogja, Pantai Bantul Lebih Menarik untuk Dikunjungi Dibanding Pantai Gunungkidul

Sebagai warga Jogja, pantai Bantul lebih menarik untuk dikunjungi dibanding pantai Gunungkidul

9 Juli 2026
Pengakuan jujur saya sebagai orang Semarang menghadapi kuliner kambing Tegal yang garang Mojok.co

Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal

7 Juli 2026
Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya Mojok.co

Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya

10 Juli 2026
Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan Mojok.co

Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan 

8 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.